Dokter itu berdiri dengan tegap, tapi Elara tidak fokus pada apa yang dia katakan. Matanya mencuri-curi pandang ke arah pintu kamar. Harapannya hanya satu, tapi sudah tahu betul bahwa harapan itu kemungkinan besar akan hancur berkeping-keping. “Untuk sementara, kondisimu sudah stabil,” jelas dokter itu sambil melihat catatan di mapnya. “Kamu boleh pulang dan rawat jalan. Tapi obatnya harus diminum teratur, hindari situasi yang membuatmu stres, dan jangan lupa kontrol ulang minggu depan ya.” Elara mengangguk perlahan, ujung bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum kecil. Ada rasa lega yang mengalir di dalam dirinya, tapi rasa lega itu tidak sempurna, seperti ada batu yang tertanam di dalam hatinya. “Kalau saja semua masalah bisa hilang begitu saja bersama rasa sakit di lambungku,” gumamnya pelan. “Kalau ada keluhan apapun setelah pulang. Mulai dari mual yang tak tertahankan sampai rasa sakit yang muncul lagi, jangan ditahan,” lanjut dokter itu dengan nada yang penuh perhatian
Last Updated : 2025-12-30 Read more