Startseite / Male Adult / MALAM GILA DI RANJANG MERTUA / BANGKIT KARENA OBSESI PADA SANG MERTUA

Teilen

BANGKIT KARENA OBSESI PADA SANG MERTUA

last update Veröffentlichungsdatum: 03.03.2026 21:50:04

​"Ya ampun, Bu! Bikin kaget saja," seru Rama tertahan. Jantungnya berdegup kencang, suaranya terasa nyaring di tengah kesunyian dapur.

​Alya hanya terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat ke arah menantunya, menatap Rama dengan tatapan penuh kerinduan, seolah mereka sudah berabad-abad tidak saling memiliki.

​Rama secara spontan mundur hingga punggungnya menubruk pintu kulkas yang masih terbuka. Hawa dingin yang keluar dari sana kontras dengan suasana yang mendadak memanas di antara mereka.

S
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   BAGAIKAN IBU KEDUA

    Sementara itu, di dalam mansion yang megah, seorang perempuan dengan kecantikan yang masih terjaga di usia matangnya tampak sangat resah. Alya masih terus mencari keberadaan foto itu. Kegusarannya semakin memuncak karena sang putri, Nadia, belum juga kunjung pulang. ​Sesaat Alya tertegun, teringat kembali pada pecahan beling yang tak sengaja ia injak tadi. Jantungnya mulai berdegup kencang, memburu tak keruan dengan ritme yang lebih hebat dari sebelumnya. Bayangan tentang putrinya mendadak melintas, membuatnya semakin dirundung kecemasan. ​Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pemikiran yang sudah buntu itu. Namun, saat ia memejamkan mata, bayangan lemari yang kosong karena uangnya dikuras oleh Nadia kembali muncul. Instingnya berteriak kuat; jika uang saja bisa diambil, maka besar kemungkinan foto itu pun kini berada di tangan putrinya. ​"Jika benar begitu...?" lirihnya bertanya-tanya pada ruang hampa di depannya. ​"Astaga, Nadia! Kenapa kamu begitu bandel!" lanjutnya. Ia mula

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   TAHAN HINAAN

    Sofia membulatkan mata. Ia menolak keras ide itu meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun sama penasarannya. Namun, logikanya masih bekerja ia takut jika rumah ini dipasangi CCTV. Jika ia ketahuan bertindak "gatal", maka tamatlah riwayatnya, apalagi jika sasarannya adalah anak tirinya sendiri. ​Namun, Anggita tak peduli. Ia mengabaikan setiap ocehan Sofia. Keduanya seolah lupa bahwa baru saja mereka terlibat pertengkaran hebat di depan Rama. Sementara itu, Rama tetap fokus pada aktivitasnya, seolah kedua wanita itu tidak ada di sana. ​"Anggita, hey!" teriak Sofia, yang lagi-lagi hanya dianggap angin lalu oleh putrinya. ​"Anak itu!" geram Sofia dengan gigi bergemerutuk. Rasa cemas mulai menghimpit dadanya. ​Anggita mulai memberanikan diri. Ia melangkah lebar hingga posisinya tepat berada di belakang Rama. Ia menelan ludah kasar; tatapannya terkunci pada punggung Rama yang lebar dan berotot. Tangannya bergetar, ingin sekali mengelus setiap gurat otot itu, namun ia ragu. T

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   BIRAHI ANGGITA

    Sofia langsung menepis tangan Rama dengan kuat. "Kurang ajar!" teriaknya. ​Tangannya melayang di udara, hendak mendaratkan tamparan keras. Namun dengan sigap, Rama menahan pergelangan tangan perempuan itu sebelum menyentuh kulitnya. Keduanya kembali saling tatap dalam ketegangan; tangan Sofia tertahan di udara, terkunci oleh cengkeraman Rama yang kokoh. ​Anggita hanya bisa diam menyaksikan perdebatan ibu dan saudara tirinya yang semakin sengit. Meski tampak takut, matanya tetap tak bisa berhenti mencuri pandang pada sosok Rama yang berdiri gagah di depannya. ​Rama tidak menggubris makian itu. Ia hanya memberikan tatapan remeh yang semakin membuat Sofia kalap. Perempuan itu berteriak memaki tanpa henti, membuat Anggita tersentak kaget. Ia cemas jika ayah tirinya akan mendengar keributan ini. ​"Sudah, Ma! Sudah! Nanti didengar oleh Papa!" bisik Anggita cepat sembari mengelus dada ibunya, berusaha menjauhkan Sofia dari jangkauan Rama. ​Rama hanya bisa terkekeh sinis. Baginya,

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MEMANCING GAIRAH KEDUA BETINA

