Jantung Siska berdebar sangat kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam dadanya. Siska meremas tali tas tangannya, mencoba mengatur napas agar terlihat tenang. Ia merasa seolah ada tulisan "Pengkhianat" yang tercetak jelas di dahinya. Begitu ia melewati ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Hendri ada di sana. Suaminya itu duduk santai di sofa kulit, sedang membaca koran bisnis dengan segelas kopi di sampingnya. Pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun kali ini terasa seperti sebuah jebakan bagi Siska. "Baru pulang, Siska? Aku pikir kamu akan sampai sore nanti," ucap Hendri tanpa menoleh dari korannya. "Iya, acaranya selesai lebih cepat dari jadwal. Udara di gunung mulai terlalu dingin, jadi kami dipulangkan lebih awal," jawab Siska dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin. Siska mencoba berjalan cepat menuju tangga, berharap bisa segera masuk ke kamar dan menghilangkan semua jejak Arga di tubuhnya. Namun, saat ia melintasi sofa tempat Hendri
Last Updated : 2026-04-06 Read more