LOGINAcha menghentikan langkahnya tepat di depan ruang rawat ayahnya.Sejak tiba di rumah sakit bersama Elvano beberapa menit lalu, ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk masuk. Namun, kini jemarinya justru mencengkeram tali tas dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada pintu di hadapannya.Ia hanya perlu membukanya, tetapi entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. Tamparan ayahnya seolah masih membekas di pipinya, begitu pula perkataan-perkataan menyakitkan yang hingga kini sulit ia lupakan.Acha menelan ludah.Bagaimana kalau ayahnya kembali marah? Bagaimana kalau kedatangannya justru membuat suasana semakin buruk?“Kenapa, Sayang?”Suara Elvano di sampingnya membuat Acha sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya.Acha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Elvano melirik pintu di hadapan mereka, lalu kembali menatapnya. Seolah memahami apa yang sedang berkecamuk
Acha masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga. Pikirannya seolah berhenti bekerja setelah mendengar kabar dari ibunya, hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya.“Sayang, ada apa, hm?”Acha sedikit terkejut. Ia segera menoleh dan mendapati Elvano sudah berdiri di sampingnya entah sejak kepan, menatapnya dengan kening berkerut seolah ingin memastikan sesuatu.Acha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Elvano dengan wajah sendu.“Ayah keserempet motor, Mas,” ucapnya lirih. “Sekarang lagi di rumah sakit.”Elvano diam sejenak. Raut wajahnya berubah serius sebelum ia bertanya, “Kamu mau pulang?”Acha tak menjawab.Pandangannya justru jatuh pada ponsel di tangannya, sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat ayahnya begitu marah hingga tega menamparnya setelah mengetahui kedekatannya dengan Elvano.Hubungannya dengan sang ayah memang belum membaik sejak kejadian itu. Apalagi, perkataan-perkataan menyakitkan yang dilontarkan ayahnya kal
Sambil menghela napas berat, Acha bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja Elvano. Hanya saja, tak tahu kenapa, begitu tiba di depan pintu, perasaannya mendadak tidak enak.Ia mendadak curiga kalau-kalau panggilan Elvano kali ini hanya akal-akalan pria itu. Namun, Acha tak ingin buru-buru menyimpulkan. Bagaimana kalau ternyata memang ada urusan penting?Acha mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Ia membuka pintu dan mendapati Elvano duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Jasnya tersampir di sandaran kursi, sementara beberapa dokumen terbuka di hadapannya.Acha melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.“Katanya memanggil saya?”Elvano mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja masuk.“Kenapa jauh sekali?”Acha mengerjap, tak mengerti arah pembicaraan itu. “Apanya yang jauh?”“Mejamu.” Elvano mengangguk ke arah pintu. “Dari sini.”Acha menatapnya tak percaya. “Mas El, saya baru s
Setelah sarapan, Acha dan Elvano langsung berangkat ke kantor. Meski hubungan mereka sudah membaik, bukan berarti keduanya bisa bersikap sesuka hati di tempat kerja. Batas profesional tetap harus dijaga, apalagi mereka belum ingin hubungan pribadi itu menjadi bahan pembicaraan karyawan lain.Pagi itu, Acha sudah duduk di mejanya ketika Esther menggeser kursi mendekat, lalu menyodorkan lembar penilaian akhir magang yang harus diisi sebelum masa magangnya berakhir.Sejujurnya, Acha merasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia sengaja mengerjai Esther untuk memberinya sedikit pelajaran karena gadis itu terlalu sombong. Bahkan, saat itu Acha sempat enggan mendampinginya. Namun, karena Elvano yang menyuruhnya, ia mau tidak mau harus menjalankan tugas tersebut.Sekarang, Esther sudah hampir menyelesaikan masa magangnya di Alvarion Group.Acha sedang membalik dan membaca halaman terakhir ketika Esther tiba-tiba berkomentar, “Cincin Kakak bagus.”Kening Acha berkerut tipis. Ia m
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat ke wajah Acha dan perlahan mengusik tidurnya.Masih setengah sadar, tangannya bergerak meraba sisi ranjang, tetapi kosong.Acha menggerakkan tangan sekali lagi, seolah berharap menemukan seseorang di sana. Namun, yang disentuhnya hanya seprai yang sudah tak lagi hangat.Keningnya berkerut tipis.“Mas El ke mana?” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Ia mengangkat tubuh perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan Elvano.Setelah menghela napas kecil, Acha turun dari ranjang. Ia merapikan piyama putihnya yang sedikit berantakan, kemudian melangkah keluar kamar.Begitu pintu terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya. Dari arah dapur, terdengar pula bunyi peralatan masak yang sesekali beradu.Acha mengernyit penasaran, lalu mengikuti suara itu. Tak butuh waktu lama sampai ia menemukan Elvano berdiri di depan kompor.Pria itu mengenakan kaus putih yang membalut tubuh k
Pertanyaan Elvano yang begitu tiba-tiba membuat Acha terdiam. Ia bahkan sempat menggigit bibir bawahnya dalam-dalam.Tadinya, ia benar-benar berniat pergi dari penthouse itu. Lagipula, hubungannya dengan Elvano belum jelas, dan kejadian beberapa hari terakhir membuatnya berpikir bahwa pria itu mungkin kembali kepada mantan kekasihnya.Karena itulah Acha memilih pergi.Ia tidak mau terus tinggal serumah dengan pasangan orang lain. Nanti dia dikira pelakor lagi.Cukup sudah mantan istri Elvano yang menuduhnya sebagai pelakor kemarin.Namun, sekarang semuanya sudah berbeda. Elvano sudah menjelaskan semuanya. Walau sempat kesal, Acha cukup bisa menerima penjelasan itu. Apalagi, pria itu bahkan baru saja berlutut di hadapannya dan memintanya menjadi istri. Jadi, semakin Acha tak punya alasan untuk marah berlarut padanya.Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya sekilas. Baru membayangkan dirinya benar-benar meninggalkan penthouse Elvano saja sudah membuat hatinya terasa berat.Ia
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men







