Share

Bab 66

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-29 22:26:52

Deru napas Ratih yang perlahan teratur membuat Kukuh bisa meraup oksigen dengan lega. Ia menarik tangannya dari pergelangan sang istri, lalu memutar tubuh. Barulah saat itu matanya sepenuhnya menangkap pemandangan surealis di sekitarnya.

Tiga manusia tergeletak acak di antara ilalang kering dan batu kapur. Di bawah terik matahari siang Banten yang memanggang ubun-ubun, erangan tertahan mulai memecah kesunyian bukit gersang tersebut.

Kelopak mata Pak Supri bergetar kencang. Sopir tua itu mengerj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 477

    "Ki. Ki Karto."Mayor Yudha menuruni tangga kayu yang berderit. Satu anak tangga demi satu anak tangga. Tangannya memegang senter. Cahayanya berayun-ayun di dinding ruang bawah tanah yang lembab dan berbau tanah basah."Ki Karto, ini saya. Yudha."Tidak ada jawaban.Mayor Yudha berhenti di anak tangga terakhir. Senter di tangannya menyapu ruangan. Dan di sudut paling gelap, di balik tumpukan buku-buku tua dan dupa yang sudah lama tidak dinyalakan, duduk sesosok tubuh.Bersila. Tegak. Mata terbuka.Ki Karto.Tubuh guru spiritual itu kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol di balik kulit yang sudah menguning. Janggutnya panjang dan kusut. Jubahnya yang dulu selalu bersih kini penuh noda. Dan matanya. Matanya terbuka. Lebar. Tidak berkedip. Menatap dinding di depannya tanpa melihat apa pun."Ki." Mayor Yudha melangkah mendekat. Perlahan. Seperti mendekati binatang liar yang tidak bisa diprediksi. "Ki Karto, ini Yudha. Muridmu. Kau dengar aku?"Ki Karto tidak menoleh. Bibirnya berger

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 476

    "Kau bilang Bhanu adalah anak dari orang yang pernah Dokter hancurkan," ucap Kukuh. Suaranya datar. Tapi ada getaran di baliknya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa orang itu, Dok?"Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan ke jendela. Menatap langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Punggungnya menghadap Kukuh. Dan di punggung itu, Kukuh bisa melihat bahu gurunya sedikit lebih tegang dari biasanya."Satya Dahana Wahnindara," ucap Dokter Harsha akhirnya. "Gen Dua Puluh Dua Rajah Geni. Ayah Bhanu."Kukuh mengernyit. Nama itu tidak asing. Tidak dari berita. Tidak dari buku. Dari sesuatu yang lebih dalam. Dari ingatan yang bukan miliknya. Dari bisikan yang kadang terdengar di balik ukiran rajah di lengannya saat ia memejamkan mata."Aku kenal nama itu," bisik Kukuh. "Tapi aku tidak tahu dari mana.""Dari darahmu," jawab Putri Puspa Sekar Kidung Dalu dari kursinya. Wanita tua itu masih duduk. Masih menatap. Tapi kali ini matanya tidak menatap Kukuh. Menatap Dokter H

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 475

    "Eyang Amerta Jati Ludira masih hidup."Enam kata itu jatuh di ruang kerja Lantai 41 seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur tanpa dasar. Tidak ada suara benturan. Hanya keheningan yang semakin dalam.Kukuh menatap wanita tua di kursi kayu jati itu. Menatap kulit keriputnya. Menatap matanya yang cokelat tua dan sangat dalam. Mencari kebohongan. Mencari keraguan. Mencari sesuatu yang bisa ia pegang untuk mengatakan bahwa kalimat itu tidak benar.Tidak ada."Berapa umurnya?" tanya Kukuh. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.Putri Puspa Sekar Kidung Dalu tidak langsung menjawab. Jari-jarinya yang kurus dan berbuku-buku mengetuk pelan sandaran kursi. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri."Eyang Amerta adalah Gen Satu Rajah Getih," ucap Putri Puspa Sekar Kidung Dalu akhirnya. Suaranya masih seperti gesekan dua batu kering. "Dia yang menciptakan ukiran darah itu. Dia yang memilih Ra

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 474

    Lantai 41 sunyi.Bukan sunyi karena tidak ada orang. Bukan sunyi karena semua sudah tidur. Sunyi yang berbeda. Sunyi yang turun seperti selimut tebal, menekan suara apa pun yang berani muncul, seolah ruangan itu sendiri sedang menahan napas.Kukuh melangkah keluar dari lift. Sepatunya berdetak di lantai marmer yang dingin. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena lelah. Karena ada sesuatu di udara yang membuat setiap langkah terasa seperti berjalan masuk ke dalam sesuatu yang sangat tua. Sangat dalam. Sangat sabar.Pintu ruang kerja Dokter Harsha terbuka.Dan di sanalah Kukuh melihatnya.Di kursi kayu jati seberang meja kerja Dokter Harsha, duduk seorang wanita. Sangat tua. Kulitnya keriput seperti perkamen yang sudah terlalu lama terpapar matahari. Tulang-tulangnya menonjol di balik kain batik yang membungkus tubuhnya yang kurus. Rambutnya putih seluruhnya, digelung sederhana di belakang kepala. Dan matanya tertutup.Tap

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 473

    Pagi itu, Kukuh bangun tanpa mimpi.Bukan bangun karena suara. Bukan bangun karena keringat. Bukan bangun karena tangan yang terkepal di atas seprai dan nafas yang tersengal seperti seseorang yang baru saja lari dari sesuatu di dalam tidurnya.Kukuh bangun karena cahaya.Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden kamar, jatuh tepat di atas wajah Kukuh seperti tangan yang menepuk pelan. Hangat. Lembut. Tidak mengancam.Kukuh membuka mata. Menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal. Retakan kecil di sudut kiri. Noda air yang belum diperbaiki sejak musim hujan tahun lalu. Dan di dadanya, liontin dua daun kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya.Kukuh menoleh ke kanan. Ratih masih tidur. Miring. Menghadap ke arah Kukuh. Nafasnya teratur. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di atas bantal.Kukuh tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu bangun tanpa suara.Di kamar mandi, Kukuh menggulung lengan k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 472

    Tiga hari berlalu tanpa insiden.Tiga hari di mana Kukuh bangun pagi, mandi, memakai kemeja kerja, dan berjalan menyusuri koridor RS Lohitajaya seperti biasa. Tiga hari di mana pasien datang dan pergi, perawat berganti shift, dan monitor detak jantung berdetak stabil tanpa ada yang terinfeksi santet atau teluh. Tiga hari yang seharusnya terasa membosankan tapi justru terasa seperti kemewahan.Di hari ketiga itu, Kukuh kembali ke Lantai 41.Bukan karena ada panggilan darurat. Bukan karena ada pasien kritis. Bukan karena ada santet yang perlu diangkat atau teluh yang perlu dinetralkan.Karena Dokter Harsha memintanya datang."Kuh."Dokter Harsha sudah duduk di balik meja kerjanya ketika Kukuh melangkah masuk. Pria sepuh itu tidak membaca. Tidak menulis. Tidak memeriksa hasil lab. Hanya duduk. Kedua tangan terlipat di atas meja. Menatap pintu. Menunggu.Kukuh menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ada sesuatu di wajah gurunya yang berbeda. Bukan tegang. Bukan cemas. Lebih seperti seseo

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status