Sore itu, langit desa tampak muram meski matahari belum benar-benar tenggelam. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menekan atap rumah Pak Seno dengan beban yang tak kasatmata. Anak-anak KKN duduk berkelompok di ruang tengah, sebagian menunduk, sebagian melamun, namun tak satu pun benar-benar tenang Embun duduk di sudut ruangan, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya memeluk lutut, matanya kosong menatap lantai. Sejak latihan siang tadi, dadanya terasa sesak. Ada rasa dingin yang terus merayap, naik perlahan dari perut ke tenggorokan, seperti tangan-tangan tak terlihat yang sedang menguji batas kesadarannya. Aruna memperhatikannya dari jauh. Sebagai ketua, ia berusaha tampak tenang. Ia berbincang singkat dengan Pak Seno soal jadwal esok hari, tapi pikirannya terpecah. Gerakan terakhir yang diajarkan Pak Wiryo terus terulang di kepalanya—gerak pamitan. Sederhana, namun sarat makna. Gerak yang, entah mengapa, membuat dadanya nyeri. “Run.” Hileon berdiri di dekat pintu, m
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-24 Mehr lesen