"Tuan Elian. Tuan tidak membeli saya. Tuan meminjam saya. Dan sebagai imbalannya, saya akan menjadi yang paling jujur pada Tuan.""Nyonya Kirana sudah pergi, Tuan. Sekarang waktunya Tuan memilih. Maukah Tuan memberi ruang untuk diri Tuan sendiri, atau Tuan akan tetap menjadi tawanan dari foto ini?""Rinjani..." Suara Elian terdengar hangat, bukan lagi dingin, tetapi dipenuhi kebingungan.Elian menarik napas dalam-dalam. Ia harus jujur, meskipun menyakitkan."Rinjani, aku tidak mencintaimu," ucap Elian, suaranya tenang, tetapi menyakitkan."Saya tahu," jawab Rinjani datar, tidak ada air mata, tidak ada nada terluka. Ia telah menerima fakta itu sejak lama."Tapi," lanjut Elian, matanya menunjukkan gejolak batin. "Saat kamu pergi, saya merasa kehilangan.""Tuan kehilangan wadah, yang biasa Tuan gunakan, itu wajar, bukan? itu artinya saya berfungsi dengan baik."Jawaban Rinjani membuat amarah Elian meledak—bukan ama
Baca selengkapnya