Dinara melangkah masuk ke area tengah yang tergabung dengan ruang makan. Di sana, di meja makan yang menghadap ke taman, Elang dan Karin duduk berseberangan. Suasana yang tadinya sunyi mendadak berubah saat kehadiran Dinara tertangkap oleh radar mereka.Karin, yang sedang menyesap teh terakhirnya, langsung mendongak. Wajahnya yang cantik dan selalu tampak modis itu memberikan senyum tipis.“Oh, Dinara! Sudah bangun?” sapanya dengan nada riang yang terdengar sedikit berlebihan di telinga Dinara. “Gimana? Sudah sehat? Maaf semalam saya tidak bisa menemani karena ya...ada bisnis yang harus diselesaikan.”Dinara menunduk hormat, mencoba mengabaikan tatapan Elang yang terasa seperti es yang menusuk kulitnya. “Sudah jauh lebih baik, Bu. Maaf membuat khawatir. Hari ini, saya sudah siap menemani Ibu jalan-jalan.”Karin langsung berdiri dengan semangat, matanya berbinar. “Wah, bagus kalau begitu! Aku sudah nggak sabar pengen keliling," Ia kemudian menoleh pada Elang. “Ayo, sayang, kita jalan
Magbasa pa