Hana terdiam. Ia menoleh, lalu menyadari tatapan Rusdi yang gugup dan kancing bajunya yang terbuka. Seketika wajahnya memerah hingga ke telinga. Dengan gerakan cepat, ia merapatkan bajunya, jari-jarinya gemetar saat mengancing. “Mas Rusdi!” tegurnya pelan, campur malu dan gugup. Rusdi langsung menunduk. “M-maaf, Neng. Bukan sengaja. Saya— saya gak berani lihat kok.” Hana menarik napas dalam, wajahnya masih memerah karena malu. Namun, ia mencoba kembali fokus ke luka di jari Rusdi. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi sentuhannya tetap lembut. “S–Sudah,” katanya akhirnya, sambil membalut jari Rusdi rapi. “Lain kali jangan dibiarkan berdarah begini.” Rusdi mengangguk, jantungnya masih berdebar. “Makasih, Neng. Kalau gitu saya keluar dulu ya.” Rusdi melangkah keluar dengan perasaan tak karuan. Jujur saja, dada Hana memang tampak lebih lembut dan kencang ketimbang milik Vivian. Mungkin karena Hana juga masih muda. *** Siang itu, Rusdi sedang duduk di bangku taman belakang.
Last Updated : 2025-12-20 Read more