/ Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 38 - Prahara Roti

공유

BAB 38 - Prahara Roti

작가: Redezilzie
last update 게시일: 2026-02-05 20:31:15

BAB 38

“Tapi Mas…, kan ada Mas Irgi….”

“Irgi masih harus ngawas di sini. Dan Raka?" Arkan menjeda kalimatnya, melirik ke arah pintu tempat Raka menghilang tadi. "Dia sudah cukup sibuk dengan rotinya sendiri. Jadi, temani saya, ya?”

Zea menggigit bibir bawahnya. Ada debaran aneh yang menyeruak di balik dadanya. Kalimat Arkan barusan terdengar terlalu... intim. Bukan seperti percakapan antara klien dan vendor, melainkan seperti seseorang yang tengah menuntut perh
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 99 - Lapisan Teror

    BAB 99 “Orang tua kamu selalu bilang kamu anak yang penurut, Ze. Tapi di mataku, belakangan ini kamu keliatan seperti pembangkang yang sangat keras kepala,” Arya memulai percakapan, suaranya tenang namun mengandung penghakiman yang tak terbantahkan. Zea terdiam sejenak, mengamati lekat sepotong timun yang akan disantapnya, lalu menjawab, “Aku punya alasan.” Ia lanjut mencocol timun ke dalam sambal terasi yang nikmat. Gerakannya santai terkesan cuek. Sebelah alis Arya naik, “Oh ya? Apa itu?” “Kalo soal aku yang berangkat nggak sama kamu, aku udah jelasin alasannya. Soal aku pergi duluan dari tempat wisata, itu karena aku nggak enak badan dan kepalaku sakit. Daripada ngerepotin kamu kan mending aku balik duluan.” Jelas Zea panjang. “Siapa bilang aku bakal ngerasa direpotin?” Arya bertanya kalem. Zea mengangkat bahu tak acuh.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 98 - Belenggu

    BAB 98Malam peresmian Lentera Kafe yang seharusnya menjadi salah satu puncak kemenangan Arkan, seketika berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.Setelah berhasil menenangkan badai histeria Naya di ruangannya, pesta tetap berlanjut, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.Di tengah kerumunan tamu yang masih menyisakan bisik-bisik penasaran, Naya muncul kembali dengan penampilan yang sudah lebih rapi. Walaupun gaunnya tampak sedikit kusut, ujungnya kotor, tapi riasan wajahnya kembali sempurna meski tak paripurna seperti biasanya. Sekedar menyamarkan wajah sembabnya.Binar matanya memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Ia berdiri dengan anggun di samping Arkan, jemarinya menggamit lengan pria itu dengan posesif.Pak Wira, yang sejak awal merasa atmosfer sudah tidak sehat, segera berpamitan begitu melihat Arkan muncul. Ia tidak banyak bertanya, hanya memberikan tatapan penuh arti kepada Arkan sebelum beranjak p

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 97 - Terpasung

    BAB 97Suasana di dalam ruangan kerja pribadi Arkan terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habisDi luar, suara hiruk-pikuk peresmian kafe masih terdengar samar, namun di dalam sini, hanya ada suara napas Naya yang memburu dan detak jantung Arkan yang berpacu cepat.Naya berdiri hanya beberapa senti di depan Arkan. Matanya yang merah padam menatap tajam, mengunci manik mata Arkan“Lupa, Mas? Benar-benar sudah lupakah?” desis Naya. Suaranya rendah. Seperti racun yang disemprotkan ke udara.Arkan terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia ingin membantah, ingin mengusir wanita di depannya ini, namun lidahnya terasa kelu.“Tiga tahun lalu Mas. Waktu salah satu armada travel kamu kecelakaan di jalan tol?” Naya melanjutkan, suaranya kini naik satu oktaf, penuh dengan penekanan yang mengiris-iris sisa kekuatan Arkan.“Dan korbannya, anak pejabat, dia nyaris lumpu

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 96 - Yang Nyaris Dilupakan

    BAB 96Kehangatan melodi Just Give Me a Reason masih menggantung di udara. Semua orang masih terfokus pada Arkan dan Zea, yang berdiri bersisian di atas panggung kecil itu. Pasangan duet dadakan yang sukses membius mereka, saat terdengar suara dentuman pintu.BRAKK!Pintu kaca Lentera Kafe terbanting menghantam dinding. Sosok Naya muncul dengan napas memburu dan mata yang merah padam. Gaun pesta yang ia kenakan tampak kusut, seolah ia baru saja berlari menembus badai. Ia menatap lurus ke arah panggung.“PUAS KAMU?! PUAS KAMU, ZEA?!Suara melengking Naya memotong suara tepuk tangan penonton dengan kasar. Semua orang di kafe itu tersentak. Para tamu, termasuk Pak Wira dan rekan-rekan tim Zea menoleh dengan wajah terperangah.Naya merangsek maju, mengabaikan beberapa staf yang mencoba menghalanginya. Ia menunjuk Zea dengan telunjuk yang gemetar hebat. “Dasar PELAKOR! Kamu pikir dengan pura-pura jadi rekan bisnis, kamu

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 95 - Not Broken Just Bent

    BAB 95Cahaya lampu sorot kuning hangat di panggung kecil Lentera Kafe seolah mengunci sosok Zea. Di genggamannya, mikrofon itu terasa dingin, kontras dengan telapak tangannya yang mulai lembab karena gugup. Di bawah sana, puluhan pasang mata menatapnya, namun hanya satu pasang mata yang sanggup membuat dunianya seolah berhenti berputar, mata Arkan.Jantung Zea berdegup kencang. Lelaki itu berdiri lurus tak jauh di hadapannya, bersandar santai pada pilar, dengan aura yang begitu dominan namun tenang. Bibirnya membentuk senyum simpul. Tatapannya teduh sarat makna.Zea menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang tersisa. Dengan satu anggukan kecil, ia memberikan isyarat pada pemain keyboard untuk memulai intro. Nada-nada melankolis yang akrab di telinga mulai mengalun lembut.Zea memilih sebuah lagu yang belakangan ini terus terngiang di kepalanya, seolah lirik-liriknya ditulis khusus untuk menggamb

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 94 - Kafe Lentera

    BAB 94“Akhirnya.” Gumam Arkan pelan, nyaris berupa bisikan, sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Setelan jas slim fit berwarna navy itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang gagah.Ia merapikan kerah kemeja putih di balik jasnya, lalu memastikan jam tangan mahalnya terpasang dengan presisi di pergelangan tangan kanan, karena tangan kirinya masih memerlukan sedikit penjagaan pasca cidera, meski perbannya kini sudah lebih tipis dan tersembunyi di balik lengan jas. Rasa bangga yang membuncah perlahan menjalar di dadanya. Pria di dalam cermin itu bukan lagi Arkan yang dulu. Ia sedang menatap seorang pria matang, seorang pebisnis yang memiliki beberapa unit usaha yang cukup sukses, membuatnya cukup disegani.Dan hari ini adalah hari yang istimewa. Hari yang ia tunggu-tunggu. Hari launching kafe miliknya. Kafe yang ia beri nama “Lentera Kafe”.Nama itu bukan sekadar hiasan n

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status