Share

BAB 408

Author: Rainina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-18 21:53:26

Keesokan harinya, seiring dengan terbenamnya matahari, Istana Kekaisaran Utara menjelma menjadi pusat kemegahan dunia.

Setelah Festival di alun-alun, malam pembukaan pesta dansa untuk Festival Musim Semi secara resmi dimulai. Aula Utama Istana itu bermandikan cahaya keemasan dari puluhan chandelier kristal raksasa.

Pilar-pilar putih dihiasi dengan sulur-sulur bunga mawar dan peony segar yang menebarkan aroma harum ke seluruh penjuru ruangan.

Ratusan bangsawan, baik dari kalangan elit kekaisara
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 443

    Suara Lucian yang dipenuhi aura membunuh menggema, memantul di antara tebing-tebing batu dan menusuk tajam ke telinga siapa pun yang mendengarnya.Sebuah decakan kasar meluncur dari sela bibir Alexander. Raja Eldoria itu menggertakkan giginya dengan kesal, memacu kudanya semakin gila untuk memperlebar jarak dari sang Dewa Perang yang kini mengamuk di belakang mereka.Di dalam dekapan pria gila itu, Sienna seketika tersentak. Sayup-sayup, suara suaminya menembus kabut rasa sakit dan sisa obat bius di kepalanya. Lucian benar-benar datang, suaminya itu benar-benar selamat. Kesadaran itu memicu letupan adrenalin yang memaksa mata sayu Sienna untuk terbuka. Ia tahu pasti, pria yang menahannya ini mendengar raungan itu juga. Sienna menatap ke bawah, melihat tanah berbatu dan semak berduri yang berkelebat dengan kecepatan mengerikan di bawah tapak kuda. Pikirannya yang kalut dan putus asa memunculkan sebuah ide gila, bagaimana jika ia menjatuhkan dirinya begitu saja dari atas pelana? Jik

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 442

    Derap langkah tapak kuda yang memekakkan telinga merobek keheningan di dalam hutan pinus. Gelapnya malam dan kabut tebal yang menggantung di udara sama sekali tidak mampu memperlambat laju perburuan mematikan tersebut.Di barisan paling depan, Lucian memacu kuda perang raksasanya dengan kecepatan yang nyaris menyerupai tindakan bunuh diri. Ranting-ranting pinus yang tajam menyabet zirah, jubah, dan wajahnya, namun sang Kaisar itu sama sekali tidak mempedulikannya. Luka bakar di lengannya akibat ledakan terasa kebas, terkalahkan oleh kobaran amarah dan keputusasaan yang mendidih di dalam dadanya.Sepasang mata merah darahnya menyalang buas menembus kegelapan, mencari jejak musuh yang berani menyentuh miliknya.Membayangkan istrinya berada di dalam cengkraman pria gila, membuat kewarasan Lucian nyaris putus seutuhnya."Yang Mulia!" teriak Komandan Ksatria Bayangan dari arah belakang, memacu kudanya menyejajari sang Kaisar. "Anjing pelacak menangkap aroma di arah jam sebelas! Ada sebu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 441

    Alexander bangkit berdiri dari lantai tanah, melepaskan pandangannya dari Sienna, lalu melangkah lebar membuka pintu gubuk tersebut hanya sebatas celah yang cukup untuk melihat sosok ksatrianya."Bicaralah," desis Alexander.Ksatria Eldoria yang berdiri di luar tampak terengah-engah. Seragam gelapnya basah oleh keringat. "Ampuni saya, Yang Mulia Raja. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera meninggalkan titik ini sekarang juga."Mata biru Alexander menyipit tajam. "Jelaskan.""Pasukan pelacak Rivendia tidak memakan umpan kita," lapor ksatria itu dengan nada panik yang tertahan. "Taktik decoy yang kita jalankan dengan menyebar belasan kuda dan kereta ke arah timur dan selatan telah gagal total. “Kaisar Lucian tidak membagi pasukannya. Dia, bersama dengan pasukan elit Ksatria Bayangan, saat ini sedang memacu kuda dengan kecepatan penuh langsung menuju hutan pinus ini."Rahang Alexander mengeras kaku mendengarnya. "Bagaimana mereka bisa tahu rute yang kuambil di tengah ke

