Bab 68: Sang Pengawal BayanganFajar di atas Menara Kehampaan tidak lagi membawa kehangatan. Cahaya matahari yang memantul di dinding kristal terasa tajam dan steril. Di balkon tertinggi, Haneul berdiri membelakangi reruntuhan Aula Inti. Gaun putihnya kini telah berubah menjadi jubah hitam dengan serat-serat cahaya ungu yang berdenyut, mengikuti irama detak jantungnya yang baru—jantung seorang Ratu Kantara.Hamin masih berlutut di tempatnya. Luka-luka di tubuhnya berdenyut nyeri, namun tidak sebanding dengan hampa yang ia rasakan saat menatap punggung Haneul."Siapa pun kau," suara Haneul memecah keheningan, dingin dan tanpa intonasi. "Pergilah. Menara ini bukan lagi tempat bagi manusia yang rapuh.""Aku tidak akan pergi," jawab Hamin tegas, meski suaranya serak karena sisa darah di tenggorokannya. Ia berdiri dengan tertatih, menggunakan pedangnya sebagai tumpuan. "Kau mungkin melupakan namaku, tapi jiwaku terikat padamu. Aku adalah perisaimu, Haneul. Dulu, sekarang, dan selamanya."H
続きを読む