"Cepat sembuh, Nyonya Siska. Aku benci melihatmu lemah dan tidak berdaya seperti ini, karena hanya aku yang boleh membuatmu berlutut, bukan rasa sakitmu." Gema suara Arga semalam seolah masih bergetar di udara kamar yang kini terasa sangat luas bagi Siska. Ketika ia terbangun pagi ini, demamnya memang sudah turun drastis. Siska menyentuh keningnya sendiri, merasakan sisa-sisa kehangatan dari kecupan Arga yang masih membekas di sana. Ia melihat ke arah nakas, botol air mineral dan sisa roti yang disiapkan Arga masih ada di sana, menjadi bukti bisu bahwa keberadaan pria itu kemarin bukanlah sekadar mimpi dalam igauan demamnya. Siska menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar diperhatikan. Bukan sebagai pajangan, bukan sebagai ibu dari Grace, melainkan sebagai seorang manusia yang sedang butuh pertolongan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pukul sepuluh pagi, sua
Last Updated : 2026-03-13 Read more