Pagi datang tanpa kicau burung.Desa itu bangun seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi buruk mata terbuka, tubuh hidup, tapi jiwa masih tertinggal di malam sebelumnya. Kabut tipis menggantung rendah, menempel di atap rumah dan dedaunan, seolah enggan pergi sebelum memastikan sesuatu benar-benar berubah.Aruna berdiri di teras posko, menatap jalan desa yang biasanya ramai oleh sapaan pagi. Hari ini sunyi. Beberapa warga lewat tanpa menoleh, sebagian lain berhenti sejenak, ragu, lalu menunduk. Tidak ada lagi tatapan penuh tuduhan seperti kemarin malam, tapi juga belum ada kehangatan. Yang tersisa hanyalah jarak.Jarak yang lahir dari kebenaran.Embun keluar menyusul, membawa dua cangkir teh hangat. Tangannya masih gemetar, meski ia berusaha tersenyum. “Semalam… itu nyata ya,” katanya pelan.Aruna menerima cangkir itu. “Nyata,” jawabnya singkat. “Dan karena nyata, dampaknya tidak akan sebentar.”Dari dalam posko, Hileon, Bagas, dan Alvaro sudah bangun. Tidak ada yang bercanda s
Last Updated : 2026-02-07 Read more