แชร์

Bab 112

ผู้เขียน: Lavenhaze
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-16 09:01:52

Aneya menggigit bibir pelan sebelum pandangannya beralih pada tas yang menggantung di lengan. Jemarinya mencengkeram tali tas itu sedikit lebih erat, sementara napas panjang keluar begitu saja dari bibirnya tanpa sempat ia tahan. Di tengah sambungan telepon yang masih berlangsung, embusan napas berat itu terdengar cukup jelas, kemungkinan besar sampai ke telinga Ravin.

“Aku … membawa barang bukti itu bersamaku sekarang,” bisik Aneya pelan sambil menunduk.

“Kenapa kau membawanya sekarang? Ap
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 192

    “Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 191

    “Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 190

    “Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 189

    “Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 188

    Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 81

    “Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 74

    “Aku serius,” jawab Ravin, “memaksakan diri hanya akan memperparah dan membuatmu semakin lelah.” Mereka akhirnya tiba di depan pintu ruangan Aneya. Ravin dengan cepat meraih gagang pintu dan membukanya, pria itu mempersilakan Aneya untuk masuk. “Padahal kau tidak perlu repot-repot seperti itu,”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status