Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, ya. Biar bisa ngobrol sama Nayla,” kata Sheza.Satria mengangguk lalu membukakan pintu mobil dan memastikan dua wanita yang sekarang menjadi terpenting dalam hidupnya.Ia membawa mobil menuju kediaman Kertasoedibyo. Sudah sore dan waktunya Nayla kembali tiba di rumah. Sesekali ia melirik spion tengah untuk melihat interaksi Sheza dan Nayla yang kebanyakan masih bercerita tentang hasil USG bagi tadi.“Tadi itu dia gerak, kan?” bisiknya, seperti takut bayi di dalam perut ikut mendengar.Sheza tersenyum. “Gerak.”“Ukuran aslinya segimana, Bun? Belum besar ya?”“Belum,” sahut Sheza. “Masih segini mungkin.” Sheza membuat ukuran kecil dengan jarinya.“Sayang Dio nggak ikut. Aku kepengin tau reaksi
続きを読む