Se connecterSuara Lucian yang dipenuhi aura membunuh menggema, memantul di antara tebing-tebing batu dan menusuk tajam ke telinga siapa pun yang mendengarnya.Sebuah decakan kasar meluncur dari sela bibir Alexander. Raja Eldoria itu menggertakkan giginya dengan kesal, memacu kudanya semakin gila untuk memperlebar jarak dari sang Dewa Perang yang kini mengamuk di belakang mereka.Di dalam dekapan pria gila itu, Sienna seketika tersentak. Sayup-sayup, suara suaminya menembus kabut rasa sakit dan sisa obat bius di kepalanya. Lucian benar-benar datang, suaminya itu benar-benar selamat. Kesadaran itu memicu letupan adrenalin yang memaksa mata sayu Sienna untuk terbuka. Ia tahu pasti, pria yang menahannya ini mendengar raungan itu juga. Sienna menatap ke bawah, melihat tanah berbatu dan semak berduri yang berkelebat dengan kecepatan mengerikan di bawah tapak kuda. Pikirannya yang kalut dan putus asa memunculkan sebuah ide gila, bagaimana jika ia menjatuhkan dirinya begitu saja dari atas pelana? Jik
Derap langkah tapak kuda yang memekakkan telinga merobek keheningan di dalam hutan pinus. Gelapnya malam dan kabut tebal yang menggantung di udara sama sekali tidak mampu memperlambat laju perburuan mematikan tersebut.Di barisan paling depan, Lucian memacu kuda perang raksasanya dengan kecepatan yang nyaris menyerupai tindakan bunuh diri. Ranting-ranting pinus yang tajam menyabet zirah, jubah, dan wajahnya, namun sang Kaisar itu sama sekali tidak mempedulikannya. Luka bakar di lengannya akibat ledakan terasa kebas, terkalahkan oleh kobaran amarah dan keputusasaan yang mendidih di dalam dadanya.Sepasang mata merah darahnya menyalang buas menembus kegelapan, mencari jejak musuh yang berani menyentuh miliknya.Membayangkan istrinya berada di dalam cengkraman pria gila, membuat kewarasan Lucian nyaris putus seutuhnya."Yang Mulia!" teriak Komandan Ksatria Bayangan dari arah belakang, memacu kudanya menyejajari sang Kaisar. "Anjing pelacak menangkap aroma di arah jam sebelas! Ada sebu
Alexander bangkit berdiri dari lantai tanah, melepaskan pandangannya dari Sienna, lalu melangkah lebar membuka pintu gubuk tersebut hanya sebatas celah yang cukup untuk melihat sosok ksatrianya."Bicaralah," desis Alexander.Ksatria Eldoria yang berdiri di luar tampak terengah-engah. Seragam gelapnya basah oleh keringat. "Ampuni saya, Yang Mulia Raja. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera meninggalkan titik ini sekarang juga."Mata biru Alexander menyipit tajam. "Jelaskan.""Pasukan pelacak Rivendia tidak memakan umpan kita," lapor ksatria itu dengan nada panik yang tertahan. "Taktik decoy yang kita jalankan dengan menyebar belasan kuda dan kereta ke arah timur dan selatan telah gagal total. “Kaisar Lucian tidak membagi pasukannya. Dia, bersama dengan pasukan elit Ksatria Bayangan, saat ini sedang memacu kuda dengan kecepatan penuh langsung menuju hutan pinus ini."Rahang Alexander mengeras kaku mendengarnya. "Bagaimana mereka bisa tahu rute yang kuambil di tengah ke
Gubuk kayu yang lembab dan terisolasi itu seolah menjelma menjadi sebuah ruang eksekusi kedap suara bagi kewarasan Sienna.Di hadapannya, penguasa tertinggi dari eldoria yang terkenal dengan kekejamannya itu terus meracau. Alexander masih berlutut di lantai tanah yang kotor, tangannya yang besar dan dingin terus membelai pergelangan kaki Sienna dengan pemujaan."Kita akan pulang ke Eldoria hari ini juga," bisik Alexander, matanya menerawang menembus dinding gubuk, tenggelam sepenuhnya dalam dunia delusinya sendiri. "Udara Rivendia terlalu dingin untukmu. Aku akan membangun ulang taman mawar di sayap selatan istana... sama persis seperti yang kau suka. Dan menara itu... menara tempat kau kedinginan... aku sudah merobohkannya. Semuanya. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu."Setiap kata yang meluncur dari bibir pria itu terasa seperti paku berkarat yang ditancapkan perlahan ke dalam tengkorak Sienna. Teror ini jauh lebih mengerikan daripada todongan pedang. "Kumohon... berhentilah..."
Kesadaran Sienna kembali secara perlahan, ditarik paksa dari dalam kegelapan pekat oleh rasa pening yang hebat di kepalanya. Sisa-sisa obat bius yang dihirupnya masih mengalir di dalam pembuluh darah, membuat setiap otot di tubuhnya terasa berat.Sienna membuka kelopak matanya dengan susah payah. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah langit-langit kayu kasar yang lapuk dan dipenuhi sarang laba-laba. Udara di sekitarnya terasa luar biasa lembab, bercampur dengan bau tanah basah dan asap kayu bakar dari perapian kecil yang berderak di sudut ruangan.Ini adalah sebuah gubuk perburuan yang terbengkalai.Ingatan tentang apa yang baru saja terjadi merangsek masuk ke dalam kepalanya seperti hantaman palu. Ledakan di Ruang Audiensi. Kepanikan di lorong istana. Dan lengan kuat yang membekap wajahnya di tengah kobaran api.Napas Sienna seketika memburu. Kepanikannya meledak ruah. Ia mencoba bangkit dengan cepat, namun baru menyadari bahwa tubuhnya telah dibaringkan di atas sebu
Di sisi lain istana, kobaran api menjilat-jilat liar menghancurkan sisa-sisa Ruang Audiensi.Pintu ganda berbahan kayu eboni raksasa yang telah tertimpa puing-puing bebatuan itu tiba-tiba meledak dari dalam, hancur berkeping-keping oleh sebuah tendangan dengan tenaga yang sama sekali tidak manusiawi.Dari balik tirai api dan debu reruntuhan, Lucian melangkah keluar.Aura sang Kaisar itu begitu mengerikan, segelap dan sedingin dewa kematian yang baru saja merangkak naik dari dasar jurang. Seragam kekaisarannya hangus di beberapa bagian, dan noda abu serta cipratan darah samar menutupi separuh wajah aristokratnya yang mengeras kaku.Lucian tidak keluar dengan tangan kosong. Di kedua tangannya yang besar dan berotot, ia membawa dua penguasa negara sekutu yang telah jatuh pingsan akibat menghirup terlalu banyak asap beracun dari bubuk peledak tersebut. Melihat Kaisar mereka berhasil keluar dari reruntuhan hidup-hidup, Komandan Ksatria Bayangan dan tim medis yang bersiaga di luar langsun
Sienna sesekali mencuri pandang pada Lucian yang kini berkonsentrasi penuh menatap hamparan tanaman herbal di depannya.Pemandangan di hadapan Sienna itu terasa begitu tidak nyata. Jubah hitam mewah yang tadi dikenakan pria itu sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas tanah. Kini, Lucian h
"Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta
Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang







