로그인Sofia langsung menepis tangan Rama dengan kuat. "Kurang ajar!" teriaknya. Tangannya melayang di udara, hendak mendaratkan tamparan keras. Namun dengan sigap, Rama menahan pergelangan tangan perempuan itu sebelum menyentuh kulitnya. Keduanya kembali saling tatap dalam ketegangan; tangan Sofia tertahan di udara, terkunci oleh cengkeraman Rama yang kokoh. Anggita hanya bisa diam menyaksikan perdebatan ibu dan saudara tirinya yang semakin sengit. Meski tampak takut, matanya tetap tak bisa berhenti mencuri pandang pada sosok Rama yang berdiri gagah di depannya. Rama tidak menggubris makian itu. Ia hanya memberikan tatapan remeh yang semakin membuat Sofia kalap. Perempuan itu berteriak memaki tanpa henti, membuat Anggita tersentak kaget. Ia cemas jika ayah tirinya akan mendengar keributan ini. "Sudah, Ma! Sudah! Nanti didengar oleh Papa!" bisik Anggita cepat sembari mengelus dada ibunya, berusaha menjauhkan Sofia dari jangkauan Rama. Rama hanya bisa terkekeh sinis. Baginya,
"Jangan cuci otak suami saya! Kenapa kamu harus muncul ke permukaan? Apa jangan-jangan kamu bukan putra kandungnya? Jangan-jangan kamu cuma pria miskin di luar sana yang kebetulan mirip dengan suami saya dan mengambil kesempatan ini dengan berpura-pura menjadi putranya yang hilang, ya?!" celoteh Sofia berapi-api, membuat telinga Rama panas mendengarnya. Bagaimana bisa seseorang memiliki pikiran selicik itu? batin Rama bertanya-tanya. Namun, ia tak mau ambil pusing dengan meladeni kedua perempuan cempreng itu. Rama tak peduli; ia kembali merebahkan diri dan mengangkat barbelnya berulang kali, mengabaikan ocehan Sofia yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Beruntung, Rama adalah tipe pria yang irit bicara. Ia mampu tidak menggubris seseorang yang berada tepat di depannya, dan hal itu justru membuat Sofia merasa sangat rendah dan tidak dihargai. "Heh, kamu dengar saya tidak?!" tegur Sofia lagi, semakin kesal. Rama menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap sekilas
Sementara itu di sisi lain, kekalutan hati Alya berbanding terbalik dengan kondisi Rama. Pria itu tampak begitu tenang dan nyaman dengan earphone yang menyumbat kedua telinganya. Rama yang bertelanjang dada, terbaring telentang sambil mengangkat barbel di atas tubuhnya. Setiap kali beban itu didorong ke atas, otot-otot lengannya menegang jelas, memperlihatkan urat-urat kokoh yang terbentuk sempurna. Tubuhnya berkilau oleh peluh akibat sesi latihan intens sore itu, sementara napasnya terdengar berat dan teratur memenuhi ruangan. Dengan rambut yang acak-acakan, Rama menyeka keringat yang mengucur dari pelipis menggunakan handuk kecil yang sudah ia siapkan. "Ugh, lumayan untuk hari ini," desahnya pelan sembari menurunkan barbel, lalu mengangkatnya kembali seolah sedang memamerkan otot-otot kekarnya yang indah. Tanpa Rama sadari, sedari tadi sang papa telah berdiri di sampingnya. Pria paruh baya itu menatap lembut putra tunggalnya yang sangat mirip dengannya. Tak ada jejak waj
Suara hak tinggi beradu dengan lantai saat seorang wanita turun dari taksi. Ia melenggang masuk ke dalam mansion yang telah beberapa hari ditinggalkannya itu. Begitu menginjakkan kaki di lobi, ia langsung berpapasan dengan sang putri. "Ibu baru pulang?" tanya Nadia ketus. Tak ada sambutan hangat, pelukan, apalagi ucapan rindu yang terdengar. Alya tersenyum manis menanggapi ketidaksopanan itu. "Maaf ya, Ibu baru pulang," kekehnya, yang justru dibalas tatapan sinis oleh Nadia. "Enak ya, Bu, sudah tua masih keluyuran. gak ingat umur, apalagi anak!" sindir Nadia tajam. Alya hanya bisa menghela napas panjang. "Kamu gak mau sambut Ibu? Ibu baru saja sampai, lho." "Sudahlah, Bu, jangan manja pakai acara sambutan segala. Pergi juga alasannya gak penting. Lagipula, apa itu di tangan? Enak ya belanja-belanja, giliran anak butuh uang malah tak digubris!" Nadia terus berceloteh sinis, jelas sekali ia merasa iri. Alya tidak marah, ia justru tersenyum tenang. "Oh, ini?" ucapnya se
