Share

BAB 94

Auteur: Avelynne
last update Date de publication: 2026-01-27 21:55:33

Malam semakin larut, namun tidur adalah hal terakhir yang bisa kulakukan.

Luna sudah masuk ke kamarnya sejam yang lalu tanpa mengucapkan selamat malam. Pintu kamarnya tertutup rapat, seolah menjadi barikade yang memisahkan kami.

Keheningan di Penthouse ini terasa mencekam, seperti ketenangan sebelum badai besar menerjang.

Arjuna sedang berdiri di balkon luar, menikmati rokok malamnya. Asap putih mengepul ke udara, menghilang ditelan kegelapan langit Jakarta.

Aku memperhatikannya dari balik pint
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 323

    Cahaya matahari pagi menyengat permukaan kulit dengan intensitas pas. Panas yang menjanjikan hari Sabtu tanpa hujan.Roda stroller berhenti berputar di atas paving blok taman kompleks mewah ini.Elang meronta keras di kursinya. Tangan kecilnya memukul-mukul sabuk pengaman tanpa ampun, menuntut kebebasan absolut dari kurungan kain tersebut.Anak laki-laki berusia sembilan belas bulan itu memaksa turun. Aku melepas kait pengamannya dengan sekali klik.Sepatu kets putihnya langsung memijak rumput tebal yang masih sedikit basah oleh sisa embun semalam. Dia melangkah tertatih. Goyah ke kiri dan kanan, namun secara keras kepala menolak berpegangan pada tanganku.Arjuna berjalan dua langkah di belakangnya. Pria itu menyingkirkan ponselnya ke dalam saku celana training hitamnya.Tidak ada layar yang menyala menyilaukan mata. Tidak ada panggilan masuk bernada darurat dari divisi PR. Pagi ini, tidak ada krisis korporat yang menuntut darah dan kewarasan kami.Aku duduk di bangku beton yang dingi

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 322

    Layar ponselku menyala terang di samping tumpukan map proyeksi finansial. Getaran beruntunnya membelah konsentrasiku pagi ini.Aku sedang menyusun daftar divisi untuk proses audit internal. Menolak mengasihani diri sendiri atau menangisi nasib perusahaan yang sedang goyah. Aku butuh bergerak cepat.Satu notifikasi berita dari portal nasional muncul di layar kunci. Judulnya dicetak tebal, mendominasi layar dengan huruf kapital yang telanjang."Raka Wibisana, Penggugat Diwangsa, Buka Suara: 'Artikel Ini Bukan yang Aku Inginkan'."Jari telunjukku terhenti di atas keyboard laptop. Ruang kerjaku yang dingin seketika terasa menyusut.Aku menyambar ponsel itu. Menggeser layarnya secepat kilat dan membuka tautan artikel tersebut. Mataku menyapu deretan paragraf berita dengan kecepatan penuh.Pukul delapan pagi tadi, Raka menggelar konferensi pers dadakan. Lokasinya di lobi firma hukum pribadinya. Tidak ada pengacara pendamping, tidak ada naskah tertulis di tangannya.Video sematan di artikel

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 321

    Pagi tiba membawa rasa pedih yang menyengat di sudut mataku.Kurang tidur membuat kedua pelipisku berdenyut seirama dengan detak jantung. Tubuhku terasa berat, menolak perintah otak untuk bergerak.Namun aroma mentega cair yang terbakar pelan di atas wajan menarikku keluar dari lorong gelap menuju dapur.Arjuna berdiri membelakangiku di depan kompor marmer. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaus abu-abu polos yang melekat ketat di punggung lebarnya.Tangan kanannya memegang spatula silikon. Pria itu sedang berjuang membalik telur dadar di dalam teflon panas.Bentuk telur itu hancur berantakan. Sama sekali tidak bulat sempurna. Bagian kuningnya robek lebar di tengah, memperlihatkan kematangan yang tidak merata.Aku menarik kursi island dapur tanpa suara dan duduk bersandar. Mengawasi gerak-geriknya dalam diam.Pria ini, tiran raksasa yang semalam merosot hancur mempertanyakan moralitasnya sendiri di atas karpet, pagi ini sibuk mengurus sarapan putranya.Arjuna memotong telur cacat i

