Share

Bab 67

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-30 20:58:34

"Kita harus segera mencari desa terdekat di sekitar sini," suara berat Kukuh memecah desau angin panas padang ilalang. "Tujuan utama kita sekarang adalah kembali ke kota secepatnya dan membawa Ratih ke RS Medika. Jika mungkin... kita akan meminta tolong ke Dokter Harsha."

Perkataan Kukuh itu diucapkan dengan nada yang sangat tenang namun mengundang otoritas yang tak bisa dibantah.

Pak Supri yang masih memegangi lututnya yang ngilu segera mengangguk pelan. "Bapak setuju, Kuh. Itu pemikiran yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 477

    "Ki. Ki Karto."Mayor Yudha menuruni tangga kayu yang berderit. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Tangannya memegang senter. Cahayanya berayun-ayun di dinding ruang bawah tanah yang lembab dan berbau tanah basah."Ki Karto, ini saya. Yudha."Tidak ada jawaban.Mayor Yudha berhenti di anak tangga terakhir. Senter di tangannya menyapu ruangan. Dan di sudut paling gelap, di balik tumpukan buku-buku tua dan dupa yang sudah lama tidak dinyalakan, duduk sesosok tubuh.Bersila. Tegak. Mata terbuka.Ki Karto.Tubuh guru spiritual itu kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol di balik kulit yang sudah menguning. Janggutnya panjang dan kusut. Jubahnya yang dulu selalu bersih kini penuh noda. Dan matanya. Matanya terbuka. Lebar. Tidak berkedip. Menatap dinding di depannya tanpa melihat apa pun."Ki." Mayor Yudha melangkah mendekat. Perlahan. Seperti mendekati binatang liar yang tidak bisa diprediksi. "Ki Karto, ini Yudha. Muridmu. Kau dengar aku?"Ki Karto tidak menoleh. Bibirnya berger

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 476

    "Kau bilang Bhanu adalah anak dari orang yang pernah Dokter hancurkan," ucap Kukuh. Suaranya datar. Tapi ada getaran di baliknya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa orang itu, Dok?"Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan ke jendela. Menatap langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Punggungnya menghadap Kukuh. Dan di punggung itu, Kukuh bisa melihat bahu gurunya sedikit lebih tegang dari biasanya."Satya Dahana Wahnindara," ucap Dokter Harsha akhirnya. "Gen Dua Puluh Dua Rajah Geni. Ayah Bhanu."Kukuh mengernyit. Nama itu tidak asing. Tidak dari berita. Tidak dari buku. Dari sesuatu yang lebih dalam. Dari ingatan yang bukan miliknya. Dari bisikan yang kadang terdengar di balik ukiran rajah di lengannya saat ia memejamkan mata."Aku kenal nama itu," bisik Kukuh. "Tapi aku tidak tahu dari mana.""Dari darahmu," jawab Putri Puspa Sekar Kidung Dalu dari kursinya. Wanita tua itu masih duduk. Masih menatap. Tapi kali ini matanya tidak menatap Kukuh. Menatap Dokter H

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 475

    "Eyang Amerta Jati Ludira masih hidup."Enam kata itu jatuh di ruang kerja Lantai 41 seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur tanpa dasar. Tidak ada suara benturan. Hanya keheningan yang semakin dalam.Kukuh menatap wanita tua di kursi kayu jati itu. Menatap kulit keriputnya. Menatap matanya yang cokelat tua dan sangat dalam. Mencari kebohongan. Mencari keraguan. Mencari sesuatu yang bisa ia pegang untuk mengatakan bahwa kalimat itu tidak benar.Tidak ada."Berapa umurnya?" tanya Kukuh. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.Putri Puspa Sekar Kidung Dalu tidak langsung menjawab. Jari-jarinya yang kurus dan berbuku-buku mengetuk pelan sandaran kursi. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri."Eyang Amerta adalah Gen Satu Rajah Getih," ucap Putri Puspa Sekar Kidung Dalu akhirnya. Suaranya masih seperti gesekan dua batu kering. "Dia yang menciptakan ukiran darah itu. Dia yang memilih Ra

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 474

    Lantai 41 sunyi.Bukan sunyi karena tidak ada orang. Bukan sunyi karena semua sudah tidur. Sunyi yang berbeda. Sunyi yang turun seperti selimut tebal, menekan suara apa pun yang berani muncul, seolah ruangan itu sendiri sedang menahan napas.Kukuh melangkah keluar dari lift. Sepatunya berdetak di lantai marmer yang dingin. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena lelah. Karena ada sesuatu di udara yang membuat setiap langkah terasa seperti berjalan masuk ke dalam sesuatu yang sangat tua. Sangat dalam. Sangat sabar.Pintu ruang kerja Dokter Harsha terbuka.Dan di sanalah Kukuh melihatnya.Di kursi kayu jati seberang meja kerja Dokter Harsha, duduk seorang wanita. Sangat tua. Kulitnya keriput seperti perkamen yang sudah terlalu lama terpapar matahari. Tulang-tulangnya menonjol di balik kain batik yang membungkus tubuhnya yang kurus. Rambutnya putih seluruhnya, digelung sederhana di belakang kepala. Dan matanya tertutup.Tap

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 473

    Pagi itu, Kukuh bangun tanpa mimpi.Bukan bangun karena suara. Bukan bangun karena keringat. Bukan bangun karena tangan yang terkepal di atas seprai dan nafas yang tersengal seperti seseorang yang baru saja lari dari sesuatu di dalam tidurnya.Kukuh bangun karena cahaya.Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden kamar, jatuh tepat di atas wajah Kukuh seperti tangan yang menepuk pelan. Hangat. Lembut. Tidak mengancam.Kukuh membuka mata. Menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal. Retakan kecil di sudut kiri. Noda air yang belum diperbaiki sejak musim hujan tahun lalu. Dan di dadanya, liontin dua daun kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya.Kukuh menoleh ke kanan. Ratih masih tidur. Miring. Menghadap ke arah Kukuh. Nafasnya teratur. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di atas bantal.Kukuh tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu bangun tanpa suara.Di kamar mandi, Kukuh menggulung lengan k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 472

    Tiga hari berlalu tanpa insiden.Tiga hari di mana Kukuh bangun pagi, mandi, memakai kemeja kerja, dan berjalan menyusuri koridor RS Lohitajaya seperti biasa. Tiga hari di mana pasien datang dan pergi, perawat berganti shift, dan monitor detak jantung berdetak stabil tanpa ada yang terinfeksi santet atau teluh. Tiga hari yang seharusnya terasa membosankan tapi justru terasa seperti kemewahan.Di hari ketiga itu, Kukuh kembali ke Lantai 41.Bukan karena ada panggilan darurat. Bukan karena ada pasien kritis. Bukan karena ada santet yang perlu diangkat atau teluh yang perlu dinetralkan.Karena Dokter Harsha memintanya datang."Kuh."Dokter Harsha sudah duduk di balik meja kerjanya ketika Kukuh melangkah masuk. Pria sepuh itu tidak membaca. Tidak menulis. Tidak memeriksa hasil lab. Hanya duduk. Kedua tangan terlipat di atas meja. Menatap pintu. Menunggu.Kukuh menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ada sesuatu di wajah gurunya yang berbeda. Bukan tegang. Bukan cemas. Lebih seperti seseo

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status