Dinara menatap butiran obat di atas meja itu dengan pandangan mengabur. Rasanya seperti baru saja disiram air es di tengah panasnya demam yang ia rasakan. Kenyataan bahwa Elang begitu tenang dan penuh persiapan, membuat ia menyadari bahwa bagi Elang, kejadian semalam mungkin sudah direncanakan, atau setidaknya, ia adalah risiko yang sudah diantisipasi sebelumnya.“Minum, Dinara. Sekarang,” perintah Elang lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun sarat akan ancaman.Dengan tangan yang gemetar hebat, Dinara meraih butiran obat itu. Ia mengambil gelas air putih sisa sarapannya, lalu menelannya dalam satu kali teguk. Rasanya pahit, sepahit harga dirinya yang kini terasa hancur berkeping-keping.Elang memperhatikan Dinara saat menelan obat itu. Setelah memastikan obat itu berpindah ke perut sekretarisnya, ekspresi tegang di wajahnya sedikit mengendur, namun tatapannya tetap mengunci Dinara.“Pintar,” bisik Elang. Ia mengulurkan tangan, ibu jarinya mengusap sudut bibir Dinara yang
Magbasa pa