“Kangen?” Satria tersenyum tipis. “Aku di sini aja.” Jawaban Satria pelan. Tangannya masih di pipi Sheza ketika wanita itu mengerjap pelan.Sheza tersenyum tipis. “Kayaknya Nay ngantuk banget tadi .…” Ia pelan-pelan hendak bangkit, tapi Satria sudah lebih dulu menopang bahunya.“Pelan,” katanya rendah.Satria membetulkan posisi Nayla lebih dulu—menarik selimut kecil ke atas tubuh putrinya, menyibakkan rambut yang menutup wajahnya. Setelah itu barulah ia menarik Sheza mendekat ke dadanya. Sheza bersandar, napasnya masih sedikit berat. “Itu kamar Nayla udah diberesin?” tanyanya pelan.“Udah,” jawab Satria. “Tadi Tuti yang bantuin. Kamu juga sempat lihat kan?” Sheza mengangguk. “Aku baru tau itu kamar Nayla. Lengkap banget. Lemarinya, mejanya, rak bukunya … Dia pasti betah.”Satria tersenyum tipis. “Memang aku bikin supaya dia betah di sini.”Sheza menoleh, menatapnya.Satria melanjutkan lebih pelan, “Aku pengin rumah ini jadi rumah yang hangat. Buat setiap anak.”Sheza mengulang pelan
Last Updated : 2026-02-19 Read more