Selesai makan, mereka kembali bekerja. Kotak nasi Nadia belum dibuang karena tak sanggup menghabiskan isinya. Nanti dibawa pulang. Sayang kalau dibuang."Kamu minta tanda tangan ke Pak Dewa, Na. Biar sekalian dicek. Mbak akan selesaikan laporan satunya.""Iya, Mbak." Sebelum beranjak, Nadia mengecek sebentar berkas di map. Baru kemudian melangkah ke ruangan bosnya.Setelah dipersilakan masuk, Nadia membuka pintu. "Maaf, Pak. Saya hendak minta tanda tangan. Sekalian mohon di cek." Diletakkannya map di depan Dewa. "Bisa ditunggu sebentar," ucap Dewa saat melihat Nadia hendak beranjak keluar. Pria itu segera membuka map. "Duduk dulu, Nadia." Dewa mempersilakan."Iya, Pak."Nadia duduk dengan dada yang berusaha di tenang-tenangkan. Pria ini auranya sungguh berbeda. Padahal dia sibuk menyimak laporan, tapi Nadia yang canggung. 'Tenang, Na. Tenang. Biasa aja kali. Duh, hati cobalah berkompromi.'"Saya melihat anak kecil memelukmu kemarin sore.""Iya, dia anak saya, Pak."Dewa mengangkat wa
Last Updated : 2026-01-04 Read more