Share

33. Papan Nama

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2026-01-08 23:21:39

Mojin perlahan membuka matanya. Rasa sakit menjalar di kedua bahu dan punggungnya. Seketika ia teringat pada tiga anak panah yang nyaris membuatnya bereinkarnasi lebih cepat.

"Kak Lei Jun, Kak Han Yu?" panggilnya sambil melirik kiri dan kanan. Tenggorokannya terasa kering karena beberapa hari tidak minum.

Tatapannya terhenti pada tubuh mungil yang beranjak dari kursi kayu di sudut ruangan.

"Kakak prajurit sudah sadar?"

Suara lembut itu bagai gemericik air sungai di telinganya. Mojin mengerjap, dan memastikan pandangannya. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda dengan pakaian sederahana juga bersih.

Rambutnya dikepang satu ke samping. Tidak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Mojin mengenalinya sebagai gadis yang ia suruh berlari dan menyelamatkan warga yang lain.

"Kau." Mojin mencoba bangun, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya meringis. "Aww, sakitnyaaa."

"Jangan memaksakan diri, Kakak Prajurit! Lukamu masih basah." Gadis itu mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.

Tangan kecil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    38. Rasanya Bagaimana?

    Tabib Xu memejamkan matanya. Ruangan itu terasa hening, semua menunggu keputusan sang legenda medis. Mata Tabib Xu terbuka perlahan dan terlihat sangat berat."Kalian semua salah. Ini bukan penumpukan dahak, dan bukan sekadar ketidakseimbangan Yin dan Yang." Tabib Xu membelai janggut putihnya dan Ia menatap Muyin lekat-lekat."Nadi yang Nyonya Muda rasakan seperti langkah kaki kuda yang cepat adalah tanda kehidupan lain di dalam tubuhnya."“Maksudnya?” Muyin tak mengerti."Dua atau tiga bulan.” Tabib Xu mengulang lagi.“Apanya, Guru?” Muyin garuk-garuk kepala.“Heei, padahal kau perempuan masak tidak paham, Nyonya Muda Li, pasien itu hamil muda dan sangat berbahaya hamil di tengah wabah,” ucap Tabib Xu.Suasana di tenda berubah menjadi jauh lebih tegang. Dua tabib istana ternganga, wajah mereka pucat menyadari kesalahan yang hampir mereka buat."Celaka dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas. Ini membuat segalanya menjadi rumit. Ramuan untuk membunuh wabah ini bersifat keras da

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    37. Diagnosa Awal

    "Muyin, bawa kotak jarummu kemari!" perintah Tabib Xu.Muyin, yang baru saja selesai meminum toniknya, segera bergegas menghampiri. Dua tabib istana turut hadir dan di hadapan merka terbaring seorang perempuan muda dengan wajah bintik-bintik merah dan tubuh lemah lesu serta mirip seperti bunga layu.Bibirnya pecah-pecah seperti tidak mendapat pasokan air munum, kondisi yang sangat mengkhawatirkan."Lihat ini." Tabib Xu menunjuk dada pasien yang naik turun tak beraturan. "Ramuan herbal sudah masuk, tapi Qi kotor di dalam tubuhnya menolak keluar. Demamnya sudah tujuh hari tidak turun. Jika dibiarkan semalam lagi, organ dalamnya akan terbakar habis dan dia akan meninggal serta menambah daftar korban yang tutup usia karena wabah."“Ini tidak bisa dibiarkan.”“Kalau wabah tidak selesai, bisa-bisa kepala kita dipenggal oleh kaisar,” ujar dua tabib bergantian.Tabib Xu menatap ke arah Muyin. "Aku sudah tua, mataku mulai rabun untuk mencari titik meridian yang halus di malam hari. Kau saja y

