Setelah ciuman panjang yang seolah menghentikan waktu itu berakhir, Sienna membuka matanya perlahan. Napasnya masih sedikit terengah, sementara rona merah merambat naik mewarnai kedua pipinya, terlihat begitu kontras dari balik topeng angsa putihnya.Lucian menatapnya dengan sorot mata yang masih menggelap oleh damba. Ibu jari sang Kaisar bergerak dengan sangat lembut, mengusap rahang Sienna sebelum akhirnya turun untuk menggenggam tangan wanita itu. Jari-jari besar Lucian menyusup di sela-sela jemari Sienna, menautkan tangan mereka dalam sebuah genggaman yang posesif."Ayo," bisik Lucian, suaranya masih terdengar serak. "Malam masih panjang."Sienna mengangguk dengan senyum yang tak kunjung luntur. Mereka berdua mulai menyusuri jalanan alun-alun utama yang kini terasa semakin hidup setelah pertunjukan kembang api selesai.Suasana malam itu benar-benar meriah. Udara dipenuhi oleh aroma manis karamel, kayu manis panggang, dan anggur hangat. Di setiap sudut jalan, para pemusik j
Read more