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 320

    Pukul tiga pagi. Kegelapan di dalam kamar tidur ini terasa sangat pekat dan menekan.Aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Mimpi buruk yang bentuknya tidak kuingat baru saja memaksaku membuka mata secara paksa.Tanganku secara naluriah meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong.Seprai sutra di sana terasa sangat dingin di bawah telapak tanganku. Tidak ada sisa kehangatan tubuh yang tertinggal.Arjuna belum kembali sejak pembicaraan keras kami di ruang makan berjam-jam yang lalu.Aku duduk perlahan. Menyingkirkan selimut tebal yang membebat kakiku dengan perasaan waswas. Rasa cemas langsung merayap naik, mencengkeram dadaku dengan erat.Lantai marmer mengantarkan suhu beku ke telapak kakiku saat aku melangkah turun dari ranjang. Lorong penthouse ini dibiarkan gelap gulita.Hanya suara dengung pelan dari mesin pendingin sentral yang menemani langkahku.Namun di ujung koridor, ada satu garis cahaya kuning pucat yang membelah kegelapan.Cahaya tipis itu merembes dari bawah celah pi

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 319

    Ruang makan penthouse ini tidak pernah terasa sedingin malam ini.Mesin pendingin sentral berdengung pelan, mengirimkan udara beku yang menusuk langsung ke permukaan kulitku. Di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip tanpa suara.Di dalam sini, kesunyian terasa begitu pekat hingga membuat telingaku sakit.Elang sudah lelap di kamarnya sejak satu jam yang lalu. Anak itu tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang menghancurkan kewarasan kedua orang tuanya.Meja makan kayu jati raksasa ini bersih tanpa hidangan apa pun. Tidak ada makan malam. Tidak ada nafsu untuk menelan makanan.Hanya ada dua cangkir teh chamomile yang diletakkan tepat di tengah meja.Uap panasnya menari pelan ke udara, perlahan-lahan menipis sebelum akhirnya menghilang sama sekali. Teh itu mendingin tanpa disentuh.Sama seperti sisa-sisa kehangatan di antara kami.Aku duduk bersandar kaku di ujung meja. Jemariku bertaut erat di atas pangkuan, menyembunyikan getaran halus yang sejak pagi menolak reda.Arj

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 318

    Hari keempat pasca-artikel. Pukul enam pagi.Gedung Diwangsa Corp masih terasa lengang seperti kuburan mewah. Aku sengaja datang lebih awal. Menghindari kerumunan wartawan lapar yang sudah memblokade lobi utama sejak matahari terbit.Ruang kerjaku menyambut dengan aroma lemon sintetis dari cairan pembersih dan dinginnya mesin pendingin udara. Sepi. Terlalu sepi.Aku meletakkan tas jinjingku di atas sofa. Berjalan menuju meja kerja mahoniku untuk menyalakan komputer.Langkahku terhenti seketika.Di atas permukaan meja yang biasanya bersih tanpa noda, ada satu kejanggalan. Selembar kertas putih tergeletak miring di dekat asbak kristal.Kertas itu tidak seharusnya ada di sana.Semalam, Arjuna mampir ke ruanganku. Dia memakai mejaku sebentar untuk menandatangani beberapa berkas krisis sebelum kami pulang.Satu lembar kertas ini pasti terlepas dari map kulit hitam sialannya.Aku mendekat perlahan. Ujung jariku menyentuh permukaan kertas yang tebal dan dingin.Firasat buruk langsung melilit

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 77

    Sinar matahari sore menembus tirai tipis kamar tamu yang kini kutempati.Aku berdiri di depan cermin lemari yang terbuka setengah, baru saja selesai mandi setelah pulang dari kampus.Handuk masih melilit di kepalaku, sementara tubuhku hanya mengenakan pakaian dalam.Aku menatap pantulan diriku di c

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 74

    Langkah kakiku tersandung saat mendekati Maybach hitam yang parkir di area VIP itu.Aura kemarahan yang memancar dari mobil itu begitu pekat hingga rasanya mencekik leherku bahkan sebelum aku menyentuh gagang pintunya.Belum sempat tanganku meraih tuas, pintu penumpang belakang terbuka lebar dengan

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 73

    Balairung Universitas Indonesia penuh sesak.Ribuan manusia tumpah ruah di sini. Suara riuh rendah obrolan, tawa bahagia, dan pengumuman dari pengeras suara bercampur menjadi satu dengungan raksasa yang memekakkan telinga. \Udara terasa panas dan lembap meski AC sentral menyala maksimal, dikalahka

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 60

    Aku membanting pintu toilet VIP yang berat itu hingga tertutup dengan suara BLAM yang menggelegar. Untungnya, musik dari ballroom cukup keras untuk meredam kegilaanku ini.Tanganku gemetar hebat saat mengunci pintu.Aku bersandar pada daun pintu yang dingin, napasku terengah-engah seperti orang yan

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status