Share

BAB 94

Auteur: Avelynne
last update Date de publication: 2026-01-27 21:55:33

Malam semakin larut, namun tidur adalah hal terakhir yang bisa kulakukan.

Luna sudah masuk ke kamarnya sejam yang lalu tanpa mengucapkan selamat malam. Pintu kamarnya tertutup rapat, seolah menjadi barikade yang memisahkan kami.

Keheningan di Penthouse ini terasa mencekam, seperti ketenangan sebelum badai besar menerjang.

Arjuna sedang berdiri di balkon luar, menikmati rokok malamnya. Asap putih mengepul ke udara, menghilang ditelan kegelapan langit Jakarta.

Aku memperhatikannya dari balik pint
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 325

    Layar ponselku berkedip sesaat sebelum kuubah ke mode senyap total. Kulempar benda pipih itu ke atas nakas hingga menimbulkan bunyi benturan tumpul.Elang sudah tertidur lelap di kamarnya sejak dua jam lalu.Aku berjalan melintasi ruang tengah penthouse yang sepi. Tanganku menekan sakelar, mematikan deretan lampu utama.Satu-satunya sumber cahaya kini hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut ruangan dan pendar layar laptop Arjuna.Suamiku duduk kaku di sofa kulit. Bahunya menegang. Kemeja putihnya sudah terlepas dari dua kancing teratas, memperlihatkan kulit lehernya yang mengkilap oleh keringat tipis.Pria itu sedang menatap layar, tapi aku tahu dia tidak sedang membaca satu kata pun. Otaknya sedang menyimulasikan berbagai skenario untuk esok hari.Makan siang dengan Raka Wibisana.Aku melangkah mendekat. Sepatuku sudah kulepas, membiarkan telapak kakiku telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin."Aneh," gumam Arjuna tiba-tiba. Suara baritonnya memecah kesunyian dengan nada s

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 324

    Lampu neon supermarket bersinar putih menyilaukan. Udara dari rak pendingin buah menusuk kulit lenganku yang hanya berbalut blus katun tipis.Aku memutar apel fuji merah di tanganku. Memeriksa memar atau cacat pada kulit lilinnya.Sabtu siang ini aku sengaja keluar rumah sendirian. Tanpa pengawalan, tanpa supir, dan tanpa suamiku. Aku menolak membiarkan skandal media sosial mengurungku di dalam dinding penthouse.Aku butuh normalitas. Menyentuh buah, mendengar suara roda troli, dan berdiri di antara rak makanan.Namun normalitas itu terpotong secara mendadak.Seorang perempuan berusia awal tiga puluhan melangkah maju dan memblokir ujung lorong. Dia mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut dan memegang sekantong plastik berisi jeruk.Langkahnya ragu, tapi matanya menatapku lurus."Ibu Alea Zahra?" sapa perempuan itu. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menghentikan laju duniaku.Tanganku yang sedang memegang apel fuji langsung membeku. Urat-urat di leherku menegang seketik

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 323

    Cahaya matahari pagi menyengat permukaan kulit dengan intensitas pas. Panas yang menjanjikan hari Sabtu tanpa hujan.Roda stroller berhenti berputar di atas paving blok taman kompleks mewah ini.Elang meronta keras di kursinya. Tangan kecilnya memukul-mukul sabuk pengaman tanpa ampun, menuntut kebebasan absolut dari kurungan kain tersebut.Anak laki-laki berusia sembilan belas bulan itu memaksa turun. Aku melepas kait pengamannya dengan sekali klik.Sepatu kets putihnya langsung memijak rumput tebal yang masih sedikit basah oleh sisa embun semalam. Dia melangkah tertatih. Goyah ke kiri dan kanan, namun secara keras kepala menolak berpegangan pada tanganku.Arjuna berjalan dua langkah di belakangnya. Pria itu menyingkirkan ponselnya ke dalam saku celana training hitamnya.Tidak ada layar yang menyala menyilaukan mata. Tidak ada panggilan masuk bernada darurat dari divisi PR. Pagi ini, tidak ada krisis korporat yang menuntut darah dan kewarasan kami.Aku duduk di bangku beton yang dingi

