Home / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 100. Aslan Kecil

Share

Bab 100. Aslan Kecil

Author: Davian
last update publish date: 2026-03-12 16:03:48

Maria menatap sekeliling panti asuhan itu dengan tatapan penuh penghakiman. Matanya mengamati dinding-dinding yang catnya mulai mengelupas, beberapa mainan bekas di sudut ruangan, dan deretan tempat tidur sederhana di ruang sebelah. Hidungnya yang terlatih mencium aroma masakan yang baru saja diantar, masakan yang sama yang dibawa Laura beberapa menit yang lalu.

“Apa kau tinggal di sini?” tanya Maria tiba-tiba pada Carie.

Carie tersenyum sabar. “Saya bekerja di sini, Nyonya. Saya tidak tinggal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tresye Kesaulya
trimksi kakak.tetap semangat ya. ditunggu episode sljutnya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 111. Janji?

    "Ya, Pak. Saya dapat sesuatu."Rick menegangkan rahangnya. "Cepat.""Laporan dari petugas pos keamanan perumahan tiga blok dari sini. CCTV mereka menangkap dua mobil hitam melintas pukul 22.47. Plat nomor terekam samar, tapi tim kita sedang membersihkannya. Satu hal yang pasti—mobil itu melaju ke arah timur, menuju jalan arteri."Rick menutup mata sejenak. Timur. Jalan arteri. Dari sana, mereka bisa ke mana saja. Intinya keluar dari Marseille."Lanjutkan pelacakan," perintah Rick. "Hubungi semua pos gerbang tol di sekitar. Cari tahu apakah mobil-mobil itu masuk tol. Jika ya, ke arah mana.""Baik, Pak."Panggilan ditutup. Rick memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan menuju salah satu anak buahnya yang sedang duduk di bangku taman, lengannya masih dibalut darurat oleh rekannya."Kau bisa bicara?" tanya Rick.Pria itu mengangguk, wajahnya masih pucat. "Bisa, Pak. Maaf, saya—""Apa yang kau lihat sebelum pingsan?"Pria itu mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Saya jaga di posisi belakan

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 110. Lengah

    Rick merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ujung jari seseorang dengan kasar, tapi lembut. Samar-samar ia mendengar suara dari kejauhan, seperti orang yang berteriak memanggil namanya dari dasar sumur."Pak Rick! Pak Rick, bangun!"Ia membuka mata dengan berat. Langit malam tampak buram di atasnya, diterangi cahaya lampu teras yang berkedip-kedip tidak stabil. Wajah Heri, salah satu anak buah Aslan yang ditugaskan di rumah Laura, melayang di atasnya dengan ekspresi panik."Syukurlah," desah Ramon. "Kita harus—"Rick langsung duduk tersentak, tapi kepalanya berdenyut hebat seolah-olah baru saja dihantam palu godam dan memang ia teringat. Pukulan itu. Sesuatu yang keras menghantam kepalanya dari belakang saat ia sedang memeriksa kebisingan di luar pagar. Ia ingat jatuh. Lalu gelap."Sialan!" Rick memekik, tangannya langsung meraba pinggang. Pistolnya masih ada. Tapi itu bukan yang penting. "Nona Laura! Tuan Muda Jayden! Di mana—"Ia berusaha berdiri, tapi kakinya limbung. Her

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 109. Dibawa Pergi

    Beberapa detik sebelumnya, saat terdengar suara ledakan dari luar rumahnya. Laura bergegas memeriksa asal suara itu. Namun, ketika ia membuka pintu. Ia melihat anak buah Aslan yang berjaga di rumahnya, tampak tidak berdaya. Bahkan beberapa dari mereka tidak sadarkan diri. Tapi Rick tak terlihat di sana."Pak Rick?"Menekan rasa paniknya, merasa ada yang tak beres. Laura mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Polisi adalah tujuannya. Namun, langkah Laura harus terjegal oleh seorang pria yang tiba-tiba saja menyodorkan pistol ke kepalanya."Jangan bergerak, atau kau akan mati, Nona!"Suara menyeramkan itu membuat Laura tersentak kaget, ia terdiam ditempatnya. Bukan karena takut, tapi ia khawatir pada Jayden yang ada di dalam rumah.Sialnya, pria itu pasti tak sendiri melakukan aksinya dan ia takut akan keselamatan Jayden."JAYDEN LARI!" teriak Laura dari luar. Tanpa bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya dipegang erat sepenuhnya oleh

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 108. Jayden Lari!

    Aslan menutup telepon, diam beberapa saat, lalu berbalik menatap Laura. Tatapannya berbeda. Ada konflik di sana. Ada sesuatu yang tidak ia sampaikan."Aku harus pergi," kata Aslan tiba-tiba.Laura terperanjat. "Apa? Sekarang?""Ya. Sekarang. Ada urusan mendadak.""Tapi kau bilang kau tidak akan pergi lagi!" Laura berdiri, merasa dikhianati. "Kau baru saja berjanji."Aslan mendekat, meraih wajah Laura dengan kedua tangannya. "Aku akan kembali. Aku janji. Tapi aku harus pergi sekarang. Ini penting. Menyangkut keselamatan kita semua.""Semua omong kosong! Itu yang selalu kau katakan!""Little girl , aku tahu kau akan kesepian tanpaku. Tapi aku akan kembali.""Siapa juga yang akan kesepian?" Laura mendelik tajam. Gengsinya membuat ia menyangkal kata-kata Aslan."Aku tahu kau akan kesepian tanpaku," goda Aslan seraya merapatkan tubuh mereka dengan kedua tangan kekarnya yang melingkar di pinggang Laura."Jangan bercanda. Siapa juga yang kesepian tanpamu, hah? Kau jadi semakin kepedean!" ser

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 107. Mendesah

    Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan di luar dan isak tangis Laura yang terdengar. Aslan menatap Laura dengan tatapan yang kompleks. Ada rasa bersalah, ada rasa ingin memiliki, ada kemarahan, dan ada hasrat yang sulit ia kendalikan.Perlahan, tanpa sadar, tangannya yang menggenggam bahu Laura merambat naik ke leher, lalu ke pipi basah Laura. Ia mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya, gerakan yang begitu lembut kontras dengan kekasaran sikapnya beberapa saat lalu."Maafkan aku," bisik Aslan. "Maafkan aku untuk semuanya."Laura hampir saja luluh. Hampir saja ia membiarkan dirinya jatuh kembali ke dalam pelukan pria ini. Tapi bayangan enam tahun kesendirian, enam tahun perjuangan, enam tahun air mata, semuanya terlintas di benaknya."Jangan," Laura menepis tangan Aslan. "Jangan minta maaf kalau kau hanya akan pergi lagi atau menjadikanku pelarian.""Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah pergi lagi," janji Aslan dengan mantap."Kau bisa bilang begitu sekarang. Tapi bes

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 106. Rasa Cemburu

    Laura tersentak, matanya membelalak sempurna. Untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Bukan karena ia tak tahu harus menjawab apa, tapi karena nada suara Aslan, dengan segala tuduhan dan kecurigaan di dalamnya,begitu menyakitkan."Apa kau gila?" Laura akhirnya bersuara, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati. "Apa kau benar-benar gila sampai berani berkata seperti itu padaku?"Aslan tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, mendekat. Setiap langkahnya membuat Laura mundur, hingga punggungnya membentur dinding lorong sempit di luar kamar mandi. Aslan menopangkan kedua lengannya di dinding, mengurung Laura di antara tubuh kekarnya dan dinding."Aku hanya bertanya," desis Aslan dengan nada rendah yang berbahaya. Wajahnya begitu dekat, Laura bisa melihat titik-titik air yang masih membasahi bulu matanya. Wangi sabun mandinya bercampur dengan aroma khas Aslan yang dulu begitu ia kenal. "Apakah kalian sudah tidur bersama? Apakah kau sudah memberinya apa yang dulu hanya kau be

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 46.Kencan

    Beberapa hari setelah malam penuh tangis itu, Aslan melakukan sesuatu yang tak pernah Laura bayangkan. Banyak perubahan pada diri Aslan. Semula Aslan menolak bayi itu, tapi sekarang ia mulai menerimanya. Laura senang, meskipun belum ada kata cinta, apalagi pernikahan. “Bersiaplah,” ucapnya singka

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 39. Pingsan

    Laura melihat dirinya dicermin toilet wanita, wajahnya menunjukkan kegelisahan. Setelah merasakan keanehan prof baru di kampusnya itu."Sepertinya benar kata Paman ... profesor Sean berbahaya. Dia memang selalu tersenyum, tapi senyumannya itu seperti menyembunyikan sesuatu dan dia seperti sengaja m

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 40. Jaga Rahasia

    Laura terdiam. Detak jantungnya terasa begitu keras sampai-sampai ia yakin Hans bisa mendengarnya. Tangannya gemetar, refleks menarik selimut lebih tinggi seolah bisa melindungi perutnya dari tatapan pria itu.“Apa maksud Bapak?” suaranya parau, hampir tak keluar. “Kenapa Bapak menanyakan hal seper

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 42. Penculikan

    Sambungan telepon terputus. Suara berat di seberang sana bahkan tidak memberi Aslan waktu untuk bertanya apa pun. Hanya satu kalimat ancaman yang meluncur dingin, lalu diam."Siapa?"Aslan menatap layar ponselnya. Matanya menyipit. Selama ini, tak banyak orang yang berani mengancamnya secara langsu

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status