เข้าสู่ระบบSementara itu, di dalam mansion yang megah, seorang perempuan dengan kecantikan yang masih terjaga di usia matangnya tampak sangat resah. Alya masih terus mencari keberadaan foto itu. Kegusarannya semakin memuncak karena sang putri, Nadia, belum juga kunjung pulang. Sesaat Alya tertegun, teringat kembali pada pecahan beling yang tak sengaja ia injak tadi. Jantungnya mulai berdegup kencang, memburu tak keruan dengan ritme yang lebih hebat dari sebelumnya. Bayangan tentang putrinya mendadak melintas, membuatnya semakin dirundung kecemasan. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pemikiran yang sudah buntu itu. Namun, saat ia memejamkan mata, bayangan lemari yang kosong karena uangnya dikuras oleh Nadia kembali muncul. Instingnya berteriak kuat; jika uang saja bisa diambil, maka besar kemungkinan foto itu pun kini berada di tangan putrinya. "Jika benar begitu...?" lirihnya bertanya-tanya pada ruang hampa di depannya. "Astaga, Nadia! Kenapa kamu begitu bandel!" lanjutnya. Ia mula
Sofia membulatkan mata. Ia menolak keras ide itu meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun sama penasarannya. Namun, logikanya masih bekerja ia takut jika rumah ini dipasangi CCTV. Jika ia ketahuan bertindak "gatal", maka tamatlah riwayatnya, apalagi jika sasarannya adalah anak tirinya sendiri. Namun, Anggita tak peduli. Ia mengabaikan setiap ocehan Sofia. Keduanya seolah lupa bahwa baru saja mereka terlibat pertengkaran hebat di depan Rama. Sementara itu, Rama tetap fokus pada aktivitasnya, seolah kedua wanita itu tidak ada di sana. "Anggita, hey!" teriak Sofia, yang lagi-lagi hanya dianggap angin lalu oleh putrinya. "Anak itu!" geram Sofia dengan gigi bergemerutuk. Rasa cemas mulai menghimpit dadanya. Anggita mulai memberanikan diri. Ia melangkah lebar hingga posisinya tepat berada di belakang Rama. Ia menelan ludah kasar; tatapannya terkunci pada punggung Rama yang lebar dan berotot. Tangannya bergetar, ingin sekali mengelus setiap gurat otot itu, namun ia ragu. T
Sofia langsung menepis tangan Rama dengan kuat. "Kurang ajar!" teriaknya. Tangannya melayang di udara, hendak mendaratkan tamparan keras. Namun dengan sigap, Rama menahan pergelangan tangan perempuan itu sebelum menyentuh kulitnya. Keduanya kembali saling tatap dalam ketegangan; tangan Sofia tertahan di udara, terkunci oleh cengkeraman Rama yang kokoh. Anggita hanya bisa diam menyaksikan perdebatan ibu dan saudara tirinya yang semakin sengit. Meski tampak takut, matanya tetap tak bisa berhenti mencuri pandang pada sosok Rama yang berdiri gagah di depannya. Rama tidak menggubris makian itu. Ia hanya memberikan tatapan remeh yang semakin membuat Sofia kalap. Perempuan itu berteriak memaki tanpa henti, membuat Anggita tersentak kaget. Ia cemas jika ayah tirinya akan mendengar keributan ini. "Sudah, Ma! Sudah! Nanti didengar oleh Papa!" bisik Anggita cepat sembari mengelus dada ibunya, berusaha menjauhkan Sofia dari jangkauan Rama. Rama hanya bisa terkekeh sinis. Baginya,
"Jangan cuci otak suami saya! Kenapa kamu harus muncul ke permukaan? Apa jangan-jangan kamu bukan putra kandungnya? Jangan-jangan kamu cuma pria miskin di luar sana yang kebetulan mirip dengan suami saya dan mengambil kesempatan ini dengan berpura-pura menjadi putranya yang hilang, ya?!" celoteh Sofia berapi-api, membuat telinga Rama panas mendengarnya. Bagaimana bisa seseorang memiliki pikiran selicik itu? batin Rama bertanya-tanya. Namun, ia tak mau ambil pusing dengan meladeni kedua perempuan cempreng itu. Rama tak peduli; ia kembali merebahkan diri dan mengangkat barbelnya berulang kali, mengabaikan ocehan Sofia yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Beruntung, Rama adalah tipe pria yang irit bicara. Ia mampu tidak menggubris seseorang yang berada tepat di depannya, dan hal itu justru membuat Sofia merasa sangat rendah dan tidak dihargai. "Heh, kamu dengar saya tidak?!" tegur Sofia lagi, semakin kesal. Rama menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap sekilas
