“Sudahlah, sekarang kamu masuk. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu juga harus menyayangi tubuhmu,” ucap Alya memecah keheningan subuh itu. Rama menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa kesulitan mengelola bisnis ayahnya. Apalagi setelah menemukan beberapa kejanggalan dalam laporan keuangan tadi, kepalanya terasa semakin pening. “Kamu jangan khawatir. Ibu akan membantu semua prosesmu,” tambah Alya lagi. Rama menoleh, menatap mertuanya dengan tatapan tak percaya. “Yuk, masuk dulu. Lihat, sudah hampir pagi. Apa kamu mau di sini sampai matahari terbit, hm?” Alya kembali membujuk, berusaha mengembalikan semangat menantunya. “Bu… apa aku akan mampu?” lirih Rama. Suaranya terdengar ragu, seolah kepercayaan dirinya mulai runtuh. Alya mengangguk mantap. Tanpa banyak bicara, ia membantu membereskan ketiga laptop itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas masing-masing. “Tidurlah denganku,” bisik Alya pelan. Rama menoleh dan tersenyum penuh arti, sorot matanya
続きを読む