Langkah kaki mereka menggema di antara akar dan tanah yang terus berubah.Tidak ada jalan yang benar-benar tetap.Tidak ada arah yang benar-benar aman.Hutan itu—hidup.Dan kini—ia bereaksi.Aruna berlari di depan.Napasnya teratur, meski tekanan di dalam dirinya semakin berat.Koneksi itu terus bekerja.Memberi jalur.Namun juga—menunjukkan bahaya.“Ke kanan!” teriaknya.Tanpa ragu—semua mengikuti.Pelangi hampir tersandung, namun Aruna menariknya.Bima di belakang mengumpat pelan.“Ini bukan lari biasa… ini kayak dikejar ujian hidup!”Embun sudah hampir menangis.“Aku nggak kuat lagi…”Bagas menarik tangannya lebih kuat.“Kamu kuat.”Hileon tetap fokus.Matanya terus mengamati perubahan.“Dia mengunci jalur secara bertahap…”Ia berkata di tengah lari.“Dia tidak terburu-buru.”Zareth, seperti biasa, masih terlihat tenang.Namun langkahnya cepat.“Karena dia tahu kita akan kelelahan.”Sunyi.Namun kali ini—tidak ada yang membalas.Karena mereka semua tahu—itu benar.Aruna meras
Read more