Sementara itu di sisi lain, kekalutan hati Alya berbanding terbalik dengan kondisi Rama. Pria itu tampak begitu tenang dan nyaman dengan earphone yang menyumbat kedua telinganya. Rama yang bertelanjang dada, terbaring telentang sambil mengangkat barbel di atas tubuhnya. Setiap kali beban itu didorong ke atas, otot-otot lengannya menegang jelas, memperlihatkan urat-urat kokoh yang terbentuk sempurna. Tubuhnya berkilau oleh peluh akibat sesi latihan intens sore itu, sementara napasnya terdengar berat dan teratur memenuhi ruangan. Dengan rambut yang acak-acakan, Rama menyeka keringat yang mengucur dari pelipis menggunakan handuk kecil yang sudah ia siapkan. "Ugh, lumayan untuk hari ini," desahnya pelan sembari menurunkan barbel, lalu mengangkatnya kembali seolah sedang memamerkan otot-otot kekarnya yang indah. Tanpa Rama sadari, sedari tadi sang papa telah berdiri di sampingnya. Pria paruh baya itu menatap lembut putra tunggalnya yang sangat mirip dengannya. Tak ada jejak waj
Suara hak tinggi beradu dengan lantai saat seorang wanita turun dari taksi. Ia melenggang masuk ke dalam mansion yang telah beberapa hari ditinggalkannya itu. Begitu menginjakkan kaki di lobi, ia langsung berpapasan dengan sang putri. "Ibu baru pulang?" tanya Nadia ketus. Tak ada sambutan hangat, pelukan, apalagi ucapan rindu yang terdengar. Alya tersenyum manis menanggapi ketidaksopanan itu. "Maaf ya, Ibu baru pulang," kekehnya, yang justru dibalas tatapan sinis oleh Nadia. "Enak ya, Bu, sudah tua masih keluyuran. gak ingat umur, apalagi anak!" sindir Nadia tajam. Alya hanya bisa menghela napas panjang. "Kamu gak mau sambut Ibu? Ibu baru saja sampai, lho." "Sudahlah, Bu, jangan manja pakai acara sambutan segala. Pergi juga alasannya gak penting. Lagipula, apa itu di tangan? Enak ya belanja-belanja, giliran anak butuh uang malah tak digubris!" Nadia terus berceloteh sinis, jelas sekali ia merasa iri. Alya tidak marah, ia justru tersenyum tenang. "Oh, ini?" ucapnya se
Ternyata itu Anggita. Perempuan manis itu berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam—sangat berbeda dari senyum hangat yang tadi sempat ia lihat. Kini, senyum itu lenyap, tergantikan oleh sorot mata penuh kecurigaan. “Kamu siapa sebenarnya?” tanyanya tanpa basa-basi. Rama mengerutkan dahi, tak m
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat kontras. Nadia masih melanjutkan daftar tuntutannya sambil sibuk memoles kuku, sementara Alya hanya terdiam memperhatikan Rama dengan tatapan yang penuh kasih namun menyimpan kesedihan mendalam. "Mas, ingat ya, pokoknya daftar yang aku kirim di W***
“Hah…” terdengar helaan napas panjang dari Putri. “Aduh, nafasku terasa sangat sesak, benar-benar tertahan. Pria itu memiliki wibawa yang luar biasa,” ucapnya lagi setelah melihat Tan Sri beserta para anak buahnya pergi. Rama menoleh sekilas, hanya menanggapi dengan senyum tipis. “Baru kali in
Beruntung, insting Alya sangat tajam. Sebelum Nadia benar-benar melangkah masuk, Alya sudah berdiri tegak dan bergerak menuju meja kerja Rama, seolah-olah sedang merapikan beberapa dokumen yang berserakan. "Ini lho, Nad... Ibu cuma mau memastikan dokumen-dokumen penting Suamimu nggak ada yang keti