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    36. Bunga Rindu

    "Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin kementerian mengirim kita ke kandang babi seperti ini?"Suara keluhan itu mengganggu konsentrasi Muyin. Di gerbang desa, rombongan bantuan dari ibukota baru saja tiba.Dua orang tabib paruh baya terlihat turun dengan wajah masam, diikuti empat orang dayang medis yang mengenakan seragam hijau lumut berbahan halus. Cara berpakaian yang tidak cocok untuk ditempat yang sedang terkena wabah.Salah satu dayang medis, yang tampaknya paling senior, mengangkat roknya tinggi-tinggi dengan ujung jari. Wajahnya terlihat jijik saat melihat tanah becek bercampur muntahan dan lumpur di hadapannya."Sepatu sutraku bisa rusak kalau menginjak tanah ini.""Lihat orang-orang itu, kulit mereka bintik-bintik dan baunya ugh, aku bisa muntah sekarang juga.""Benar, Kak. Seharusnya kita melayani selir di istana yang wangi, bukan mengurus petani rendahan yang bau busuk begini," timpal dayang lainnya sambil menutup hidung dengan sapu tangan yang wangi.Mereka berdiri mem

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    35. Merajut Dendam

    Muyin bergerak perlahan mendekati seorang wanita tua yang terbaring lemah di atas tumpukan jerami kering. Wanita itu, yang dipanggil warga desa sebagai Nenek Qin, tubuhnya kurus kering dengan kulit keriput karena pengaruh usia."Nenek, waktunya minum obat," ucap Muyin lembut sambil berlutut.Ia meniup uap panas dari sendok kayu, lalu menyodorkannya ke bibir Nenek Qin. Namun, wanita tua itu tidak membuka mulutnya. Matanya yang cekung karena demam justru terbuka lebar, dan menatap wajah Muyin tanpa berkedip. Tatapan itu begitu intens bahkan sambil menitikkan air mata."Nenek, apakah obatnya terlalu panas?" tanya Muyin karena keheranan.Tangan Nenek Qin yang gemetar hebat perlahan terangkat. Jari-jarinya yang kasar dan keriput berusaha menyentuh ujung lengan baju Muyin."Nyonya Yu, apakah ini benar dirimu? Apakah Nyonya kembali menjemput dan membawa hamba pergi?"Muyin tersentak. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Yu adalah nama marga ibu kandungnya, Yu Xi Rou."Siapa?" Muyin meletakka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    34. Nyonya Muda Li

    Bau anyir muntahan dan keheningan yang mencekam adalah suasana yang tergambar di Desa Lu sekarang. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, dan hanya terdengar suara batuk yang bersahut-sahutan dari balik dinding kayu rumah warga.Tanpa membuang waktu untuk beristirahat atau menyapa para penduduk, Tabib Xu langsung mengambil alih wilayah kosong di tengah desa, yang dekat dengan sumber air."Jangan diam saja. Wabah bergerak lebih cepat dari angin!" ucap Tabib Xu. Ia tahu Keyi ketakutan melihat mayat ditutupi tikar di pinggir jalan.Muyin sempat menutup hidung agar ia tak ikut-ikutan muntah. Lalu ia teringat bahwa seorang tabib harus menutup mulut serta hidung agar tidak tertular penyakit. Wanita dengan lesung pipi itu meraih sapu tangan putih di lengan baju dan menutup separuh wajahnya.“Terlihat sangat mengerikan. Belum pernah aku melihat kematian tragis seperti ini, selain kematian kakakku,” gumam Muyin sambil menghapus satu titik air matanya."Buka peralatannya sekarang, Nyonya Muda." Tabi

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    33. Papan Nama

    Mojin perlahan membuka matanya. Rasa sakit menjalar di kedua bahu dan punggungnya. Seketika ia teringat pada tiga anak panah yang nyaris membuatnya bereinkarnasi lebih cepat."Kak Lei Jun, Kak Han Yu?" panggilnya sambil melirik kiri dan kanan. Tenggorokannya terasa kering karena beberapa hari tidak minum.Tatapannya terhenti pada tubuh mungil yang beranjak dari kursi kayu di sudut ruangan."Kakak prajurit sudah sadar?"Suara lembut itu bagai gemericik air sungai di telinganya. Mojin mengerjap, dan memastikan pandangannya. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda dengan pakaian sederahana juga bersih.Rambutnya dikepang satu ke samping. Tidak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Mojin mengenalinya sebagai gadis yang ia suruh berlari dan menyelamatkan warga yang lain."Kau." Mojin mencoba bangun, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya meringis. "Aww, sakitnyaaa.""Jangan memaksakan diri, Kakak Prajurit! Lukamu masih basah." Gadis itu mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.Tangan kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status