Ellena mengalihkan tatapannya sekilas, mengatupkan bibir, memikirkan jawaban dari pertanyaan Reon. Sementara itu, Reon menarik wajahnya dari leher Ellena, tapi wajahnya singgah beberapa inci dari wajah gadis itu. "Itu… karena…" Ellena menatap Reon, berusaha membuat lelaki itu percaya, "…parfum saya mudah ditemukan dan memang lagi viral, Pak, jadi pasti banyak yang pakai.""Oh ya?" sorot mata Reon tetap dingin. "I–ya, Pak."Reon menarik napas dengan tatapannya terpaku pada wajah Ellena, iris hitamnya memandangi bola mata, hidung tinggi, lekuk bibir lalu kembali ke mata gadis itu. Tidak sadar jakun lelaki itu naik turun. Ellena selalu saja membuatnya ingin menuntut lebih.Reon akhirnya meluruskan punggung, memasukkan kedua tangan dalam saku. Dia harus mengendalikan diri kali ini. "Oke," sahutnya datar. Setelah menyimpan apron kembali ke tempat semula, Reon melangkah menjauh. "Segera bawa perempuan itu ke hadapan saya,
Last Updated : 2026-01-08 Read more