LOGINMobil Elvano berhenti tepat di depan rumah Acha. Lampu teras sudah menyala, menerangi halaman yang lengang di malam hari.Acha melepaskan sabuk pengamannya, tetapi belum juga membuka pintu. Ia menoleh kepada Elvano yang sedang mematikan mesin mobil, lalu menggigit bibir sebentar sebelum bertanya, “Mas El yakin nggak mau nginap di sini aja?”Elvano menoleh sambil tersenyum tipis.“Mau banget,” jawabnya. “Saya juga takut kangen kalau nggak melihat kamu sedetik saja.”Acha meringis menahan tawa. Ucapan Elvano terdengar begitu gombal hingga ia harus menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.“Bisa aja Mas Elvano, ih!” cicitnya dengan pipi yang mulai terasa panas.“Ya memang begitu kenyataannya.” Elvano terkekeh. Namun, ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar rumah seolah hendak memastikan sesuatu. “Tapi, kalau menginap di sini juga nggak mungkin, kan? Kondisinya lagi nggak bagus buat kita berdua. Saya nginap di hotel saja.”Bibir Acha langsung mengerucut seakan tak rela. Se
“Sama sekali bukan begitu, Pak,” bantah Elvano cepat.“Kalau begitu, jangan ikut campur urusan keluarga saya!”Acha merasakan genggaman Elvano kembali mengerat, tetapi pria itu tidak membalas dengan nada tinggi. Bahkan ketika Yudi jelas-jelas menyalahkannya, Elvano tetap mempertahankan sikap hormatnya.“Saya nggak bermaksud mencampuri urusan keluarga Bapak. Saya hanya nggak ingin Acha terus disalahkan atas sesuatu yang nggak dia lakukan.”“Sudah, Yah!” Sukartini kembali menyela. Kali ini suaranya terdengar lelah. “Acha dan Nak Elvano baru datang. Bukannya disambut baik, mereka malah harus menghadapi pertengkaran seperti ini.”“Kalau Ibu nggak suka, suruh saja mereka pulang!” balas Yudi sambil membuang muka.Acha menunduk.Mendengar ayahnya sendiri menyuruhnya pergi ternyata terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.Padahal, sejak awal kedatangannya, ia tidak mengharapkan sambutan hangat, apalagi
“Pak Yudi, saya rasa ada sesuatu yang perlu saya luruskan.”Suara tenang Elvano membuat semua mata beralih kepadanya. Jantung Acha berdegup sedikit lebih kencang sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu kepada ayahnya, terlebih setelah berbagai perkataan menyakitkan yang baru saja mereka dengar.Yudi menatap Elvano tajam. “Apa lagi yang mau kamu katakan?”Elvano menarik napas sejenak sebelum menjawab, “Saya mengerti kalau Pak Yudi belum bisa menerima kehadiran saya.”Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.“Saya juga tidak datang ke sini untuk memaksa Bapak menyukai saya.”“Bagus kalau kamu sadar diri,” sahut Yudi sinis. “Harusnya dari awal kamu nggak usah dekatin Acha. Dia bisa dapat pria lajang, bukan jadi simpanan suami orang.”“Ayah, cukup!” Acha tak sanggup lagi menahan diri. “Aku nggak suka Ayah bicara begitu sama Mas El!
Acha sedikit terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu. Ia refleks menggigit bibir bawahnya, sementara jemarinya saling meremas di depan tubuh.Matanya sempat melirik Elvano yang masih berdiri di samping ibunya, sekadar memastikan ekspresi pria itu. Namun, Elvano tampak tenang, seolah tidak terganggu oleh ucapan Yudi.“Mas Elvano juga mau jenguk Ayah,” komentar Acha berusaha tenang. “Makanya, dia ikut, sekalian mengantarku ke sini.”“Siapa yang minta dijenguk?” sahut Yudi ketus. “Ayah nggak butuh dijenguk sama dia.”Acha terdiam, seolah langsung kehilangan kata-kata.“Kamu ini tebal muka sekali, Acha!” cecar Yudi.Acha lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan ayahnya itu. “Ayah!” tegur Sukartini tegas, sontak menatap lurus kepada suaminya. “Jangan bicara begitu sama Acha. Dia datang jauh-jauh sampai ninggalin kerjaannya karena khawatir sama keadaan Ayah.”Yudi mendengus sinis. “Ibu selalu saja membelanya. Seharusnya mereka nggak usah datang sekalian!”Dada Acha terasa sesak menghimpit,
Acha menghentikan langkahnya tepat di depan ruang rawat ayahnya.Sejak tiba di rumah sakit bersama Elvano beberapa menit lalu, ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk masuk. Namun, kini jemarinya justru mencengkeram tali tas dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada pintu di hadapannya.Ia hanya perlu membukanya, tetapi entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. Tamparan ayahnya seolah masih membekas di pipinya, begitu pula perkataan-perkataan menyakitkan yang hingga kini sulit ia lupakan.Acha menelan ludah.Bagaimana kalau ayahnya kembali marah? Bagaimana kalau kedatangannya justru membuat suasana semakin buruk?“Kenapa, Sayang?”Suara Elvano di sampingnya membuat Acha sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya.Acha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Elvano melirik pintu di hadapan mereka, lalu kembali menatapnya. Seolah memahami apa yang sedang berkecamuk
Acha masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga. Pikirannya seolah berhenti bekerja setelah mendengar kabar dari ibunya, hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya.“Sayang, ada apa, hm?”Acha sedikit terkejut. Ia segera menoleh dan mendapati Elvano sudah berdiri di sampingnya entah sejak kepan, menatapnya dengan kening berkerut seolah ingin memastikan sesuatu.Acha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Elvano dengan wajah sendu.“Ayah keserempet motor, Mas,” ucapnya lirih. “Sekarang lagi di rumah sakit.”Elvano diam sejenak. Raut wajahnya berubah serius sebelum ia bertanya, “Kamu mau pulang?”Acha tak menjawab.Pandangannya justru jatuh pada ponsel di tangannya, sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat ayahnya begitu marah hingga tega menamparnya setelah mengetahui kedekatannya dengan Elvano.Hubungannya dengan sang ayah memang belum membaik sejak kejadian itu. Apalagi, perkataan-perkataan menyakitkan yang dilontarkan ayahnya kal
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam







