MasukLayar ponselku berkedip sesaat sebelum kuubah ke mode senyap total. Kulempar benda pipih itu ke atas nakas hingga menimbulkan bunyi benturan tumpul.Elang sudah tertidur lelap di kamarnya sejak dua jam lalu.Aku berjalan melintasi ruang tengah penthouse yang sepi. Tanganku menekan sakelar, mematikan deretan lampu utama.Satu-satunya sumber cahaya kini hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut ruangan dan pendar layar laptop Arjuna.Suamiku duduk kaku di sofa kulit. Bahunya menegang. Kemeja putihnya sudah terlepas dari dua kancing teratas, memperlihatkan kulit lehernya yang mengkilap oleh keringat tipis.Pria itu sedang menatap layar, tapi aku tahu dia tidak sedang membaca satu kata pun. Otaknya sedang menyimulasikan berbagai skenario untuk esok hari.Makan siang dengan Raka Wibisana.Aku melangkah mendekat. Sepatuku sudah kulepas, membiarkan telapak kakiku telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin."Aneh," gumam Arjuna tiba-tiba. Suara baritonnya memecah kesunyian dengan nada s
Lampu neon supermarket bersinar putih menyilaukan. Udara dari rak pendingin buah menusuk kulit lenganku yang hanya berbalut blus katun tipis.Aku memutar apel fuji merah di tanganku. Memeriksa memar atau cacat pada kulit lilinnya.Sabtu siang ini aku sengaja keluar rumah sendirian. Tanpa pengawalan, tanpa supir, dan tanpa suamiku. Aku menolak membiarkan skandal media sosial mengurungku di dalam dinding penthouse.Aku butuh normalitas. Menyentuh buah, mendengar suara roda troli, dan berdiri di antara rak makanan.Namun normalitas itu terpotong secara mendadak.Seorang perempuan berusia awal tiga puluhan melangkah maju dan memblokir ujung lorong. Dia mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut dan memegang sekantong plastik berisi jeruk.Langkahnya ragu, tapi matanya menatapku lurus."Ibu Alea Zahra?" sapa perempuan itu. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menghentikan laju duniaku.Tanganku yang sedang memegang apel fuji langsung membeku. Urat-urat di leherku menegang seketik
Cahaya matahari pagi menyengat permukaan kulit dengan intensitas pas. Panas yang menjanjikan hari Sabtu tanpa hujan.Roda stroller berhenti berputar di atas paving blok taman kompleks mewah ini.Elang meronta keras di kursinya. Tangan kecilnya memukul-mukul sabuk pengaman tanpa ampun, menuntut kebebasan absolut dari kurungan kain tersebut.Anak laki-laki berusia sembilan belas bulan itu memaksa turun. Aku melepas kait pengamannya dengan sekali klik.Sepatu kets putihnya langsung memijak rumput tebal yang masih sedikit basah oleh sisa embun semalam. Dia melangkah tertatih. Goyah ke kiri dan kanan, namun secara keras kepala menolak berpegangan pada tanganku.Arjuna berjalan dua langkah di belakangnya. Pria itu menyingkirkan ponselnya ke dalam saku celana training hitamnya.Tidak ada layar yang menyala menyilaukan mata. Tidak ada panggilan masuk bernada darurat dari divisi PR. Pagi ini, tidak ada krisis korporat yang menuntut darah dan kewarasan kami.Aku duduk di bangku beton yang dingi
Layar ponselku menyala terang di samping tumpukan map proyeksi finansial. Getaran beruntunnya membelah konsentrasiku pagi ini.Aku sedang menyusun daftar divisi untuk proses audit internal. Menolak mengasihani diri sendiri atau menangisi nasib perusahaan yang sedang goyah. Aku butuh bergerak cepat.Satu notifikasi berita dari portal nasional muncul di layar kunci. Judulnya dicetak tebal, mendominasi layar dengan huruf kapital yang telanjang."Raka Wibisana, Penggugat Diwangsa, Buka Suara: 'Artikel Ini Bukan yang Aku Inginkan'."Jari telunjukku terhenti di atas keyboard laptop. Ruang kerjaku yang dingin seketika terasa menyusut.Aku menyambar ponsel itu. Menggeser layarnya secepat kilat dan membuka tautan artikel tersebut. Mataku menyapu deretan paragraf berita dengan kecepatan penuh.Pukul delapan pagi tadi, Raka menggelar konferensi pers dadakan. Lokasinya di lobi firma hukum pribadinya. Tidak ada pengacara pendamping, tidak ada naskah tertulis di tangannya.Video sematan di artikel
