Rusdi membeku, lalu mengangguk pelan tanpa sadar. “Ya sudah, sana pergi,” usir Adisty lagi. Setelah mengangguk, Rusdi berjalan cepat meninggalkan ruang tengah. Ancaman Adisty benar-benar membuat nyalinya menciut. Rusdi belum siap kehilangan pekerjaannya. Ia masih butuh uang untuk hidup, pun dengan ibunya yang butuh banyak biaya pengobatan. Saat melintasi lorong menuju dapur, langkah Rusdi terhenti mendadak. Ia melihat Vivian sedang berdiri sendirian di depan kulkas yang terbuka, menuang air dingin ke dalam gelas. Gaun mandinya sudah berubah menjadi gaun rumahan tipis yang membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna. “Bilang sama Nyonya gak ya?” tanya Rusdi pada dirinya sendiri. Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada siapapun di sana. Akhirnya, Rusdi memutuskan untuk bicara pada Vivian. Mungkin, jika Vivian tahu, Rusdi bisa mendapat pertolongan. "Nyonya," panggil Rusdi dengan suara bergetar hebat, langkahnya mengendap mendekati Vivian. "Gawat, Nya." Vivian menoleh, dahinya be
最終更新日 : 2025-12-24 続きを読む