Share

63. Jatuh Hati 2

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 20:35:12

"Saya belajar, Pak. Mbak Ayi dan rekan-rekan lainnya sangat membantu. Saya bersyukur berada di tempat yang tepat. Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Dewa. Ketika banyak perusahaan bahkan minimarket pun menolak CV saya, tapi Graha Utama sudi menerima saya." Nadia bicara dengan tulus.

Mereka saling pandang sejenak.

"Mungkin karena usia saya sudah dianggap terlambat untuk memulai berkarir," ujar Nadia menutupi alasan yang sebenarnya.

"Tidak ada kata terlambat, Nadia. Walaupun kamu bilang telat memulai, tapi kamu tak kalah hebat dari orang-orang yang sudah bekerja bertahun-tahun."

"Disaat teman-teman saya lulus kuliah mulai merintis karir, tapi saya malah memilih menikah muda." Nadia tersenyum getir. Soal ini tak perlu disembunyikan. Pasti Dewa sudah tahu statusnya apa. Sebagai pimpinan, tentunya dia membaca biodata karyawannya.

"Saya sudah tahu cerita hidup kamu. Saya baca profil kamu dan Pak Yanuar menceritakan semuanya pada saya."

"Oh, iya." Nadia manggut-manggut dengan hati yang seb
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
yah andai aja Nadia mau di payungin smpai depan pintu ya..mas dewa Bakaln ketemu SM Adam ya..
goodnovel comment avatar
Adfazha
Gmn NaWa jantung kalian aman gk hmm disaat Nadia bahagia eh Selingan Davin mlh merana haahaa karmamu lom seberapa ya Selina .. Dewa bkln happy klo tau Adam anak Nadia
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
Selina..tunggu aja karma buat kamu dan si penjahat kelamin**
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   70. Bertemu Adam 3

    Selesai makan, mereka kembali bekerja. Kotak nasi Nadia belum dibuang karena tak sanggup menghabiskan isinya. Nanti dibawa pulang. Sayang kalau dibuang."Kamu minta tanda tangan ke Pak Dewa, Na. Biar sekalian dicek. Mbak akan selesaikan laporan satunya.""Iya, Mbak." Sebelum beranjak, Nadia mengecek sebentar berkas di map. Baru kemudian melangkah ke ruangan bosnya.Setelah dipersilakan masuk, Nadia membuka pintu. "Maaf, Pak. Saya hendak minta tanda tangan. Sekalian mohon di cek." Diletakkannya map di depan Dewa. "Bisa ditunggu sebentar," ucap Dewa saat melihat Nadia hendak beranjak keluar. Pria itu segera membuka map. "Duduk dulu, Nadia." Dewa mempersilakan."Iya, Pak."Nadia duduk dengan dada yang berusaha di tenang-tenangkan. Pria ini auranya sungguh berbeda. Padahal dia sibuk menyimak laporan, tapi Nadia yang canggung. 'Tenang, Na. Tenang. Biasa aja kali. Duh, hati cobalah berkompromi.'"Saya melihat anak kecil memelukmu kemarin sore.""Iya, dia anak saya, Pak."Dewa mengangkat wa

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   69. Bertemu Adam 2

    "Bisa minta tolong buatkan saya secangkir kopi, Nadia?" Suara di ambang pintu membuat Nadia kaget bukan main. Ia yang sedang melamun di suasana yang begitu sepi, tiba-tiba ada suara besar di belakangnya.Spontan Nadia menoleh dengan dada berdebar kencang."Sorry, kalau membuatmu kaget," ujar Dewa sambil tersenyum."Oh, nggak apa-apa, Pak. Sebentar saya buatkan kopinya," jawab Nadia gugup bukan main. Kemudian mengambil cangkir yang tersusun di rak."Saya mau sholat dulu. Tadi saya sudah pesankan makan untukmu dan Mbak Ayi.""Iya, Pak. Makasih banyak."Dewa kemudian meninggalkan pantry. Nadia menghela napas lega. Sumpah, bosnya ini selalu membuatnya deg-degan. Tak mengira kalau Dewa masuk ke pantry. Mungkin dipikirnya ada OB di sana.Setelah membuat dua gelas teh dan secangkir kopi, Nadia mengambil ponsel di saku celana bahannya. Menelepon sang ibu untuk bertanya tentang kondisi putranya."Assalamu'alaikum," suara ibunya di seberang. Sebenarnya Nadia tadi sudah memberitahu kalau lembur