Pagi tiba membawa rasa pedih yang menyengat di sudut mataku.Kurang tidur membuat kedua pelipisku berdenyut seirama dengan detak jantung. Tubuhku terasa berat, menolak perintah otak untuk bergerak.Namun aroma mentega cair yang terbakar pelan di atas wajan menarikku keluar dari lorong gelap menuju dapur.Arjuna berdiri membelakangiku di depan kompor marmer. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaus abu-abu polos yang melekat ketat di punggung lebarnya.Tangan kanannya memegang spatula silikon. Pria itu sedang berjuang membalik telur dadar di dalam teflon panas.Bentuk telur itu hancur berantakan. Sama sekali tidak bulat sempurna. Bagian kuningnya robek lebar di tengah, memperlihatkan kematangan yang tidak merata.Aku menarik kursi island dapur tanpa suara dan duduk bersandar. Mengawasi gerak-geriknya dalam diam.Pria ini, tiran raksasa yang semalam merosot hancur mempertanyakan moralitasnya sendiri di atas karpet, pagi ini sibuk mengurus sarapan putranya.Arjuna memotong telur cacat i
Pukul tiga pagi. Kegelapan di dalam kamar tidur ini terasa sangat pekat dan menekan.Aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Mimpi buruk yang bentuknya tidak kuingat baru saja memaksaku membuka mata secara paksa.Tanganku secara naluriah meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong.Seprai sutra di sana terasa sangat dingin di bawah telapak tanganku. Tidak ada sisa kehangatan tubuh yang tertinggal.Arjuna belum kembali sejak pembicaraan keras kami di ruang makan berjam-jam yang lalu.Aku duduk perlahan. Menyingkirkan selimut tebal yang membebat kakiku dengan perasaan waswas. Rasa cemas langsung merayap naik, mencengkeram dadaku dengan erat.Lantai marmer mengantarkan suhu beku ke telapak kakiku saat aku melangkah turun dari ranjang. Lorong penthouse ini dibiarkan gelap gulita.Hanya suara dengung pelan dari mesin pendingin sentral yang menemani langkahku.Namun di ujung koridor, ada satu garis cahaya kuning pucat yang membelah kegelapan.Cahaya tipis itu merembes dari bawah celah pi
Cermin setinggi langit-langit di kamar villa memantulkan sosok perempuan yang tampak sempurna, namun rapuh.Aku mengenakan gaun malam backless berbahan satin warna champagne yang jatuh memeluk tubuhku hingga menyapu lantai.Potongan lehernya rendah, menampilkan tulang selangka, sementara bagian pun
Ballroom utama resort itu megah luar biasa.Lampu gantung kristal raksasa menggantung di langit-langit yang tinggi, membiaskan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan.Meja-meja bundar berbalut taplak sutra putih tertata rapi, dikelilingi oleh ratusan tamu undangan yang berbalut gaun malam dan t
Jarum jam di dinding kamar tamu—yang kini dipenuhi koper dan barang-barang mewah Luna—menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit dini hari.Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di nakas. Di sampingku, di ranjang Queen Size yang empuk, Luna tidur dengan pulas. Napasnya
"Silakan, Pak Arjuna, Nona Alea. Kami akan lepas landas dalam lima menit."Pramugari cantik berseragam merah marun itu meletakkan dua gelas flute berisi champagne dingin di meja samping kursi, lalu membungkuk sopan dan mundur ke arah kokpit.Sreet.Dia menutup tirai tebal berwarna beige yang memisa







