Share

PUAN SRI SOFIA

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-02-28 22:56:39

Rama mengernyit saat melihat layar ponselnya.

“Tumben…” gumamnya pelan ketika menyadari puluhan panggilan tak terjawab.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menelepon balik. Beberapa kali panggilannya tak diangkat. Hingga akhirnya, suara lembut itu terdengar.

“Iya, Bu? Maaf… tiga hari ini aku benar-benar nggak sempat pegang ponsel,” ucapnya merasa bersalah.

“Ibu khawatir sekali, Ram,Ibu kira kamu nggak akan kembali lagi ke sini,” sahut Alya di sebrang sana dengan nada yang terdengar begitu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   HAL YANG SIA SIA

    Dua hari sudah rama di Malaysia, dan Anggita benar-benar menjadi pelayan bagi Rama. Mulai dari menyiapkan segala keperluan, mencuci baju kotor, hingga membereskan piring bekas makan, semuanya ia babat habis. Hal itu cukup pembuktian pada Anggita jika Rama tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Di meja makan, seluruh hidangan untuk Rama disiapkan sendiri oleh Anggita. Melihat pemandangan itu, Sofia langsung meradang. Dengan wajah memerah menahan amarah, ia menggebrak meja dengan keras. Brak! ​Semua mata menoleh padanya, termasuk Tansri yang baru saja hendak menyuapkan potongan ayam bakar ke dalam mulutnya. ​"Apa-apaan kamu?" tanya Tansri heran. Matanya menatap tegas ke arah Sofia, membuat wanita itu sedikit gemetar. ​"Sayang, lihat! Kamu membiarkan putriku melayani putramu?" Sofia memprotes. Ia bahkan lupa siapa dirinya sebenarnya. Sesaat, ia tidak sadar bahwa sesayang apa pun Tansri padanya, pria itu tidak akan membiarkan siapa pun mengatur atau menginjak-injaknya.

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MENGERJAI ANGGITA

    Sementara itu, Rama menatap datar ke arah balkon. Tangannya meremas kuat pagar besi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggertakkan rahang, merasa kecewa dengan perkataan papanya yang seolah-olah buta; membela kedua perempuan ular itu dan menyalahkannya terus-menerus. ​Ia tak bisa diam saja. Ia tak akan membiarkan papanya terjerumus lebih dalam. Apalagi ia tahu, di dalam aset kekayaan papanya, terdapat harta peninggalan mendiang ibunya—bahkan hampir seluruhnya adalah milik ibunya. ​"Bagaimana bisa Papa tak menyadari kelakuan mereka?" pikirnya heran. ​Namun, setelah merenung cukup lama, Rama mulai memahami. Tansri adalah pria yang hancur setelah kehilangan dua orang tersayangnya: Lili dan dirinya. Rama mengangguk paham; dulu Sofia datang tepat saat Tansri berada di titik terendah, saat ia kehilangan putra tunggalnya dan didera duka mendalam akibat kematian istrinya yang tragis. ​Di masa sulit itulah, Sofia dan Anggita memainkan peran dengan sangat sempurna sebagai istri dan

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   AYAH DAN ANAK

    ​"Apa yang kamu katakan pada istri Papa?!" ucap Tansri sambil melangkah mendekat ke arah Sofia dan Rama. Tatapannya menghunus tajam ke arah putra tunggalnya itu. ​"Dia itu ibumu, Ram! Jaga ucapanmu padanya. Kenapa kamu jadi seperti ini?" ​"Tidak apa-apa, Mas. Jangan terlalu kasar... aku paham kenapa dia belum bisa menerimaku," sela Sofia dengan nada yang dibuat-buat lemah, padahal jelas sekali dialah yang memicu pertikaian tadi. ​"Pa..." ​Ucapan Rama menggantung di udara saat tangan sang ayah terangkat ke atas, mengisyaratkan perintah untuk diam. ​"Sofia, masuk!" titah Tansri. Pandangannya masih terkunci rapat pada Rama. ​Sofia mengangguk dengan senyum puas yang tersembunyi, lalu melenggang pergi. Sepeninggal Sofia, suasana menjadi makin tegang saat ayah dan anak itu saling berhadapan. ​"Papa tak pernah ingin kita bertengkar, Ram. Apalagi kita baru bertemu setelah puluhan tahun kamu hilang. Tapi kenapa kamu berubah? Perasaan saat pertama bertemu ibu tirimu, bicaramu ti

