Subuh datang tanpa suara, seolah menyelinap di antara sisa-sisa kegelisahan malam. Kabut tipis menggantung di halaman rumah Pak Seno, menutupi tanah dengan lapisan dingin yang lembap. Ayam jantan berkokok sekali, lalu sunyi lagi. Desa Watujati tampak tenang, terlalu tenang seperti menahan napas.Aruna terbangun lebih awal. Ia duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Sisa mimpi semalam masih melekat: jalan tanah menuju pesarean, obor-obor kecil, dan sosok berkebaya hijau yang menunggu tanpa bergerak. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.Di ranjang seberang, Embun juga terjaga. Matanya sembap, tapi tatapannya lebih fokus dibanding kemarin. Ia menatap Aruna, ragu, lalu bangkit. “Run…,” katanya pelan. “Aku siap.”Aruna menoleh. Ada sesuatu di suara Embun—bukan ketakutan, melainkan tekad yang rapuh namun nyata. “Kita belum berangkat hari ini,” jawab Aruna lembut. “Tapi kita akan.”Mereka keluar kamar. Di ruang tengah, Hileon sudah duduk sambil menyesap
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya