LOGINDewa mengajak Nadia ke sebuah restoran yang cukup terkenal dan menjadi favorit para pecinta alam dan kuliner. Sebab restoran itu berdiri anggun di punggung bukit."Kita duduk di atas, semoga masih ada tempat," ajak Dewa yang menggendong Adam. Kemudian menaiki tangga menuju lantai dua yang semi outdoor. Sampai di atas mereka disambut udara sejuk khas pegunungan. Dewa mengajak Nadia dan Adam duduk paling pojok di dekat pagar pembatas, yang menghadap langsung ke bentangan alam. Hamparan Kota Malang tampak seperti lukisan hidup, diselimuti kabut tipis yang bergerak pelan. Di kejauhan, Gunung Semeru dan Arjuno berdiri tenang, megah, serta kebiruan.Sejenak Nadia menghadap jauh ke sana dan menghirup udara segar dalam-dalam. Sedangkan Dewa menurunkan Adam ke baby chair yang sudah disiapkan pelayan. Kemudian memesan makanan. Ada sup iga yang bisa untuk menyuapi Adam.Mereka berbincang, sesekali menanggapi celoteh Adam yang mengundang tawa. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia. Makanan dat
Zaki menyenggol lengan Adam dan kedua anak itu saling tersenyum. "Kakak pulang dulu, ya. Sampai bertemu lagi, Adam," ucap Zaki seraya melambaikan tangan dan dibalas oleh anak Adam.Mbak Ayi mengangguk sejenak pada Dewa yang masih melangkah. Kemudian ia meninggalkan tempat itu seraya menggandeng anaknya.Dada Nadia kian berdebar saat langkah Dewa semakin mendekat. Pria itu tersenyum padanya. Nadia mencoba mengatur napas agar tidak terlihat terlalu gugup. Adam yang berada dalam gendongannya menoleh, lalu tersenyum lebar. Membuat dua lesung pipi kecil muncul di pipinya."Om," teriak Adam."Hai, Adam."Bocah itu tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya. Mungkin dilubuk hati kecilnya yang paling dalam, ia menemukan figur seorang ayah pada Dewa. "Mau Om gendong." Dewa mengulurkan tangannya."Nggak usah, Pak Dewa. Biar saya gendong saja.""Kalau begitu, biar ranselnya saja yang saya bawakan." Dewa mengambil ransel dari punggung Nadia tanpa menyentuh tubuh wanita itu. Dia sangat be
NADIA - 37 Serius Nadia masih mematung dengan dada yang berdebar. Ponsel masih di genggaman tangannya. Mbak Ayi menyarankan untuk memakai bros pemberian Dewa. Dan ia sudah menyematkan di jilbab yang langsung sekalian tersangkut di bajunya.Sekarang Mbak Ayi menyarankan agar dirinya mau diajak pulang bersama Dewa. Bagaimana tidak kaget setelah tidak pernah diperhatikan oleh lelaki yang bergelar suami, disia-siakan selama menikah, dan sekarang mendadak mendapatkan perhatian sebesar ini. Padahal mereka juga baru kenal. Jadi wajar kalau Nadia masih memiliki perasaan bimbang.Nadia buru-buru memasukkan buket bunga ke dalam paper bag. Ia akan membawa pulang bunga itu."Mama," panggilan dari Adam membuat Nadia terkesiap dan buru-buru meraih ransel dan ditaruh di punggungnya. Anak yang sejak tadi sudah berada di teras cabin bersama Zaki, mengintip masuk dari balik pintu.Nadia keluar. Mbak Ayi masih di sana kemudian membantunya menggendong Adam. "Bukan karena Mbak dekat dengan bos, lalu me
Namun kenapa setelah mereka sah bersama, justru tidak merasakan lagi keindahan bersama Selina. Yang ada hanya perih mengenang mantan istrinya.Dada Davin mengencang. Dulu ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu. Ia terlalu sibuk mengejar perasaan yang menurutnya layak diperjuangkan. Terlalu sibuk membenarkan keputusannya sendiri. Dan sekarang saat semua telah terjadi, ia baru sadar betapa kejamnya pada Nadia."Ayo, kita pulang!" ajak Bu Terry setelah acara selesai.Rombongan mereka akhirnya meninggalkan Kayutangen Heritage. Suara bising perlahan menjauh, digantikan keheningan jalanan. Di dalam mobil Selina tampak ceria, membicarakan rencana tahun baru termasuk program punya anak. Davin hanya menjawab seperlunya. Saat itu mereka duduk di bangku belakang dan Arda yang mengemudi.Sampai di villa, Selina langsung menuju kamar, menatap Davin dengan senyum yang menggoda."Malam ini spesial," katanya sambil melangkah mendekat. Tangannya menyentuh dada Davin, jarinya bergerak pelan. "Kita
Kembang api berikutnya membentuk lingkaran besar, lalu pecah menjadi puluhan titik kecil yang berkelap-kelip. Ada yang meletup cepat, ada yang menggantung lebih lama di udara sebelum menghilang. Setiap letupan menandai detik-detik terakhir tahun yang akan berlalu. Dan sorak sorai menggema malam itu.Nadia mengambil ponsel di saku untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tahun baru. Namun saat bersamaan ada pesan masuk.[Happy new year, Nadia. May this moment be the beginning of your success.][Thank's, Pak Dewa. Selamat tahun baru juga. Semoga tambah sukses lagi dan lagi. Diberikan panjang umur, kesehatan, dan kebahagiaan.][Aamiin.]Mbak Ayi menurunkan ponselnya. Kemudian melakukan video call dengan suami dan anak perempuannya yang merayakan tahun baru di Surabaya North Quay. Di Pelabuhan Tanjung Perak dengan latar belakang laut dan kapal-kapal besar. Itulah alasannya kenapa si sulung tidak mau diajak ke Malang. Akhirnya sang suami yang mengalah untuk menemani.Nadia kembali menget
NADIA- 36 Perempuan Istimewa "Apa ini, Mbak?" Nadia menerima kotak cantik berbentuk persegi dengan lapisan kain beludru warna biru tua yang diulurkan Mbak Ayi."Cincin untuk melamarmu mungkin," jawab Mbak Ayi sambil tersenyum. Membuat Nadia kian berdebar. Kemudian segera membuka kotak. Dan ternyata berisi bros dari emas putih."Wow!" Mbak Ayi terbeliak melihat benda itu. "Istimewa ini, Na. Beneran. Victorian filigree brooch. Tentu harganya nggak main-main."Nadia terdiam. Dia tidak seberapa mengerti tentang benda seperti ini. Tapi jujur, bros itu terlihat berkilau dengan permata blue safir di tengahnya. Indah dan elegan. Pasti ini bukan bros biasa dan tentu harganya tidak murah."Kamu tahu ini apa, Na?"Nadia memandang Mbak Ayi."Ini bros dengan model antik era Victoria. Bros vintage geometric. Pembuatannya dilakukan dengan tangan dan diproduksi dalam jumlah terbatas. Permatanya blue safir. Memang ini bukan barang aslinya dari zaman itu. Karena kalau barang antik, hanya kolektor yan







