Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 107 - Model Vs desainer Galak

Share

Bab 107 - Model Vs desainer Galak

Author: Pipin
last update Last Updated: 2026-01-28 15:18:46

​Sore itu di studio baru "Boy’s Touch", Boy sedang sibuk dengan kapur jahitnya di atas kain beludru. ​Tiba-tiba, pintu kaca studionya terbuka dengan denting lonceng yang kencang. Masuklah Nabila dengan gaya catwalk seolah-olah lantai studio itu adalah panggung Paris Fashion Week.

​"Boy! Miss me?" seru Nabila sambil melepas kacamata hitamnya dan mengibaskan rambutnya yang berkilau.

​Boy bahkan tidak mendongak. Ia hanya menghela napas panjang, sangat panjang sampai pundaknya merosot.

"Eh, lo lagi, Bil? Lo mau apa lagi ke sini? Nggak ada kerjaan? Nggak ada sesi foto di kutub utara gitu?"

​Nabila mencebikkan bibirnya, lalu duduk di atas meja potong Boy dengan gaya yang sangat anggun namun tidak sopan."Kita kan baru saja menandatangani kontrak sangat besar tadi pagi, Boy. Masa aku nggak boleh mengunjungi 'investasi' berhargaku ini?"

​"Investasi, investasi... dengar ya, Nabila si Anak Sultan," Boy akhirnya mendongak, menunjuk Nabila dengan kapur jahitnya. "Kontrak itu isinya kerjaan, bukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 110 - Merelakan

    "Mas, kita ke rumah sakit sebentar boleh?" tanya Maya memecah keheningan.​Abil melirik jam di dasbor. "Tapi ini sudah malam, May. Kamu yakin? Memangnya mau ke mana?"​"Aku mau ke tempat Mbak Cia, sepupunya bos aku, Elian. Walau bagaimanapun, aku kan mantan sekretaris Elian, Mas. Nggak enak kalau nggak jenguk," ucap Maya pelan.​Abil terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat. "Kamu yakin itu alasannya?"​Maya menoleh, menatap suaminya dengan tatapan jengah. "Kamu masih saja cemburu ya, Mas?"​"Katakan, Maya. Apa yang bisa membuatku menyingkirkan perasaan ini?" suara Abil mendadak merendah, sarat akan keputusasaan. "Pernikahan kita sudah sebulan lebih, dan aku masih tidur di sofa, kadang di kamar satu lagi. Aku suamimu, May. Tapi aku merasa seperti tamu di rumah kita sendiri."​"Aku nggak pernah menolak kalau kamu mau menyentuhku, Mas," sahut Maya, mencoba membela diri. ​"Kamu nggak menolak, itu cuma mulutmu, May. Tapi tubuh dan hatimu tidak bisa berbohong," Abil tertawa getir

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 109 - Keluarga Baru

    ​"Ayo Boy... kita tinggalkan saja orang-orang yang nggak tahu cara menghargai seni ini. Kita punya urusan yang lebih penting di rumah sakit," ucap Nabila ketus sambil memberikan lirikan maut terakhir pada Abil yang mematung.​"Lebih penting?" Boy mencibir, meski kakinya tetap melangkah mengikuti tarikan tangan Nabila. "Lo kenal emangnya ama Cia? Bilang aja lo cuma mau modus biar bisa dekat-dekat gue terus, kan?" canda Boy dengan nada melengking khasnya.​Nabila tidak melepaskan genggamannya, ia justru menoleh dan mengerling nakal. "Ya penting dong! Kan aku mau lihat keluarga aku di masa depan. Siapa tahu nanti anak Cia manggil aku 'Tante Cantik' dan manggil kamu 'Paman Pelit'."​Boy hampir tersedak ludahnya sendiri. "Hah?! Emang siapa yang mau nikah ama lo? Ogah! Hidup gue sudah cukup penuh drama, nggak butuh tambahan drama ratu kapal kayak lo!"​"Yah, Boy... kamu kok gitu sih? Aku ini paket lengkap, lho. Paket cantik, kaya, dan setia kawan. Masa ditolak mentah-mentah?" goda Nabila sa

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 108 - Pertemuan Tak Diinginkan

