Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 36 -! Melempar Irgi

Share

BAB 36 -! Melempar Irgi

Author: Redezilzie
last update publish date: 2026-02-03 22:50:43
BAB 36

“Dasar buaya,” Zea mendengus setelah terdiam sebentar, tapi nada suaranya jelas menahan tawa.

Arkan ikut tertawa, pendek namun lepas. “Iya, iya… maaf. Cuma bercanda, sori yaa.”

“Ish,” sahut Zea lagi. “Jangan dibiasiin.”

“Siap,” jawab Arkan cepat, masih dengan sisa senyum di suaranya.

Percakapan mengalir ringan, seperti lagu lama yang diputar pelan dan tubuh bergerak mengikuti melodinya yang familiar. Tawa kecil sesekali muncul, lalu menghilang, digantikan jeda-jeda yang tak menu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 126 - Galau

    BAB 126Zea tiba di kosan dengan tubuh dan pikiran yang luar biasa letih. Ia meletakkan tasnya asal lalu melemparkan diri ke kasur yang langsung berderit pelan seperti sedang mengerang menahan bobot tubuhnya. Berharap dengan berbaring, setidaknya ia dapat menghilangkan sedikit keletihannya. Zea memejamkan matanya erat-erat. Langit-langit kamar kosnya yang putih kusam seolah berputar. Udara pesisir utara yang lembab dan panas masih terasa menempel di kulitnya, bercampur dengan debu proyek dan sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi dengan Sandra dan Pak Dirga tadi siang.Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, bukan wajah merah padam Pak Dirga atau tatapan tajam Sandra yang muncul. Melainkan siluet seorang pria yang ia lihat tadi.Arkan.Nama itu bergema di kepalanya.Zea berguling ke samping, memeluk bantal gulingnya erat-erat, mencoba mengusir bayangan itu.“Masa sih itu Mas Arkan….” bisiknya pada diri s

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 125 - Pesisir Utara

    BAB 125Matahari di pesisir utara Pulau B terasa seperti oven yang dinyalakan ke suhu maksimal. Bersama yang lain, Zea melangkah turun dari mobil, merasakan pasir halus menyusup ke sela sepatunya. Di depannya, bangunan megah *Royal Grand Resort & Spa* berdiri cantik dan elegan secara bersamaan.Cukup kontras dengan suasana di sekitarnya, di area proyek yang tampak kacau. Beberapa truk pengangkut terlihat parkir di sana sini. Beberapa orang juga terdengar saling berteriak memberikan instruksi entah apa, karena saling tumpang tindih.Sandra melangkah di depan rombongan kecil mereka dengan gerakan anggun yang terlihat dibuat-buat di mata Zea. Perempuan itu mengenakan kacamata hitam besar, seakan menyembunyikan tatapan predatornya di balik lensa gelap. Di belakangnya, Zea, Reni, dan Beni mengekor seperti ajudan yang sedang mengiringi ke medan perang."Ingat, Zea," Sandra berbisik tanpa m

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 124 - Sepahit Empedu

    BAB 124Zea menelan ludahnya kembali. Ia sungguh-sungguh tidak mengetahui perihal ini. Meski akun yang mengeluarkan perintah tersebut adalah akunnya, tapi Zea merasa yakin kalau bukan dia yang melakukan hal itu.“Dibatalkan? Dan spesifikasinya diubah? Pak, saya sungguh tidak mengetahui perihal ini. Saya baru saja membuka sistem pagi ini dan melihat notifikasi merah itu. Saya… saya bahkan berencana melaporkannya pada Bapak sesegera mungkin.”“Apa mksud kamu? Kamu nggak tahu?” Pak Hendra memajukan tubuhnya, menatap Zea dengan penuh intimidasi.Zea menggeleng lemah namun tegas. “Meski yang melakukan perubahan itu tercatat atas nama akun saya, tapi saya bersumpah Pak, .bukan saya yang melakukannya. Kemarin sore saya fokus mempelajari company profile vendor bersama Reni dan Beni.”“Sistem tidak bohong, Zea! Instruksi perubahan spesifikasi itu keluar dari akun milik kamu. Kamu pikir karena kamu orang pusat, kamu bisa seenaknya menguba

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 123 - Sabotase?

