"Kamu sudah berjanji, Rinjani..." bisik Elian parau. Ia terduduk di atas tumpukan kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa kamu pergi? Kamu tidak benar-benar menghilang, kan?"Ketakutan kehilangan membuat pertahanan Elian runtuh. Bahunya berguncang, menangis tanpa suara di tengah reruntuhan itu. "Aku datang untuk menjemputmu... aku sudah berubah," rintihnya pelan."Aku tidak ke mana-mana. Aku sudah berjanji menunggumu, kan?"Suara itu memecah kesunyian. Elian mendongak cepat. Di belakangnya, berdiri Rinjani dengan caping di tangan. Kakinya kotor oleh tanah kebun, namun matanya menatap Elian dengan binar yang tulus.Elian segera bangkit dan memeluk Rinjani erat, seolah takut wanita itu akan menguap jika dilepaskan. Ia membenamkan wajah di ceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma yang sangat ia rindukan."Rinjani... aku pikir kamu..." Elian tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.Rinjani membalas pelukan itu, mengelus punggung Elian yang masih gemetar. "Rumah in
最終更新日 : 2025-12-26 続きを読む