INICIAR SESIÓNSuhu di ruang rapat eksekutif lantai lima puluh Diwangsa terkunci di angka tujuh belas derajat. Udara dingin menyapu permukaan meja mahoni raksasa yang mendominasi bagian tengah ruangan.Enam direktur senior duduk dalam formasi melingkar. Postur tubuh mereka tegang. Tidak ada yang bersandar rileks di kursi kulit mereka.Arjuna duduk di ujung meja utama. Pria itu memakai jas abu-abu gelap dengan dasi yang terpasang presisi. Tangannya memegang sebuah map fisik berwarna hitam tebal.Dia mengangkat map itu setinggi dada, lalu melemparnya ke tengah meja.Bunyi benturan kertas tebal dan kayu mahoni terdengar sangat keras. Suaranya memotong kesunyian absolut di ruangan tersebut. Map itu meluncur sejauh setengah meter sebelum berhenti tepat di tengah formasi."Tim ini kuat," tembak Arjuna langsung. Bariton suaranya membelah udara dingin tanpa basa-basi pembuka.Matanya menyapu keenam wajah eksekutif di depannya satu per satu."Tapi kuat beda dengan siap memimpin penuh," lanjut Arjuna tajam. "
Kamis malam. Suhu ruang keluarga diatur presisi pada angka dua puluh derajat. Udara dingin berdesir dari ventilasi pendingin sentral di langit-langit.Empat orang dewasa duduk melingkar. Aku dan Arjuna menempati sofa panjang berlapis kain abu-abu. Raka dan Raina duduk di dua kursi tunggal yang berhadapan langsung dengan posisi kami. Meja kaca rendah berbentuk persegi memisahkan formasi ini. Empat gelas air mineral bersuhu ruang berdiri di atasnya.Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada musik latar. Elang sudah tertidur di kamarnya sejak satu jam lalu.Raka meletakkan kedua lengannya di atas paha. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos, lengannya digulung hingga siku."Kami bawa tiga hal malam ini," buka Raka tanpa basa-basi. Suara baritonnya memotong kesunyian ruangan secara langsung."Katakan," balas Arjuna singkat. Punggung suamiku bersandar rileks di sofa. Matanya mengunci tatapan adik tirinya."Firma kami membuka praktik baru," urai Raka ce
Suhu udara di kafe kecil dekat gedung firma kami tertahan pada angka delapan belas derajat. Udara dingin dari pendingin ruangan industrial menabrak kulit wajahku secara konstan. Mesin pembuat espresso di belakang meja kasir berdesis tajam, memecah kebisingan lalu lintas pagi Jalan Sudirman di luar jendela kaca raksasa.Raka duduk tepat di seberangku. Meja kayu bundar berdiameter enam puluh sentimeter memisahkan kami. Jas abu-abunya disampirkan asal pada sandaran kursi. Kemeja hitamnya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat lengannya yang menonjol.Dua cangkir espresso ganda tersaji di atas meja. Asap tipis menguar dari permukaan cairan hitam pekat itu. Tidak ada dari kami yang menyentuh gagang keramik tersebut. Kami berdua membiarkan suhu kopi itu merosot."Divisi baru firma kita," ucap Raka, menembak duluan. Suaranya memotong kebisingan kafe tanpa basa-basi pembuka. "Kasus yang menggabungkan konflik keluarga dan sengketa bisnis. Klien manufaktur kemarin membuktikan pasar
Suhu pendingin ruangan di apartemenku terkunci pada angka delapan belas derajat. Udara dingin menyapu permukaan meja kerja berlapis kaca di depanku.Pukul sebelas malam. Layar laptopku menampilkan deretan angka dari laporan keuangan firma konsultan kami. Laba bersih kuartal ketiga menunjukkan grafik vertikal yang tajam. Angka itu solid. Tidak ada celah.Tapi mataku tidak lagi fokus pada angka-angka tersebut.Aku meraih ponsel di sebelah laptop. Permukaan logamnya terasa dingin menempel di telapak tanganku. Aku menekan satu nama dari daftar kontak cepat.Panggilan tersambung pada nada dering kedua."Kamu sibuk?" tanyaku. Suaraku memecah keheningan apartemen secara langsung. Aku memotong semua basa-basi."Tidak. Aku baru selesai menyusun materi mediasi untuk besok," jawab Raina dari seberang jaringan. Suaranya terdengar jernih, tanpa jejak kantuk sedikit pun. "Ada masalah dengan klien?""Tidak ada. Aku baru mengevaluasi firma kita," laporanku cepat. Aku berdiri dari kursi, melangkah men
Suhu pendingin ruangan kafe ini menyentuh angka dua puluh derajat. Udara dingin berputar dari langit-langit, menabrak langsung kulit wajahku secara konstan.Laras duduk tepat di seberangku. Meja kayu bundar berdiameter enam puluh sentimeter memisahkan posisi kami. Permukaan kayunya kasar, dipenuhi goresan asimetris bekas pemakaian pengunjung selama bertahun-tahun.Hanya ada dua cangkir keramik berisi kopi hitam tanpa gula di atas meja ini.Tidak ada tumpukan kertas fisik. Tidak ada map plastik merah dari editor penerbit yang membatasi jarak pandang di antara kami berdua."Ingat pertama kali kita duduk di meja ini?" Laras membuka percakapan. Suaranya memotong kebisingan mesin espresso dari arah bar di belakangku."Tentu," balasku cepat. "Satu tahun lalu. Dulu ada map editor di antara kita. Kita sangat berhati-hati menyusun kata demi kata.""Kita saling mengukur seberapa besar ancaman yang dibawa satu sama lain lewat draf naskah itu," tambah Laras lugas. "Kita datang membawa posisi defe
Layar laptop menyala di atas meja makan. Cahaya putihnya memantul langsung ke wajahku. Edisi lengkap dengan empat bab resmi rilis pagi ini.Arjuna menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir teh. Uap panas mengepul ke udara, menabrak suhu pendingin ruangan yang disetel pada angka sembilan belas derajat."Ada ulasan baru yang masuk," ucapku tanpa basa-basi pembuka.Mataku menelusuri rentetan teks hitam di platform ulasan daring.Arjuna meletakkan teko kaca ke atas meja. Dia menarik kursi kayu dan duduk tepat di seberangku."Ulasan tentang keseluruhan buku edisi baru?" tanya Arjuna."Dari pembaca yang sudah baca tiga bab awal sebelumnya," jawabku cepat. Jariku menggeser trackpad ke bawah. "Dia bilang bab empat menunjukkan hal yang jauh lebih dalam.""Tentang bagian Elang?" Arjuna langsung memotong ke sasaran. Otaknya bekerja dengan presisi tinggi memetakan inti draf finalku."Iya," balasku lugas. Aku menyorot satu kalimat spesifik di layar. "Dia menulis: 'Cara Ibu menulis tentang anak







