MasukUdara Senin pagi di lantai eksekutif Diwangsa Corp terasa sangat padat dan mencekik.Aku duduk tegak di balik meja kerja mahoniku. Tiga tumpukan map menuntut eksekusi instan di hadapanku. Layar laptopku menyala terang menampilkan belasan email merah berstatus darurat.Mesin pemindai di sudut ruangan berdengung monoton mencetak salinan laporan keuangan.Aku tidak membuang waktu untuk panik. Tidak ada ruang untuk emosi saat rentetan krisis menyerang secara beruntun.Tanganku bergerak cepat. Menandatangani dokumen legal, memisahkan prioritas ke pinggir meja, dan mengetik email balasan ke tim audit dalam satu waktu. Aku beroperasi murni dengan efisiensi mesin.Pintu ruanganku terbuka pelan. Hendra melangkah masuk dengan tablet di tangannya. Wajahnya lurus, kaku, dan profesional.Aku tidak memintanya duduk."Cari tahu pasti sumber jurnalis itu detik ini juga," perintahku tanpa menoleh dari layar laptop. Tanganku terus mengetik draf instruksi audit. "Saya butuh nama lengkap, bukan sekadar i
Hujan turun dengan brutal menghantam kaca jendela penthouse siang ini.Tetesan air beradu dengan ketebalan kaca lapis ganda, menciptakan suara bising yang secara aneh justru terasa menenangkan. Langit Jakarta di luar sana berwarna abu-abu pekat tanpa ada celah sinar matahari.Elang sudah tertidur pulas di kamarnya sejak setengah jam lalu. Suhu pendingin ruangan berpadu dengan udara basah dari luar, membuat suasana ruang tengah ini terasa semakin beku.Aku duduk meringkuk di sudut sofa beludru. Memeluk kedua lututku erat-erat.Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, kepalaku tidak sedang menyusun skenario pertahanan diri. Tidak ada krisis mendesak yang menuntut eksekusi detik ini juga.Tidak ada jadwal sidang pengadilan. Tidak ada draf rilis pers yang harus direvisi oleh divisi legal.Kosong. Kelonggaran jadwal ini terasa sangat asing di sistem sarafku yang sudah terbiasa dipompa adrenalin.Aroma tajam biji kopi yang baru digiling menguar dari arah dapur bersih.Arjuna berdiri di d
Hujan rintik mulai membasahi kaca depan Maybach. Wiper bergerak dengan ritme monoton yang membelah keheningan kabin.Ponsel Arjuna tergeletak di atas konsol tengah dashboard. Benda pipih itu bergetar keras, layarnya menyala terang mengalahkan lampu jalanan Sudirman.Satu pesan masuk.Arjuna sedang memutar setir dengan kedua tangannya, bermanuver di tengah kemacetan."Tolong cek," perintah suamiku tanpa menoleh dari jalanan.Aku mengambil ponsel itu. Layarnya tidak terkunci. Mataku langsung menangkap nama pengirim di bilah notifikasi teratas.Raka Wibisana.Aku membuka ruang obrolan tersebut. Membaca kata pertama yang tertera di sana, dan suaraku tertahan seketika di kerongkongan."Mas Arjuna—" ucapku membacakan awalan teks itu.Mobil ini tersentak kejut. Arjuna menginjak pedal rem sedikit terlalu keras tepat saat lampu lalu lintas berubah merah.Sabuk pengamanku mengunci otomatis. Tubuhku tertahan paksa ke sandaran kursi kulit.Arjuna menoleh cepat ke arahku. Garis rahangnya mengeras
Bunyi benturan kaca dengan permukaan kayu memecah keheningan kamar tidur malam ini.Arjuna meletakkan dua gelas berisi air putih penuh di atas nakas sebelah ranjang. Gerakannya sangat presisi dan tanpa keraguan. Satu gelas ditaruh tepat di dekat lampu tidurku, satu lagi di sisinya.Suhu pendingin sentral meniupkan udara beku ke kulit leherku. Aku duduk bersandar pada headboard ranjang, melipat selimut tebal di atas pangkuan.Mataku mengikuti setiap inci pergerakan suamiku dalam diam.Ini hari Kamis malam. Minggu terberat dan paling berdarah dalam sejarah Diwangsa Corp.Kami baru saja kehilangan dua klien raksasa. Angka di layar proyeksi finansial merah menyala. Media massa masih menguliti masa lalu suamiku tanpa ampun di setiap halaman portal berita.Tapi rutinitas malam ini tidak berubah satu milimeter pun.Aku mulai menghitung inventaris kebiasaan kami di dalam kepala. Otakku menyortir kepingan-kepingan realita yang masih tersisa dari puing-puing krisis ini.Di tengah ancaman kebang
