Cahaya lampu putih yang sangat terang membelah tirai hujan di jalan tol yang gelap itu. Siska masih meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Di belakangnya, deru mesin mobil sport yang berat terdengar mendekat, lalu berhenti dengan suara decitan halus yang menunjukkan kelasnya. Arga tidak menunggu hujan mereda. Pria itu keluar dari mobil sport hitamnya, membiarkan jaket kulit hitamnya basah kuyup dalam sekejap. Ia melangkah lebar, seolah badai di sekelilingnya hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Saat pintu mobil Siska dibuka, aroma hujan yang dingin menyeruak masuk, bercampur dengan aroma parfum maskulin Arga yang tajam dan menenangkan. "Pindah ke mobilku, Siska," suara Arga terdengar berat, mengatasi suara guntur yang baru saja menggelegar di kejauhan. Siska mendongak dengan tatapan kosong. Matanya merah dan bengkak. "Arga, aku... aku bisa menyetir sendiri nanti kalau aku sudah tenang." Arga tidak membantah dengan kata-kata. Ia
Last Updated : 2026-03-15 Read more