Dinara duduk di samping Julia, terdiam. Mulai memikirkan skenario Julia yang adalah solusi dari rumor itu, juga dari hukuman bosnya yang semena-mena.Apa yang disampaikan Julia, mulai terasa masuk akal. Menerima Andaliman kembali, untuk menjauhi Elang Adikara.Malam itu, Dinara sulit tidur, ia memikirkan bagaimana nanti berada di antara dua laki-laki yang posisinya sama-sama ‘bukan siapa-siapa’. Apa ia harus menyerahkan diri pada Andaliman, agar Elang menjaga jarak? Apa ide ini akan berhasil, atau malah jadi sama-sama bersitegang?“Ya, ampun… aku harus bagaimana?” Dinara mengusap wajahnya berkali-kali.Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tak mau tidur. Mungkin tak ada salahnya mencoba ide Julia ini. Akhirnya setelah jam satu, ia baru tertidur.Pukul empat, ia harus bangun. Setelah mandi kilat, lalu mengenakan pakaian formal setelan rok plisket mahogani serta kemeja putih yang kontras dengan roknya. Dipermanis dengan sabuk kecil warna putih.Dinara mengaca lebih dekat.Ia meringis, “Ouh, m
Magbasa pa