    BAB 123Cahaya matahari pagi pulau B masuk menembus jajaran jendela di lantai dua gedung tempat Zea berkantor. Sinarnya terasa lebih tajam dari yang biasa Zea temui di kota tempat tinggalnya dulu. Gadis itu berdiri di pantry kecil, sambil mengaduk kopinya perlahan. Aroma kafein yang kuat beradu dengan sisa-sisa aroma laut, yang entah bagaimana berhasil menyusup masuk melalui kisi-kisi pendingin ruangan, benar-benar sukses membangun mood baiknya.Sisa percakapan dengan Ibra semalam masih membekas di kepalanya. Hatinya benar-benar tersentuh oleh semua perlakuan lelaki itu padanya. Ucapannya dan… kiriman makanannya.Ketenangan yang menyelimuti dadanya itulah yang membuat tidurnya terasa lebih nyenyak, meski ia berada di tempat yang sama sekali baru.Zea melangkah menuju meja kerjanya. Kantor masih sepi, hanya ada beberapa orang ditemani dengung pendingin ruangan dan suara mesin fotokopi yang baru dipanaskan di sudut ruangan.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 122 - Hangat Di Tengah Dingin

    BAB 122 Zea berguling ke kiri dan kanan, berusaha menyamankan dirinya ke posisi uwenak. Sekaligus untuk meredakan pegal yang merambat di sekujur punggungnya. Kamar ini kecil, dindingnya putih bersih tanpa hiasan, dan hanya ada suara putaran kipas angin yang membelah keheningan malam di Pulau B. Namun, bagi Zea, kesunyian ini adalah kemewahan setelah seharian telinganya "dicuci" oleh suara tajam Sandra. Selain dari Ibra, juga ada pesan dari kedua sahabatnya. Melihat nama mereka membuat Zea merasakan setetes rasa rindu mendadak merembes di sudut hati. Ia merasa sangat jauh. Dengan sedikit emosional, yang membalas pesan keduanya di grup chat pribadi mereka. Meluapkan kekesalannya pada Sandra juga penyesalannya karena telah menyulitkan Anton, hanya demi ego mencari kenyamanan pribadi. Lalu, jarinya terhenti sejenak. Ada satu hal lagi yang mengganjal di benaknya. “Tadi aku ketemu Arkan di bandara,” tulisnya perlahan. Zea menceritakan pertemuan singkat yang tak direncanakan i

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 121 - Menjawab Tantangan

    BAB 121“Ini pasti soal kecil buat kamu, kan? Gimana pun juga kamu karyawan pilihan Pak Wira, jadi pastinya kamu sekompeten itu.” tambah wanita itu lagi.Zea meringis. Ucapan sarkas diiringi tatapan merendahkan itu mengingatkannya pada seseorang. Salah satu alasan ia berada di tempatnya sekarang. Naya. Ia mendengus pelan. Tak menyadari kedua tangannya mengepal kuat.“Gimana Ze? Bisa, kan?” Tanya Sandra lagi sambil tersenyum miring.“Siap, Ka.” jawab Zea, suaranya terdengar lantang dan tegas. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin.” Meski menjawab dengan tingkat keyakinan tinggi, sebenarnya rasa takut dan keraguan mulai merayapi benak Zea. Ia belum pernah menangani proyek sebesar ini sendirian, apalagi di lingkungan yang begitu asing dan kompetitif. Ia merasa seperti dilemparkan ke tengah laut tanpa pelampung.Namun, di tengah keputusasaan itu, ia mengingat betapa kerasnya ia bekerja untuk sampai di titik ini, Zea tahu ia tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status