Saat ini, Arga tidak mengucapkan satu patah kata pun. Tidak ada makian, tidak ada bentakan, dan tidak ada tamparan. Namun, kesunyian yang dibawa Arga jauh lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan mana pun. Siska duduk meringkuk di sudut ranjang. Matanya merah dan bengkak. Dan Arga akan muncul dengan tatapan yang bisa membekukan darahnya. Pagi berganti siang, dan Arga benar-benar menganggap Siska tidak ada. Siska mendengar suara aktivitas di luar kamar. Suara mesin kopi yang bekerja, suara denting piring, dan suara televisi yang menyiarkan berita bisnis. Siska kelaparan, namun dia terlalu takut untuk keluar. Akhirnya, karena rasa lapar yang tidak tertahankan, Siska memberanikan diri membuka pintu. Dia berjalan pelan menuju dapur. Arga sedang duduk di meja makan, menikmati sepiring pasta yang aromanya sangat menggugah selera. "Ga..." panggil Siska dengan suara parau. Arga tidak menoleh. Dia terus mengunyah makanannya dengan tenang sambil membaca koran digital di tabletnya.
Read more