    ​"Jangan cuci otak suami saya! Kenapa kamu harus muncul ke permukaan? Apa jangan-jangan kamu bukan putra kandungnya? Jangan-jangan kamu cuma pria miskin di luar sana yang kebetulan mirip dengan suami saya dan mengambil kesempatan ini dengan berpura-pura menjadi putranya yang hilang, ya?!" celoteh Sofia berapi-api, membuat telinga Rama panas mendengarnya. ​Bagaimana bisa seseorang memiliki pikiran selicik itu? batin Rama bertanya-tanya. ​Namun, ia tak mau ambil pusing dengan meladeni kedua perempuan cempreng itu. Rama tak peduli; ia kembali merebahkan diri dan mengangkat barbelnya berulang kali, mengabaikan ocehan Sofia yang semakin lama semakin tidak masuk akal. ​Beruntung, Rama adalah tipe pria yang irit bicara. Ia mampu tidak menggubris seseorang yang berada tepat di depannya, dan hal itu justru membuat Sofia merasa sangat rendah dan tidak dihargai. ​"Heh, kamu dengar saya tidak?!" tegur Sofia lagi, semakin kesal. ​Rama menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap sekilas

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   DUA PEREMPUAN ITU LAGI

    Sementara itu di sisi lain, kekalutan hati Alya berbanding terbalik dengan kondisi Rama. Pria itu tampak begitu tenang dan nyaman dengan earphone yang menyumbat kedua telinganya. ​Rama yang bertelanjang dada, terbaring telentang sambil mengangkat barbel di atas tubuhnya. Setiap kali beban itu didorong ke atas, otot-otot lengannya menegang jelas, memperlihatkan urat-urat kokoh yang terbentuk sempurna. Tubuhnya berkilau oleh peluh akibat sesi latihan intens sore itu, sementara napasnya terdengar berat dan teratur memenuhi ruangan. ​Dengan rambut yang acak-acakan, Rama menyeka keringat yang mengucur dari pelipis menggunakan handuk kecil yang sudah ia siapkan. ​"Ugh, lumayan untuk hari ini," desahnya pelan sembari menurunkan barbel, lalu mengangkatnya kembali seolah sedang memamerkan otot-otot kekarnya yang indah. ​Tanpa Rama sadari, sedari tadi sang papa telah berdiri di sampingnya. Pria paruh baya itu menatap lembut putra tunggalnya yang sangat mirip dengannya. Tak ada jejak waj

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   HILANG

    Suara hak tinggi beradu dengan lantai saat seorang wanita turun dari taksi. Ia melenggang masuk ke dalam mansion yang telah beberapa hari ditinggalkannya itu. Begitu menginjakkan kaki di lobi, ia langsung berpapasan dengan sang putri. ​"Ibu baru pulang?" tanya Nadia ketus. Tak ada sambutan hangat, pelukan, apalagi ucapan rindu yang terdengar. ​Alya tersenyum manis menanggapi ketidaksopanan itu. "Maaf ya, Ibu baru pulang," kekehnya, yang justru dibalas tatapan sinis oleh Nadia. ​"Enak ya, Bu, sudah tua masih keluyuran. gak ingat umur, apalagi anak!" sindir Nadia tajam. Alya hanya bisa menghela napas panjang. ​"Kamu gak mau sambut Ibu? Ibu baru saja sampai, lho." ​"Sudahlah, Bu, jangan manja pakai acara sambutan segala. Pergi juga alasannya gak penting. Lagipula, apa itu di tangan? Enak ya belanja-belanja, giliran anak butuh uang malah tak digubris!" Nadia terus berceloteh sinis, jelas sekali ia merasa iri. ​Alya tidak marah, ia justru tersenyum tenang. "Oh, ini?" ucapnya se

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   TAMPAK RUMIT

    Suasana rumah sakit terasa begitu dingin dan mencekam. Aroma disinfektan menusuk hidung, menambah sesak di dada Rama. Di ruang tunggu yang sepi, ia dan Intan duduk berdampingan, menatap pintu ruang gawat darurat yang masih tertutup rapat. ​"Mas Rama sebaiknya pulang saja sekarang sebelum malam da

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   AJAKAN MERTUAKU LAGI...

    ​Saat aku menoleh, ternyata Ibu mertuaku sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan ia mematung, menatapku dengan tatapan yang dipenuhi rasa iba. Rasanya aku ingin menghilang saat itu juga; malu karena ia harus menyaksikan betapa hinanya aku diperlakukan oleh putrinya sendiri. ​"Ram..." panggilnya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KECELAKAAN

    Ningsih tergagap. Kata-kata Rama seolah menghantam dadanya bertubi-tubi. Sudah kepalang basah, pikirnya. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu menjawab dengan dingin, “Ibu… nggak tahu.” Rama bangkit berdiri. Wajahnya menegang, sorot matanya penuh amarah. “Bagaimana bisa, Bu

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   BEGITU NIKMAT

    "Mas? Apa kamu di dalam?" Suara Nadia terdengar sangat dekat, hanya terhalang selembar pintu kayu yang tipis. ​Jantungku berdegup kencang, namun gairahku jauh lebih dominan. Tepat saat gagang pintu bergerak, aku memasukkan pusakaku ke dalam liang surganya dalam satu hentakan kuat. Alya membelalak

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-25
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status