بيت / Urban / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 202: Rindu yang Tak Terbendung

مشاركة

BAB 202: Rindu yang Tak Terbendung

مؤلف: Benduls
last update تاريخ النشر: 2026-04-15 15:47:23

Malam itu rumah gang kecil terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan gerimis tipis kembali turun, suaranya pelan menghantam atap seng. Lampu ruang tengah menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang menerangi sofa dan meja makan. Dava duduk di sofa, memegang secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin. Matanya menatap foto Nadia di dinding, tapi pikirannya melayang ke Aurelia yang semakin hari semakin lelah.

Aurelia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya masih basah,
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 210: Pergi Tanpa Sepengetahuan

    Pagi itu Aurelia terbangun lebih awal dari Dava. Cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai masih samar. Tubuhnya masih sakit, memar di leher dan pinggul terasa panas setiap kali bergerak. Ia menatap Dava yang tidur di sampingnya dengan napas pelan. Wajah Dava penuh luka dan memar, bibirnya pecah, rusuknya naik-turun dengan susah payah. Aurelia mengusap pipi Dava dengan sangat lembut, air matanya jatuh pelan. Pesan Reinhart semalam masih terngiang jelas di kepalanya: “Besok sore pukul 17.00, Aurelia harus datang ke tempatku sendiri. Sendirian. Kalau kamu datang dengan Dava… aku akan bunuh dia di depan matamu.” Ia tahu Dava tidak akan pernah mengizinkan. Dava akan melawan, akan mencoba melindunginya, dan itu justru bisa membuatnya mati. Aurelia tidak sanggup kehilangan Dava. Setelah semua yang mereka lewati — kematian Nadia, Reza, dan sekarang Reinhart — ia memutuskan untuk pergi sendiri. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Dava, Aurelia bangkit dari ranjang. Ia menulis p

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 209: Suara Reinhart yang Masih Bergema

    Pagi itu rumah gang kecil terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela tidak mampu menghangatkan suasana yang berat. Aurelia masih berbaring di ranjang, tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis. Memar di leher, dada, dan pinggulnya terlihat jelas meski sudah diolesi salep. Setiap gerakan kecil membuatnya meringis. Dava duduk di tepi ranjang, tubuhnya sendiri penuh luka dan memar dari pukulan kemarin. Ia memegang kain hangat, membersihkan luka di lengan Aurelia dengan gerakan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh terlalu kuat. Mereka hampir tidak bicara. Aurelia sudah menceritakan semuanya tentang Reza semalam — photoshoot, video call, hubungan intim yang dipaksa, dan ancaman pindah. Dava mendengarkan dengan hati hancur, tapi pagi ini mereka tidak lagi membahas Reza. Hari ini, yang mendominasi pikiran mereka adalah Reinhart. Aurelia menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Air matanya sudah kering, tapi wajahnya masih pucat. “Dav… aku m

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 208: Luka yang Tak Hanya di Tubuh

    Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, meski lampu kamar sudah menyala redup. Hujan gerimis masih turun pelan di luar, suaranya seperti bisikan yang tak pernah berhenti. Di atas ranjang yang berantakan, Aurelia terbaring telanjang, tubuhnya gemetar hebat. Memar-merah baru terlihat jelas di lehernya, dada, pinggul, dan paha bagian dalam. Air matanya terus mengalir tanpa suara, wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar menahan isak yang tertahan di tenggorokan. Dava berbaring di sampingnya, tubuhnya sendiri penuh luka dan memar dari pukulan preman Reza. Rusuknya sakit setiap kali bernapas, bibirnya pecah, dan ada luka robek di alis. Tapi ia tidak peduli pada dirinya sendiri. Dengan tangan yang gemetar karena sakit, ia menarik selimut tipis menutupi tubuh Aurelia, lalu memeluknya dari samping dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakitinya lebih lagi. “Lia… maaf… maafkan aku…” bisik Dava, suaranya pecah. Air matanya jatuh ke rambut Aurelia. “Aku nggak bisa lindungin kamu… aku lema

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 207: Ancaman di Balik Pintu

