“Mama? Sini, biar aku rapikan perhiasannya,” pintanya lembut, membuat Paulina langsung tersadar dari keterpakuannya.Paulina menyerahkan kalung itu, namun sepasang matanya masih menatap lekat benda tersebut. “Dari mana kamu dapat kalung ini, May?” tanya Paulina dengan nada suara yang tertahan, mencoba menyembunyikan getaran hebat di dalam dadanya.Amaya menerima kalung itu dengan dahi berkerut samar. “Oh, kalung ini? Ini sebenarnya pemberian dari Brian, Ma. Tapi, kalau untuk liontin kuncinya ini, ini sudah sejak lama menjadi milik Amaya sendiri.”“Iya, maksudku liontin ini. Dari mana kamu bisa memilikinya sejak lama?” cecar Paulina lagi, semakin menuntut kejelasan.“Liontin ini dulu ibu panti asuhan tempatku dibesarkan yang menemukannya tersemat di baju bayiku saat aku pertama kali ditinggalkan di sana dulu, Ma,” jawab Amaya jujur tanpa menaruh prasangka apa pun.Paulina merasakan tenggorokannya mendadak sangat kering. “Nama belakangmu be
더 보기