Dua hari sudah rama di Malaysia, dan Anggita benar-benar menjadi pelayan bagi Rama. Mulai dari menyiapkan segala keperluan, mencuci baju kotor, hingga membereskan piring bekas makan, semuanya ia babat habis. Hal itu cukup pembuktian pada Anggita jika Rama tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Di meja makan, seluruh hidangan untuk Rama disiapkan sendiri oleh Anggita. Melihat pemandangan itu, Sofia langsung meradang. Dengan wajah memerah menahan amarah, ia menggebrak meja dengan keras. Brak! Semua mata menoleh padanya, termasuk Tansri yang baru saja hendak menyuapkan potongan ayam bakar ke dalam mulutnya. "Apa-apaan kamu?" tanya Tansri heran. Matanya menatap tegas ke arah Sofia, membuat wanita itu sedikit gemetar. "Sayang, lihat! Kamu membiarkan putriku melayani putramu?" Sofia memprotes. Ia bahkan lupa siapa dirinya sebenarnya. Sesaat, ia tidak sadar bahwa sesayang apa pun Tansri padanya, pria itu tidak akan membiarkan siapa pun mengatur atau menginjak-injaknya.
Sementara itu, Rama menatap datar ke arah balkon. Tangannya meremas kuat pagar besi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggertakkan rahang, merasa kecewa dengan perkataan papanya yang seolah-olah buta; membela kedua perempuan ular itu dan menyalahkannya terus-menerus. Ia tak bisa diam saja. Ia tak akan membiarkan papanya terjerumus lebih dalam. Apalagi ia tahu, di dalam aset kekayaan papanya, terdapat harta peninggalan mendiang ibunya—bahkan hampir seluruhnya adalah milik ibunya. "Bagaimana bisa Papa tak menyadari kelakuan mereka?" pikirnya heran. Namun, setelah merenung cukup lama, Rama mulai memahami. Tansri adalah pria yang hancur setelah kehilangan dua orang tersayangnya: Lili dan dirinya. Rama mengangguk paham; dulu Sofia datang tepat saat Tansri berada di titik terendah, saat ia kehilangan putra tunggalnya dan didera duka mendalam akibat kematian istrinya yang tragis. Di masa sulit itulah, Sofia dan Anggita memainkan peran dengan sangat sempurna sebagai istri dan
"Biasa saja dong natapnya, jangan begitu banget," ujar Alya pelan sembari menunduk. Pipinya terasa panas, bersemu merah karena malu. Menantunya itu menatapnya tanpa kedip, bahkan sampai melongo dengan bibir sedikit terbuka. "Tutup mulutmu, Rama!" ucapnya lagi. Ia masih tak berani membalas tatap
Rama duduk dengan tenang di sebuah restoran mewah, menikmati suasana yang sengaja ia ciptakan sendiri.. Sebuah ruang VIP di lantai atas sudah ia pesan—ruangan yang terhubung langsung dengan balkon luas, tempat langit malam terbentang dengan bintang dan bulan yang tampak begitu sempurna. Di sisi l
Rama menggeleng pelan. Ia menggenggam jemari Alya dengan lembut, menghapus bulir air mata yang jatuh di atas pipi mulus mertuanya itu. "Enggak, Bu. Tapi aku gak enak kalau harus selalu pakai black card beliau. Aku juga mau membuktikan semuanya bu. mau Sampai kapan aku harus diam saat terus-mener
"Mas, perusahaan pusat tahu soal dana itu! Dan Alex... Alex brengsek itu malah menghilang sekarang! Gimana ini, Mas? Aku bisa dipecat, bahkan bisa dipolisikan!" racau Nadia dengan suara melengking yang hampir memenuhi seisi kamar. Rama hanya menatap Nadia dengan pandangan dingin. Rasa kantuknya







