Pagi itu meja makan kembali dipenuhi aroma nasi hangat dan lauk sederhana buatan Bu Seno. Namun suasananya berbeda. Tidak ada canda ringan, tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruang itu. Yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh piring pelan, teratur, namun terasa hampa.Aruna duduk di tempatnya, punggung tegak tapi kaku. Ia menyuap makanan dengan gerakan lambat, seolah makan hanyalah kewajiban, bukan kebutuhan. Pandangannya kosong, berhenti di satu titik tanpa benar-benar melihat. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak bergerak selain untuk mengunyah.Embun beberapa kali melirik Aruna, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Bulan dan Pelangi saling pandang, sama-sama menangkap kejanggalan itu. Hileon memperhatikan dari seberang meja, alisnya berkerut, ada kekhawatiran yang tidak ia ucapkan. Alvaro ikut terdiam, matanya sesekali tertuju pada Aruna.Bu Seno berhenti di samping Aruna. Ia menatap gadis itu lama, seperti seorang ibu menatap anaknya yang sedang menahan beban terlalu b
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-12 อ่านเพิ่มเติม