Muyin naik ke ranjang dengan sangat hati-hati, takut salah gerak sedikit saja ia akan menindih suaminya. Ranjang milik warga desa itu benar-benar sempit, lebarnya tak lebih dari rentangan tangan orang dewasa."Geser sedikit," bisik Fenglan."Ini sudah dekat dinding," balas Muyin sambil cemberut. Bahkan di kediaman Tabib Xu walau kasurnya juga sempit jadi miliknya sendiri.Mau tidak mau, tubuh mereka harus berdempetan. Bahu bertemu bahu, lengan bertemu lengan.Kehangatan tubuh Fenglan langsung menjalar menembus baju tidur Muyin, dan membuat bulu kuduk wanita itu meremang karena sensasi aneh yang menggelitik perutnya.Keduanya berbaring kaku seperti mayat, tapi dibilang mayat juga masih hidup. Mata mereka menatap langit-langit kamar yang gelap, tapi pikiran melayang ke mana-mana.Tiba-tiba, Fenglan mengubah posisi kakinya karena pegal. Tanpa sengaja, betisnya yang keras dan panas menyentuh telapak kaki Muyin yang dingin."Ah!" Muyin kaget, dan langsung menarik kakinya."Maaf," ucap Feng
Read more