“Mingze,” perintah Fenglan tanpa mengalihkan tatapannya yang penuh arti dari wajah Mojin. “Bawakan aku sepasang pakaian wanita lengkap. Jangan lupa bedak, gincu merah, dan sumpelan dada dari apa saja terserah, air boleh kain boleh, bantal pun boleh.”Suasana hening sesaat. Angin dari luar masuk ke dalam tenda dan membuat Mojin berkedip tiga kali. Mulutnya sedikit terbuka, dan daging kering yang tadi ia pegang meluncur jatuh ke lantai.“J-Jenderal, maksudnya apa? Untuk siapa benda-benda perempuan itu? Jenderal merindukan Nyonya Muda?”Fenglan menyeringai dan membuat Mojin semakin ketakutan.“Kau punya kulit paling halus di kesatukan kita, Mojin. Kita harus memanfaatkannya. Malam ini, kau bukan lagi prajurit di garis depan.”Wajah Mojin seketika pucat. Ia mundur selangkah, dan punggungnya menabrak tiang tenda.“Tidak, jangan, Jenderal, aku seorang lelaki!” teriaknya sambil menepuk dadanya yang rata.“Cita-citaku ingin jadi panglima perang yang gagah berani, bukan kembang desa dan tersen
Read more