    Ruang bersalin itu mendadak berubah menjadi arena gulat. Cia, yang biasanya bicara dengan nada selembut sutra dan aura sekelas putri keraton, kini berubah menjadi singa betina yang sedang kehilangan kesabaran. Keringat membanjiri pelipisnya, dan setiap kali kontraksi datang, tangannya mencari apa pun untuk diremas.​Sayangnya, "apa pun" itu adalah Adam.​"AAAKHHH! ADAM! INI SAKIT BANGET, TAHU NGGAK?!" teriak Cia sambil tangannya melesat cepat menjambak rambut Adam yang baru saja ditata rapi pakai pomade mahal.​"Aduh! Aduh! Sayang! Ratu! Ampun!" Adam mencoba melepaskan cengkeraman tangan Cia, tapi tenaganya kalah telak dari kekuatan ibu hamil yang sedang pembukaan tujuh. "Sayang, sayang! Kamu mau bunuh aku, hah? Kamu mau anak kita lahir lihat bapaknya sudah gundul duluan? Ini rambut asli, Sayang, bukan wig!"​"DIAM! KAMU SIH, PAKAI ACARA BIKIN ANAK SEGALA! SEKARANG AKU YANG MULES, INI BENTUK TANGGUNGJAWAB,PAHAM?!" Cia berpindah target. Tangannya yang mungil kini mencubit hidung Adam d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 107 - Model Vs desainer Galak

    ​Sore itu di studio baru "Boy’s Touch", Boy sedang sibuk dengan kapur jahitnya di atas kain beludru. ​Tiba-tiba, pintu kaca studionya terbuka dengan denting lonceng yang kencang. Masuklah Nabila dengan gaya catwalk seolah-olah lantai studio itu adalah panggung Paris Fashion Week.​"Boy! Miss me?" seru Nabila sambil melepas kacamata hitamnya dan mengibaskan rambutnya yang berkilau.​Boy bahkan tidak mendongak. Ia hanya menghela napas panjang, sangat panjang sampai pundaknya merosot."Eh, lo lagi, Bil? Lo mau apa lagi ke sini? Nggak ada kerjaan? Nggak ada sesi foto di kutub utara gitu?"​Nabila mencebikkan bibirnya, lalu duduk di atas meja potong Boy dengan gaya yang sangat anggun namun tidak sopan."Kita kan baru saja menandatangani kontrak sangat besar tadi pagi, Boy. Masa aku nggak boleh mengunjungi 'investasi' berhargaku ini?"​"Investasi, investasi... dengar ya, Nabila si Anak Sultan," Boy akhirnya mendongak, menunjuk Nabila dengan kapur jahitnya. "Kontrak itu isinya kerjaan, bukan

  • Kesayangan Tuan Elian   bab 107 - Perisai

    Beberapa minggu setelah badai hukum dan kesehatan menghantam Hendra, suasana mulai mencair.​Elian berjalan menggandeng Rinjani. Ia bisa merasakan istrinya itu sedikit tegang, mengingat ini adalah kali pertama Rinjani akan bertemu dengan keluarga besar Elian yang "legendaris" itu.​"Tenang saja. Cia itu berbeda dengan ayahnya. Dan Adam... yah, kamu akan lihat sendiri nanti," bisik Elian menenangkan.​Dari kejauhan, Elian melihat sosok wanita dengan maternity dress berwarna cream yang sangat elegan. Meski perutnya sudah sangat besar—memasuki bulan kesembilan—Cia tetap memancarkan aura kelas atas yang tenang. Di sampingnya, Adam tampak sibuk menenteng lima tas belanjaan bayi dengan wajah yang separuh tertutup kotak stroller.​"Mas Elian?" sapa Cia lembut.​Elian menghentikan langkah. Matanya membelalak tak percaya. "Cia? Ya ampun... ini beneran kamu? Kamu sudah sebesar ini?"​Elian segera menghampiri dan memeluk sepupunya dengan hati-hati. Rinjani berdiri di samping, tersenyum melihat m

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 106 - Nabila

    "Selamat Maya, Abil. Akhirnya kalian sampai juga di titik ini. Serasi sekali," ucap salah satu kerabat Abil sambil menyalami keduanya di pelaminan.​"Terima kasih, Ndah," jawab Maya singkat dengan senyum yang dipaksakan.​Maya terus mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk ballroom. Di balik kemegahan lampu kristal dan riuh musik orkestra, hatinya masih berharap pada satu siluet.Apa aku benar-benar sudah gila ya, mengirim undangan itu ke Mas Boy? Tapi aku hanya ingin melihatnya sekali saja, setidaknya untuk berpamitan secara layak, batin Maya perih.​Di tengah lamunannya, perhatian para tamu mendadak teralihkan. Seorang wanita cantik dengan langkah anggun melintasi karpet merah menuju pelaminan. Dia adalah Nabila, model papan atas sekaligus kolega bisnis keluarga Abil. Namun, bukan kecantikannya yang menjadi bahan bisikan, melainkan gaun yang ia kenakan.​Gaun itu luar biasa. Sebuah perpaduan antara potongan modern yang tajam dengan detail sulaman tangan yang sangat rumit, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status