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   68. Bertemu Adam 1

    NADIA- 30 Bertemu AdamPintu ruang kerja Dewa diketuk dua kali kemudian masuk Mbak Ayi menghampiri bosnya."Silakan duduk," ujar Dewa sambil menutup laptop.Mbak Ayi duduk di kursi depan meja kaca itu. Dewa langsung masuk ke inti pembicaraan tanpa basa-basi. "Bagaimana dengan laporan akhir tahun, Mbak?""Masih proses final, Pak. Masih saya kerjakan bareng Nadia. Data dari vendor sudah masuk semua, tinggal sinkronisasi angka dan penyusunan. Hari ini kemungkinan saya dan Nadia akan lembur untuk menyelesaikannya.""Oke. Sebab lusa saya harus meeting sebelum liburan akhir tahun."Mbak Ayi mengangguk."Soal family gathering. Tim kita bisa ikut semua?""Iya, Pak. Semua staf ikut termasuk Nadia?"Ada jeda sepersekian detik. Dewa lega mendengar jawaban itu. Namun wajahnya tetap tenang tak terbaca kalau hatinya penuh harapan.Dewa meraih telepon meja dan menekan tombol interkom. "Didit, masuk sebentar."Tak lama Didit muncul di ambang pintu. Kemudian duduk di kursi sebelah Mbak Ayi, sambil me

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   67. Pengakuan 3

    "Ya, aku tertarik," jawab Arif lugas dan langsung menyengat ulu hati Dewa. "Kayaknya dia tipe yang tenang, nggak banyak gaya. Dan aku nggak peduli dia janda. Makanya aku ngomong baik-baik sama kamu."Ada jeda. Hening yang terasa menekan. Dewa merasakan dadanya memberontak. Ini tak bisa dibiarkan. Dewa menyandarkan tubuhnya dengan gelisah. Lantas menarik napas pelan. Ia tahu jika diam saja, Arif akan terus maju. Apa ia harus mengaku kalau suka sama Nadia? Belum apa-apa pasti Arif bakalan membuat heboh. Padahal ia belum bicara apapun pada Nadia. Khawatirnya justru membuat Nadia akan menjauh. Dewa berdehem singkat. "Nadia punya pacar," ujar Dewa tegas. Ini adalah kebohongan yang dirasa Dewa cukup aman.Arif mengernyit. "Serius?""Ya. Kemarin dia pulang dari seminar di antar pacarnya."Wajah Arif terlihat kecewa. Keduanya diam beberapa lama. "Baru pacaran, kan? Berarti masih ada peluang?" Arif punya harapan."Jangan ganggu kekasih orang. Kamu juga punya pacar, kan? Mau kamu ke mana kan L

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   66. Pengakuan 2

    "Pagi," jawab Nadia seraya membalas senyum rekan kerjanya. "Hari ini aku kesiangan, Ri."Kebetulan lagi haid, jadi Nadia tidak bangun salat subuh. Tapi malah bangun telat. Mana tadi Adam agak panas badannya. Membuat Nadia khawatir namun ia harus tetap berangkat ke kantor."Nanti Bulek yang ngasih dia obat. Kamu jangan khawatir. Nggak enak kalau izin. Kamu kan baru kerja. Lagian panasnya Adam 37°, nanti diminumi obat pasti langsung membaik." Bulek Sari menenangkannya. Nadia lega.Selama pulang ke rumah mamanya, baru dua kali ini Adam sakit demam. Dulu ketika masih di rumah Davin, Adam sering sekali sakit. Panas, batuk, pilek. Baru sehat beberapa minggu, kemudian sakit lagi."Bagaimana seminar kemarin?" tanya Riri. "Nanti kubagi ilmunya sambil kita ngobrol saat break makan siang.""Oke. Kamu pulang jam berapa kemarin?""Sampai rumah hampir jam lima.""Kamu pulangnya dijemput sopir lagi? Kulihat motormu masih diparkiran. Kupikir kamu sudah datang tadi.""Oh iya, Ri. Aku pulang naik taks

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   65. Pengakuan 1

    NADIA - 29 Pengakuan Setelah Tito pamit keluar, Davin menghela napas berat. Suasana kantor masih sangat sepi karena mereka datang lebih pagi. Memang disengaja karena Davin ingin mendengar cerita dari Tito tentang Nadia.Dada pria itu terasa seperti diremas dari dalam. Sesak, menekan, membuat jantung berdetak tidak beraturan seolah hendak pecah kapan saja. Sesalan yang tak akan cukup untuk menebus apa yang telah hilang.Empat tahun ia menggenggam sesuatu yang begitu berharga, dan dilepaskan dengan tangan dan kesadarannya sendiri. Tidak hanya dilepas, tapi dijatuhkan. Setelah empat tahun dibiarkan retak dan terluka."Kamu sudah nyambangi Adam?" tanya mamanya saat Davin mampir ke rumah dua hari yang lalu."Belum, Ma. Hari Minggu kemarin Adam diajak jalan-jalan sama Nadia.""Nggak harus hari Minggu. Sepulang kerja kamu bisa singgah sebentar. Biar dia ingat kalau punya papa, Dav. Dulu kamu nggak peduli, sekarang juga bodo amat. Kamu ini ayah macam apa."Davin diam sambil menyesap kopinya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status