Ruang kerjaku siang ini dipenuhi bau kertas cetak segar dan dinginnya mesin pendingin udara.Tanganku sibuk membubuhkan tanda tangan di atas belasan dokumen audit internal. Gerakanku mekanis. Otakku dipaksa fokus pada deretan angka agar kewarasanku tidak menguap hari ini.Tiba-tiba, layar ponselku yang tergeletak di samping asbak kristal menyala terang.Getarannya menghantam permukaan meja mahoni dengan brutal. Bunyinya merobek keheningan ruangan tanpa ampun.Mataku menyipit menatap deretan angka di layar. Tidak ada nama kontak. Hanya ada kode negara di bagian depan.Plus enam lima. Singapura.Pena di tanganku berhenti bergerak. Setetes tinta hitam jatuh menodai dokumen putih di bawahnya.Aku membiarkan ponsel itu bergetar selama tiga detik penuh. Mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan benda dingin itu ke telinga kiriku."Aku di Singapura."Suara perempuan dari seberang sambungan langsung memotong ruang kosong di antara kami. Tanpa salam pembuka
Layar ponselku berkedip sesaat sebelum kuubah ke mode senyap total. Kulempar benda pipih itu ke atas nakas hingga menimbulkan bunyi benturan tumpul.Elang sudah tertidur lelap di kamarnya sejak dua jam lalu.Aku berjalan melintasi ruang tengah penthouse yang sepi. Tanganku menekan sakelar, mematikan deretan lampu utama.Satu-satunya sumber cahaya kini hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut ruangan dan pendar layar laptop Arjuna.Suamiku duduk kaku di sofa kulit. Bahunya menegang. Kemeja putihnya sudah terlepas dari dua kancing teratas, memperlihatkan kulit lehernya yang mengkilap oleh keringat tipis.Pria itu sedang menatap layar, tapi aku tahu dia tidak sedang membaca satu kata pun. Otaknya sedang menyimulasikan berbagai skenario untuk esok hari.Makan siang dengan Raka Wibisana.Aku melangkah mendekat. Sepatuku sudah kulepas, membiarkan telapak kakiku telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin."Aneh," gumam Arjuna tiba-tiba. Suara baritonnya memecah kesunyian dengan nada s
Debur ombak Samudra Hindia terdengar berirama di kejauhan, menghantam tebing karang di bawah villa privat kami di Nusa Dua.Langit Bali malam ini cerah. Bulan purnama menggantung rendah, memancarkan cahaya perak yang memantul di permukaan air kolam renang infinity yang gelap dan tenang. Ujung kolam
Cermin setinggi langit-langit di kamar villa memantulkan sosok perempuan yang tampak sempurna, namun rapuh.Aku mengenakan gaun malam backless berbahan satin warna champagne yang jatuh memeluk tubuhku hingga menyapu lantai.Potongan lehernya rendah, menampilkan tulang selangka, sementara bagian pun
Ballroom utama resort itu megah luar biasa.Lampu gantung kristal raksasa menggantung di langit-langit yang tinggi, membiaskan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan.Meja-meja bundar berbalut taplak sutra putih tertata rapi, dikelilingi oleh ratusan tamu undangan yang berbalut gaun malam dan t
Jarum jam di dinding kamar tamu—yang kini dipenuhi koper dan barang-barang mewah Luna—menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit dini hari.Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di nakas. Di sampingku, di ranjang Queen Size yang empuk, Luna tidur dengan pulas. Napasnya







