MasukSelamat membaca
Rusdi menahan napas kuat-kuat di balik pintu ruang ganti yang sedikit terbuka. Jantungnya berdetak kencang sekali sampai rasanya mau meledak. Dari celah sempit itu, dia melihat Tuan Adrian sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang terhubung langsung ke tempat persembunyian Rusdi.Tangan majikannya itu sudah terangkat dan siap memutar gagang pintu.'Mati aku,' batin Rusdi panik. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya yang telanjang. Kalau pintu itu terbuka, tamat sudah riwayatnya. Tidak ada jalan lain untuk lari.Namun tepat saat jari Tuan Adrian menyentuh gagang pintu, terdengar suara yang mengejutkan dari arah ranjang."HUEEEK!"Suara itu terdengar keras dan menyakitkan. Tuan Adrian kaget setengah mati dan langsung menarik tangannya menjauh dari pintu. Dia menoleh cepat ke arah kasur.Di sana, Nyonya Vivian sedang mencondongkan tubuhnya ke tepi ranjang. Wajah cantiknya memerah dan dia memegangi lehernya seolah sedang menahan sesuatu yang mau keluar dari perutnya.Ger
Rusdi duduk di sofa kecil di pojok kamar, matanya tak lepas memandangi Nyonya Vivian yang tertidur pulas di ranjang. Cahaya matahari siang yang terik menembus tipis-tipis lewat celah gorden tebal, membuat suasana kamar jadi remang-remang sejuk.Di balik selimut, Vivian masih memakai kemeja flanel kotak-kotak milik Rusdi. Rusdi tersenyum tipis melihatnya. Rasanya aneh tapi bangga, kemeja kerjanya yang bau keringat itu dipakai membalut tubuh nyonya rumah yang wangi dan mulus.Tapi ketenangan itu pecah berantakan.Dari arah halaman depan, terdengar suara deru mesin mobil yang halus masuk ke garasi. Rusdi langsung tegak. Telinganya hafal betul suara itu. Itu suara sedan mewah Tuan Adrian.Rusdi melirik jam dinding. Baru jam dua siang.'Mampus,' batin Rusdi panik. 'Katanya meeting sampai sore, kok jam segini sudah pulang?'Suara pintu mobil dibanting terdengar keras. Rusdi langsung loncat ke tepi ranjang dan mengguncang bahu Vivian."Nyonya! Nyonya, bangun!" bisik Rusdi panik.Vivian melen
Rusdi duduk di sofa kecil yang ada di pojok kamar, tidak jauh dari ranjang besar tempat Vivian berbaring. Suasana kamar itu sunyi, cuma terdengar suara dengungan halus AC yang menghembuskan udara dingin.Rusdi diam memandangi majikannya dari jauh.Di balik selimut tebal itu, lekuk tubuh Nyonya Vivian masih terlihat samar-samar. Gundukan di bagian dada dan pinggulnya yang besar tercetak jelas di balik kain selimut. Wajah cantiknya terlihat tenang tapi matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar. Kemeja kotak-kotak lusuh milik Rusdi masih dia pakai, kerahnya menyembul sedikit dari balik selimut. Warna kemeja yang kusam itu kelihatan beda banget kalau disandingkan dengan kulit leher Nyonya Vivian yang putih mulus dan bersih.'Cantik banget,' batin Rusdi. Dia merasa aneh sendiri. Wanita seindah ini tidur di depannya, memakai baju kerjanya yang bau apek, dan minta dijaga olehnya."Rus..." panggil Vivian pelan, memecah kesunyian."Dalem, Nya? Nyonya butuh sesuatu?" Rusdi langsung mene
"Nyonya, kita masuk ke kamar saja yuk," ajak Rusdi dengan nada khawatir. Dia melihat wajah Vivian yang tadinya merah karena menangis sekarang malah jadi pucat. "Matahari makin terik di sini. Nanti Nyonya malah pingsan kalau kelamaan di luar."Vivian mengangguk lemah sambil memijat pelipisnya. "Iya, Rus. Kepala saya muter rasanya."Vivian mencoba berdiri dari kursi santai itu. Namun baru saja dia menegakkan badan, lututnya goyah. Tubuhnya yang padat dan berisi itu limbung ke samping seolah tidak ada tenaganya."Eh, awas Nya!"Rusdi dengan sigap menangkap pinggang Vivian sebelum wanita itu jatuh ke lantai kayu. Lengan Rusdi yang kekar langsung menahan bobot tubuh Vivian yang berat dan mantap.Rusdi bisa merasakan betapa halusnya kulit pinggang Vivian di balik kemeja flanelnya yang kebesaran itu. Tubuh Nyonya Vivian ini memang beda. Beratnya pas, dagingnya padat, dan terasa 'penuh' saat dipeluk. Bukan berat lemak gelambir, tapi berat wanita yang sehat dan terawat."Maaf Rus... Kaki saya
Vivian masih menempelkan keningnya di kening Rusdi. Napas hangat wanita itu menerpa wajah Rusdi dan membawa aroma wangi yang bercampur dengan bau asin air mata.Tiba-tiba angin siang yang cukup kencang berhembus di area kolam renang.Tubuh Nyonya Vivian yang setengah telanjang itu menggigil sedikit karena kena angin. Rusdi sadar kalau majikannya ini sedang rapuh sekali. Hatinya hancur dan badannya terbuka begitu saja di udara terbuka. Rasa kasihan Rusdi muncul dan mengalahkan pikiran kotornya. Naluri laki-lakinya ingin melindungi wanita ini.Rusdi memundurkan wajahnya sedikit lalu melepas kemeja kotak-kotak lusuh yang dia pakai sebagai luaran. Kemeja itu warnanya sudah pudar dan baunya agak apek karena keringat kerja.Dengan gerakan canggung tapi lembut, Rusdi menyampirkan kemeja itu ke bahu Vivian untuk menutupi punggung dan dada montoknya yang sedari tadi terbuka."Tutup dulu badannya, Nya," kata Rusdi pelan sambil merapatkan kerah kemeja itu di dada Vivian. "Anginnya makin kencang.
Rusdi menutup pintu kamar Adisty pelan-pelan. Dia menghela napas panjang sambil menyeka keringat di dahinya. Urusan dengan adik Tuan Adrian yang satu itu memang selalu bikin pusing kepala. Rusdi berusaha masa bodoh, yang penting dia sudah menuruti perintah dan aman dari omelan.Rusdi melangkah santai menuju area samping rumah. Niat awalnya mau mengambil selang air untuk menyiram taman, tapi langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di tepi kolam renang.Di atas kursi santai yang empuk, Nyonya Vivian sedang berbaring telungkup.Rusdi menelan ludah. Pemandangan ini adalah favoritnya. Kalau Non Adisty badannya kencang dan atletis karena rajin olahraga, Nyonya Vivian ini beda. Dia benar-benar matang. Tubuhnya padat, berisi, dan montok di semua bagian yang tepat.Saat ini Nyonya Vivian cuma pakai bikini warna hitam yang kainnya irit sekali. Bagian punggungnya terekspos penuh ke arah matahari karena tali bikininya sudah dilepas. Kulitnya yang kuning langsat terlihat sangat







