เข้าสู่ระบบDada Nadia berdegup kencang ketika mobil Dewa berbelok ke jalan menuju ke rumahnya. Sewaktu di telepon sang ibu tadi, Nadia tidak bilang kalau pulang di antar oleh bosnya.Gerimis turun saat mobil berhenti di depan pagar rumah. Nadia mengembuskan napas lega. Gerimis ini bisa menjadi perisai dadakan. Karena tidak ada tetangga yang duduk di teras. Tidak ada yang melihat dan menyimpan cerita untuk dibagikan ke tetangga yang lain keesokan paginya. Baru bercerai, sudah menggandeng lelaki lain. Ia tidak ingin ada gosip seperti itu."Kamu jangan turun dulu. Biar saya ambilkan payung," kata Dewa. "Nggak usah, Pak. Hanya gerimis kecil-kecil ini.""Adam baru sembuh. Nanti dia demam lagi.""Oh, ada topinya Adam, Pak." Nadia mengambil topi milik Adam yang disimpan dalam tasnya. Setelah memakaikan Nadia turun lebih dulu dan melangkah cepat ke arah rumah. Dewa turun untuk membawakan barang."Ibukkkk!" teriak Adam sambil tersenyum lebar ketika Bu Isti muncul dari pintu."Masya Allah. Adam, Ibuk nun
Selina sekarang berada di posisi yang dulu dirasakan Nadia. Sebagai istri sah, tetapi hati suaminya melayang ke wanita lain. Namun Selina tidak berani marah. Dia mengamuk pada diri sendiri. Berpisah dari Davin, akan membuatnya malu di depan relasi, keluarga, dan teman-temannya."Mas, gerimis. Kita masuk ke dalam." Dengan lembut Selina memeluk suaminya dari belakang. Namun Davin tetap diam. Matanya masih menatap kejauhan sambil terus menghisap rokoknya. "Kamu masuk saja. Aku ingin sendiri," jawab pria itu pada akhirnya dengan nada kaku.Selina bergeming. Posisi lengan masih memeluk suaminya. Namun Davin tak merasakan kehangatan apapun yang dulu sempat membuatnya mencuri waktu untuk menemui kekasih gelapnya itu. "Tega sekali Nadia mengajari anaknya begitu," ucap Selina penuh kepalsuan. Padahal ia tidak kecewa sama sekali. Lebih senang Davin bersikap seperti dulu, tidak peduli pada anaknya.Hening beberapa lama. "Kita bisa program ke dokter, Mas. Kita jadwalkan segera," bisiknya samb
NADIA- 39 Bertemu IbuNadia masih membeku dengan napas tertahan sesaat karena terkejut. Tapi ia melihat tidak ada sedikit pun keraguan di wajah pria gagah di sampingnya. Mata lelaki itu menunjukkan kejujuran dengan apa yang baru saja diucapkan."Kamu tidak salah dengar dengan apa yang saya katakan." Dewa semakin menekankan supaya Nadia percaya.Sejenak keheningan menjadi jeda. Mereka saling pandang dalam beberapa saat. Sedangkan di antara mereka, Adam duduk sambil memegangi bungkus snack. Mulut kecilnya komat-kamit karena sedang mengunyah. "Saya sudah memikirkannya," lanjut Dewa, suaranya rendah dan mantap. "Saya ingin membangun kehidupan baru bersama kamu dan Adam. Mari kita tinggalkan masa lalu."Dada Nadia bergemuruh. Setelah tadi ia kembali terluka oleh sikap Davin dan Selina, kini dikejutkan oleh sikap Dewa yang ingin mengajaknya menikah. Nadia ingat ucapan Mbak Ayi. Mengobati luka dengan menghadirkan orang baru yang lebih segalanya dari sang mantan.Dewa menatapnya dalam-dalam
Davin sebenarnya ingin bertanya apa hubungan Nadia dan Dewa, tapi pertanyaan itu tidak jadi dikeluarkan. Dia tidak ingin berurusan dengan Selina ketika sampai di rumah nanti. Dengan cara lain, ia akan mencari tahu sendiri. Satu yang menggema dalam dadanya, menginginkan Nadia dan Adam kembali padanya. Penyesalan terdalamnya, adalah melepaskan Nadia. "Mas, ayo kita pergi. Anakmu nggak mengenalimu lagi." Selina menarik tangan suaminya. Namun Davin bergeming. Tatapannya masih terpaku di wajah ayu dan tenangnya Nadia.Selina semakin geram. Ia memandang pada Nadia. Saat itu ia melihat bros yang berkilau tersemat di jilbabnya. Selina yang terbiasa dengan barang-barang mewah tahu, yang dipakai Nadia bukan bros biasa. Lebih mahal benda itu dari gaji Nadia sebagai staf baru. Jelas itu bukan pemberian dari Davin. Dewa-kah yang memberikannya?"Mas, ayolah. Ngapain di sini. Kamu nggak dianggap oleh anakmu sendiri. Adam sengaja diajarin begitu kayaknya."Meski hatinya terluka oleh perkataan Selina
"Bisa kita bicara bertiga saja, Na. Ini hanya urusan kita," kata Davin."Bertiga saja dengan siapa, Mas? Aku, kamu, dan Adam maksudnya?""Denganku," sahut Selina. Tentu saja ia tidak akan membiarkan suaminya hanya duduk berdua dengan mantan istrinya."Kalau begitu, biar Pak Dewa ada di sini. Aku datang ke sini bersama beliau. Sebab aku dan Adam akan pulang bersama beliau juga," bantah Nadia.Hening. Davin terperangkap. Dia sudah terlanjur basah oleh keadaan itu. Padahal seharusnya tidak begini, Dewa itu rekan bisnis perusahaan, jadi martabatnya harus dijaga di depannya. Namun semuanya tidak sesuai ekspektasi. Sebab saat memanggil Adam tadi, dia berharap anaknya antusias dan senang bertemu dengannya. Tapi ternyata sebaliknya.Hening. Suasana yang seharusnya menyegarkan karena cuaca sangat mendukung, tapi di meja mereka ketegangan tercipta. Untungnya tempat mereka paling ujung, jadi tidak menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.Dan suara handphone milik Dewa yang berdering, membuat
NADIA - 38 Dia AnakkuAdam tertawa lucu saat Dewa membisikkan sesuatu ke telinganya. Pria itu juga merangkul erat bocah yang ada di pangkuannya. Tubuh tingginya menunduk seolah melindungi Adam.Saat melihat anaknya bercanda dengan Dewa, hati Davin kian terbakar. Dia tidak menghiraukan Selina yang menarik lengannya. "Itu ada tempat duduk yang kosong, Mas," kata Selina. Namun suara istrinya seolah tak di dengar."Mas!" panggil Selina lagi disaat suaminya masih diam. Dan saat bersamaan, ia pun menoleh ke arah yang sama dan melihat apa yang sedang diperhatikan oleh Davin. Dia kaget. Ternyata ada Dewa, Nadia, dan Adam di ujung sana.Tanpa menanggapi ucapan istrinya, Davin melangkah ke tempat paling ujung. Selina tidak melepaskan pegangan tangan dan tergesa mengikuti langkah sang suami. Wajah wanita itu terlihat menegang. "Mas," panggilnya. Tapi Davin tidak peduli. Akhirnya Selina merubah ekspresi. Dia melangkah anggun, dada membusung, dan kepala tegak. Tangannya semakin erat memeluk lenga