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 440

    Gubuk kayu yang lembab dan terisolasi itu seolah menjelma menjadi sebuah ruang eksekusi kedap suara bagi kewarasan Sienna.Di hadapannya, penguasa tertinggi dari eldoria yang terkenal dengan kekejamannya itu terus meracau. Alexander masih berlutut di lantai tanah yang kotor, tangannya yang besar dan dingin terus membelai pergelangan kaki Sienna dengan pemujaan."Kita akan pulang ke Eldoria hari ini juga," bisik Alexander, matanya menerawang menembus dinding gubuk, tenggelam sepenuhnya dalam dunia delusinya sendiri. "Udara Rivendia terlalu dingin untukmu. Aku akan membangun ulang taman mawar di sayap selatan istana... sama persis seperti yang kau suka. Dan menara itu... menara tempat kau kedinginan... aku sudah merobohkannya. Semuanya. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu."Setiap kata yang meluncur dari bibir pria itu terasa seperti paku berkarat yang ditancapkan perlahan ke dalam tengkorak Sienna. Teror ini jauh lebih mengerikan daripada todongan pedang. "Kumohon... berhentilah..."

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 439

    Kesadaran Sienna kembali secara perlahan, ditarik paksa dari dalam kegelapan pekat oleh rasa pening yang hebat di kepalanya. Sisa-sisa obat bius yang dihirupnya masih mengalir di dalam pembuluh darah, membuat setiap otot di tubuhnya terasa berat.Sienna membuka kelopak matanya dengan susah payah. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah langit-langit kayu kasar yang lapuk dan dipenuhi sarang laba-laba. Udara di sekitarnya terasa luar biasa lembab, bercampur dengan bau tanah basah dan asap kayu bakar dari perapian kecil yang berderak di sudut ruangan.Ini adalah sebuah gubuk perburuan yang terbengkalai.Ingatan tentang apa yang baru saja terjadi merangsek masuk ke dalam kepalanya seperti hantaman palu. Ledakan di Ruang Audiensi. Kepanikan di lorong istana. Dan lengan kuat yang membekap wajahnya di tengah kobaran api.Napas Sienna seketika memburu. Kepanikannya meledak ruah. Ia mencoba bangkit dengan cepat, namun baru menyadari bahwa tubuhnya telah dibaringkan di atas sebu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 438

    Di sisi lain istana, kobaran api menjilat-jilat liar menghancurkan sisa-sisa Ruang Audiensi.Pintu ganda berbahan kayu eboni raksasa yang telah tertimpa puing-puing bebatuan itu tiba-tiba meledak dari dalam, hancur berkeping-keping oleh sebuah tendangan dengan tenaga yang sama sekali tidak manusiawi.Dari balik tirai api dan debu reruntuhan, Lucian melangkah keluar.Aura sang Kaisar itu begitu mengerikan, segelap dan sedingin dewa kematian yang baru saja merangkak naik dari dasar jurang. Seragam kekaisarannya hangus di beberapa bagian, dan noda abu serta cipratan darah samar menutupi separuh wajah aristokratnya yang mengeras kaku.Lucian tidak keluar dengan tangan kosong. Di kedua tangannya yang besar dan berotot, ia membawa dua penguasa negara sekutu yang telah jatuh pingsan akibat menghirup terlalu banyak asap beracun dari bubuk peledak tersebut. Melihat Kaisar mereka berhasil keluar dari reruntuhan hidup-hidup, Komandan Ksatria Bayangan dan tim medis yang bersiaga di luar langsun

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 64

    Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 62

    Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 66

    Anna membalikkan badannya dengan kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sakit.Di ambang pintu, Marta berdiri dengan tatapan tajam. Pelayan itu tidak langsung masuk, hanya mematung di sana dengan satu alis terangkat."Apa yang sedang kau lakukan di meja itu?" tanya Marta, suar

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 65

    "LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status