تسجيل الدخولSaat rentetan kembang api pertama meledak di udara, di sudut jalan yang tidak terlalu padat, Alice mendongak dengan bibir sedikit terbuka, menatap takjub pada bunga-bunga cahaya yang mekar di atas sana. Di tangan kanannya, ia memegang setusuk manisan apel karamel yang baru saja ia beli dari seorang pedagang tua yang ramah. Rasa manis karamel yang lumer di lidahnya berpadu sempurna dengan udara malam musim semi yang sejuk.Meskipun beberapa saat yang lalu Permaisuri Sienna telah memberikan perintah langsung padanya untuk pergi menikmati festival dengan bebas, Alice memilih untuk tidak mematuhi perintah itu sepenuhnya.Dari kejauhan, Alice bisa melihat siluet Permaisuri Sienna yang berdiri berdampingan dengan sosok menjulang tinggi sang Kaisar.Sebuah senyum tulus mengembang di balik topeng Alice saat ia melihat Lucian memeluk Sienna dari belakang untuk melindungi wanita itu dari dorongan kerumunan. Alice bisa melihat dengan jelas bagaimana Sienna tertawa bahagia, membalas peluk
Sepasang mata merah Lucian menyipit tajam, memindai kerumunan dengan insting mematikan. Ia mencoba mencari arah pandang istrinya, mencari tahu bajingan mana yang berani membuat Permaisurinya terlihat menegang di tengah kerumunan..Sienna menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia sangat ingin menghampiri pria tua itu. Ia ingin menarik kerah jubah ayahnya ke tempat sepi, menuntut apa yang sebenarnya pria itu inginkan, dan memperingatkannya untuk enyah dari sekitar sini sebelum Lucian memenggal kepalanya. Sienna butuh kepastian bahwa bayang-bayang masa lalunya itu tidak akan mengganggu hidup barunya.Namun di sisi lain, tangan Lucian yang menggenggamnya terasa begitu protektif. Sienna tahu betul jika ia jujur dan mengatakan bahwa ayahnya berani menampakkan diri, Lucian tidak akan memberinya kesempatan untuk berbicara. Sienna tidak ingin malam indahnya hancur karena pria benalu itu."Tidak ada siapa-siapa, Lucian," dusta Sienna pelan, memaksakan se
Setelah ciuman panjang yang seolah menghentikan waktu itu berakhir, Sienna membuka matanya perlahan. Napasnya masih sedikit terengah, sementara rona merah merambat naik mewarnai kedua pipinya, terlihat begitu kontras dari balik topeng angsa putihnya.Lucian menatapnya dengan sorot mata yang masih menggelap oleh damba. Ibu jari sang Kaisar bergerak dengan sangat lembut, mengusap rahang Sienna sebelum akhirnya turun untuk menggenggam tangan wanita itu. Jari-jari besar Lucian menyusup di sela-sela jemari Sienna, menautkan tangan mereka dalam sebuah genggaman yang posesif."Ayo," bisik Lucian, suaranya masih terdengar serak. "Malam masih panjang."Sienna mengangguk dengan senyum yang tak kunjung luntur. Mereka berdua mulai menyusuri jalanan alun-alun utama yang kini terasa semakin hidup setelah pertunjukan kembang api selesai.Suasana malam itu benar-benar meriah. Udara dipenuhi oleh aroma manis karamel, kayu manis panggang, dan anggur hangat. Di setiap sudut jalan, para pemusik j
Sejujurnya, Lucian berniat membiarkan permainan kecil mereka berlangsung sedikit lebih lama malam ini.Sebagai seorang pria yang telah terbiasa melatih instingnya di medan perang yang buas, menemukan keberadaan istrinya di tengah kerumunan manusia ini adalah hal yang terlalu mudah. Ia sudah tahu di mana Sienna berada sejak wanita itu turun dari kereta kuda. Lucian sebenarnya berencana untuk mengawasi dari kejauhan, berpura-pura kebingungan mencari, dan membiarkan Sienna tertawa puas di balik topeng angsanya karena merasa berhasil bersembunyi dari sang Kaisar. Ia hanya ingin melihat wanita itu bahagia.Namun, rencana itu menguap begitu saja beberapa saat yang lalu.Meski pria itu masih berdiri memeluk istrinya di bawah cahaya lampion, sepasang mata merah darah Lucian di balik topeng singa yang menutupi setengah wajahnya itu menatap tajam ke arah kerumunan yang berlalu-lalang. Rahangnya mengeras kaku. Ia memang belum bisa membuktikan siapa yang bersembunyi di balik bayangan gang tad
Alexander diam-diam mengikuti kereta kuda itu, memanfaatkan ramainya jalanan untuk menutupi keberadaannya.Tudung jubah hitamnya hingga menutupi separuh wajahnya yang sudah dipasangi topeng, saat ia melihat Sienna dibantu turun dari kereta kuda dan menapaki jalanan, pria itu menjaga jarak aman sebelum akhirnya turun dari kudanya dan menyusul..Mata Alexander menyapu kerumunan dengan buas bagaikan predator kelaparan, mencari kilau gaun dan topeng angsa yang dikenakan oleh Sienna.Ketika ia akhirnya menangkap siluet wanita itu di dekat sebuah kios penjual manisan, jantung Alexander berdegup kencang. Jarak mereka hanya terpaut belasan langkah.Alexander menyelinap di antara sekelompok pemabuk dan penari jalanan,
Suasana di dalam Paviliun Zamrud malam itu dipenuhi oleh antisipasi yang menggembirakan. Malam ini adalah malam pertama Festival Musim Semi, malam yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh penduduk ibu kota dan para bangsawan dari berbagai penjuru benua.Di dalam kamar rias yang terang benderang, Elizabeth berdiri di depan cermin. Ia mengenakan gaun festival berwarna biru yang indah. Gadis berambut pirang itu memutar tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah Alice yang sedang berdandan dengan bantuan pelayan."Alice, kau sungguh tidak ingin ikut bersama kami?" bujuk Elizabeth untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya memancarkan permohonan yang tulus."Rowan sudah menunggu di gerbang paviliun. Kereta kuda kami cukup luas untuk kita bertiga. Kami akan merasa jauh lebih tenang j
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia







