Hutan kembali sunyi.Namun kali ini—sunyi itu terasa seperti jeda sebelum sesuatu meledak.Angin berhenti.Daun-daun tidak bergerak.Bahkan udara terasa tertahan.Seolah seluruh hutan menunggu.Aruna berdiri di depan.Tatapannya lurus.Tidak goyah.Di depannya—sosok itu.Lebih jelas dari sebelumnya.Tidak lagi sekadar bayangan.Namun juga bukan manusia.Tubuhnya seperti terbentuk dari akar, tanah, dan kegelapan yang menyatu.Namun bentuknya stabil.Utuh.Dan yang paling mengganggu—matanya.Kosong.Namun sadar.Pelangi berdiri di samping Aruna.Tangannya menggenggam erat.Namun ia tidak mundur.Bima, Bagas, dan Embun berdiri di belakang.Hileon sedikit maju.Zareth tetap di sisi lain.Seperti biasa—mengamati.Sosok itu melangkah.Satu langkah.Namun getarannya terasa sampai ke tanah.“Akhirnya…”Suaranya tidak lagi menggema liar.Lebih fokus.Lebih… terkendali.Aruna tidak menjawab.Ia hanya menatap.Mengukur.Merasakan.Koneksi di dalam dirinya langsung bereaksi.Seperti sesuatu y
Read more