    Reinhart berdiri di tengah ruang tengah yang berantakan, senyum dinginnya masih terukir di wajah. Matanya berpindah dari Dava yang tergeletak lemah di lantai ke Aurelia yang memeluk Dava sambil menangis tersedu. Udara pagi yang seharusnya segar kini terasa pengap dan penuh ancaman. “Menarik sekali,” kata Reinhart pelan, suaranya rendah tapi menusuk. “Pria bayaran dan mantan istriku masih saling peluk setelah bertahun-tahun. Kalian berdua memang tidak pernah berubah.” Dava mencoba bangkit, tapi rasa sakit di rusuk dan perut membuatnya hanya bisa meringis. Darah masih menetes dari bibirnya. “Reinhart… ini bukan urusanmu lagi. Pergi dari sini.” Reinhart tertawa kecil, tepuk tangannya sekali lagi dengan irama dingin. “Bukan urusanku? Aurelia dulu istriku. Kamu dulu karyawanku yang kubayar mahal untuk menghamilinya. Sekarang kalian main api di rumah kecil ini? Lucu sekali.” Ia melangkah mendekat. Anak buahnya yang berjumlah delapan orang langsung mengambil posisi. Dua orang langsun

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 206: Kedatangan yang Tak Terduga

    Pagi berikutnya datang dengan suasana tegang yang terasa di udara. Rumah gang kecil itu masih menyimpan bekas kekacauan kemarin sore — beberapa kursi masih miring, lantai ada noda darah kering yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Dava bangun dengan tubuh penuh memar, rusuknya sakit setiap kali bernapas, tapi ia tetap berusaha tersenyum saat melihat Aurelia yang tidur di pelukannya. Aurelia terbangun dengan wajah cemas. “Dav… sakitnya masih parah ya? Kamu nggak usah bangun dulu.” Dava mengusap rambut Aurelia lembut. “Aku kuat. Kita harus siap. Reza bilang dia akan datang lagi pagi ini.” Belum sempat mereka sarapan, suara beberapa mobil berhenti di mulut gang terdengar jelas. Kali ini bukan dua mobil, tapi empat. Pintu mobil dibanting keras. Reza turun duluan, diikuti tujuh preman bertubuh kekar dengan wajah garang. Beberapa membawa pentungan kayu dan besi pendek. Reza berjalan ke depan pintu dengan langkah penuh amarah. “Lia! Keluar sekarang! Aku sudah kasih waktu semalam. Kal

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 205: Obat dan Pelukan yang Penuh Cinta

    Malam semakin larut setelah Reza dan preman-premannya pergi. Rumah gang kecil itu kembali sunyi, hanya suara hujan gerimis tipis yang masih turun pelan di luar. Lantai ruang tengah berantakan — kursi terguling, meja miring, dan beberapa tetes darah Dava masih terlihat di keramik. Dava masih duduk bersandar di sofa, tubuhnya penuh memar dan luka. Bibirnya pecah, pipi kanannya bengkak, ada luka robek kecil di alis, dan perut serta rusuknya terasa sakit setiap kali bernapas. Aurelia berlutut di depannya, tangannya gemetar memegang kotak P3K yang sudah tua. “Dav… maaf… ini semua salah aku,” bisik Aurelia sambil membersihkan darah di bibir Dava dengan kapas yang dibasahi air hangat. Air matanya jatuh tanpa henti ke lantai. “Kalau aku nggak bohong, Reza nggak akan marah seperti ini…” Dava memegang tangan Aurelia yang sedang membersihkan lukanya, suaranya pelan meski sakit. “Lia… jangan menangis. Aku nggak apa-apa. Luka ini nggak seberapa dibanding lihat kamu ketakutan tadi.” Aurelia men

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 125: Panggilan Pagi dari Clara

    Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 124: Pengakuan di Ruang Kerja

    Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya b

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 123: Rindu yang Terlepas

    Keesokan harinya, pagi di apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Matahari menyelinap pelan lewat gorden tipis, menerangi ruang tamu kecil yang sudah mulai terasa seperti rumah sementara. Nadia bangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal dari trauma dan malam-malam yang penuh ketakutan. Ia

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 122: Kunjungan yang Penuh Rindu dan Diam

    Dava mengemudikan mobilnya pelan. Jalanan kota sudah mulai macet, tapi pikirannya lebih macet lagi. Ia sudah memutuskan untuk mengunjungi Nadia dan Aurelia di apartemen mereka — tempat aman yang Aurelia bilang “Reinhart tidak akan tahu”. Ia tidak memberi tahu siapa pun, bahkan tidak ibu Nadia. Hany

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status