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MELAWAN IBU TIRI

    ​"Jangan harap bisa mengambil apa pun dari sini! Ingat, jika kamu berani macam-macam, aku akan sakiti papamu!" Anggita berkata dengan tajam. sangat berbanding terbalik dengan tatapan penuh gairahnya beberapa saat lalu. ​Rama menghela napas panjang. Ia merasa muak dengan tingkah perempuan itu. ​"Itu hakku dan aku bebas melakukan apa pun. Soal menyakiti papaku? Kamu yakin bisa?" ledek Rama sembari melangkah mendekat, bahkan sengaja merapatkan tubuhnya ke arah Anggita. ​Anggita sedikit gemetar, namun ada rasa takjub yang menyelinap saat melihat wajah tampan itu berada begitu dekat di hadapannya. “Kamu hanya anak yang baru muncul setelah dewasa. Kami yang berhak menentukan soal harta itu! Pergilah, atau kami akan terus membuatmu tidak nyaman di sini!” desaknya, berusaha menekan Rama agar mundur. ​Rama berdecak. Sikapnya benar-benar sudah berubah; ia bukan lagi pria lemah yang dulu. "Kamu lupa siapa aku? Aku putra dari Tuan Tansri, kolega terbesar di Malaysia ini!" Rama memperjela

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ANTARA IBU DAN SAUDARA TIRI

    Ia mengambil foto itu, menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi gambarnya. Ia menatapnya kembali, menelisik dengan saksama. ​"Tapi ini sangat mirip dengan Ibu? Apa ini keluarganya juga? Tapi kenapa aku enggak pernah tahu?" ucapnya lagi. Keningnya menyengrit, merasakan kebingungan yang luar biasa. ​"Ah, sudahlah!" ​Akhirnya ia bangkit, meninggalkan foto itu tergeletak begitu saja di lantai. Setelah selesai mengeruk semua uang yang ada di lemari, Nadia melangkah keluar dengan senyum yang merekah. ​"Bi, tolong bersihkan pecahan kaca itu ya. Buang ke tong sampah, semuanya!" titah Nadia tanpa menatap sang bibi yang sedang mengepel lantai di lantai bawah. ​"Iya, Non!" ​Setelah selesai mengepel lantai yang luasnya minta ampun, Nunu langsung bergegas ke atas membawa sapu beserta pengki. Ia masuk ke dalam kamar Alya sambil menggeleng kecil. ​"Non Nadia ini sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nyonya Alya," bisiknya sambil berjongkok memunguti beling ke dalam pengki. ​Ia sempa

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   FOTO SIAPA?

    Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. ​Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. ​Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. ​Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" ​"Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" ​Rama terdiam. Ia ingin m

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PERSAINGAN?

    Pagi itu, suasana di meja makan terasa tegang dan sunyi. Nadia yang biasanya cuek, kini berusaha menunjukkan sikap tegas sebagai seorang istri. Namun emosinya yang mudah meledak sering kali muncul tanpa ia sadari, membuat suasana semakin tidak nyaman. ​"Bu... biar aku saja ya, ini tugasku sebagai

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   NADIA YANG DRAMATIS

    Mendengar gertakan Rama yang tak lagi bisa ia remehkan, Nadia langsung meledak dalam tangis histeris. Ia merasa dunianya runtuh hanya karena Rama tidak lagi menjadi "anjing penurut" yang memohon maaf padanya. Dengan dramatis, ia membanting pintu kamar begitu keras hingga debu berterbangan, lalu be

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MENCIUM MERTUA

    ​"Lihat istrimu itu, Ram... apa lagi yang bisa kamu harapkan darinya?" bisik Alya tepat di telinga Rama, suaranya serak dan penuh provokasi. ​Rama memejamkan mata, merasakan napas hangat Alya yang menerpa kulitnya. ​"Kamu selalu menjaga perasaannya sampai rela mengorbankan perasaanmu sendiri, t

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KERIBUTAN DI DAPUR

    Rama bernapas lega mengetahui Bos Yuda belum juga mendarat di Indonesia. Setidaknya, ia masih punya waktu untuk menghindar sebelum panggilan yang tak terelakkan itu tiba. Namun, ketenangan itu terusik di kantor. ​"Kenapa sih gelisah banget?" tanya Baron tiba-tiba, muncul di dapur kantor saat Rama

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status