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 322

    Layar ponselku menyala terang di samping tumpukan map proyeksi finansial. Getaran beruntunnya membelah konsentrasiku pagi ini.Aku sedang menyusun daftar divisi untuk proses audit internal. Menolak mengasihani diri sendiri atau menangisi nasib perusahaan yang sedang goyah. Aku butuh bergerak cepat.Satu notifikasi berita dari portal nasional muncul di layar kunci. Judulnya dicetak tebal, mendominasi layar dengan huruf kapital yang telanjang."Raka Wibisana, Penggugat Diwangsa, Buka Suara: 'Artikel Ini Bukan yang Aku Inginkan'."Jari telunjukku terhenti di atas keyboard laptop. Ruang kerjaku yang dingin seketika terasa menyusut.Aku menyambar ponsel itu. Menggeser layarnya secepat kilat dan membuka tautan artikel tersebut. Mataku menyapu deretan paragraf berita dengan kecepatan penuh.Pukul delapan pagi tadi, Raka menggelar konferensi pers dadakan. Lokasinya di lobi firma hukum pribadinya. Tidak ada pengacara pendamping, tidak ada naskah tertulis di tangannya.Video sematan di artikel

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 321

    Pagi tiba membawa rasa pedih yang menyengat di sudut mataku.Kurang tidur membuat kedua pelipisku berdenyut seirama dengan detak jantung. Tubuhku terasa berat, menolak perintah otak untuk bergerak.Namun aroma mentega cair yang terbakar pelan di atas wajan menarikku keluar dari lorong gelap menuju dapur.Arjuna berdiri membelakangiku di depan kompor marmer. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaus abu-abu polos yang melekat ketat di punggung lebarnya.Tangan kanannya memegang spatula silikon. Pria itu sedang berjuang membalik telur dadar di dalam teflon panas.Bentuk telur itu hancur berantakan. Sama sekali tidak bulat sempurna. Bagian kuningnya robek lebar di tengah, memperlihatkan kematangan yang tidak merata.Aku menarik kursi island dapur tanpa suara dan duduk bersandar. Mengawasi gerak-geriknya dalam diam.Pria ini, tiran raksasa yang semalam merosot hancur mempertanyakan moralitasnya sendiri di atas karpet, pagi ini sibuk mengurus sarapan putranya.Arjuna memotong telur cacat i

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 320

    Pukul tiga pagi. Kegelapan di dalam kamar tidur ini terasa sangat pekat dan menekan.Aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Mimpi buruk yang bentuknya tidak kuingat baru saja memaksaku membuka mata secara paksa.Tanganku secara naluriah meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong.Seprai sutra di sana terasa sangat dingin di bawah telapak tanganku. Tidak ada sisa kehangatan tubuh yang tertinggal.Arjuna belum kembali sejak pembicaraan keras kami di ruang makan berjam-jam yang lalu.Aku duduk perlahan. Menyingkirkan selimut tebal yang membebat kakiku dengan perasaan waswas. Rasa cemas langsung merayap naik, mencengkeram dadaku dengan erat.Lantai marmer mengantarkan suhu beku ke telapak kakiku saat aku melangkah turun dari ranjang. Lorong penthouse ini dibiarkan gelap gulita.Hanya suara dengung pelan dari mesin pendingin sentral yang menemani langkahku.Namun di ujung koridor, ada satu garis cahaya kuning pucat yang membelah kegelapan.Cahaya tipis itu merembes dari bawah celah pi

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 31

    "Saya terima."Dua kata itu meluncur dari bibirku, berat dan penuh keputusasaan.Aku menunggu Arjuna tersenyum. Aku menunggu dia membantuku berdiri, atau mungkin langsung menelepon rumah sakit untuk menyelamatkan Ibu.Tapi dia tidak melakukan keduanya.Arjuna melepaskan tanganku yang tadi menggengg

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 36

    Bau rumah sakit biasanya identik dengan karbol menyengat, obat-obatan, dan keputusasaan. Tapi tidak di sini.Di lantai 8 Paviliun Kencana Medistra, udaranya beraroma lemongrass dan bunga segar. Lantainya dilapisi parket kayu hangat, bukan keramik putih dingin. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 37

    Lilin-lilin aromaterapi beraroma vanila dan sandalwood menyala di sepanjang meja makan marmer hitam itu.Cahayanya yang temaram berpendar lembut, memantul pada gelas-gelas kristal tinggi dan peralatan makan perak yang tertata presisi.Di tengah meja, ada vas bunga mawar merah segar yang kelopaknya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 38

    AC ruangan disetel di suhu terendah, membuat udara terasa kering dan membekukan.Aku duduk di barisan tengah, berusaha mati-matian untuk fokus mencatat.Pena di tanganku bergerak di atas kertas, menyalin grafik yang ada di papan tulis. Tapi pikiranku melayang jauh.Melayang ke makan malam "romantis

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status