Tangis Sheza berhenti pelan, seperti hujan yang akhirnya menemukan tempat jatuhnya. Tidak langsung kering, tapi tidak lagi pecah. Dadanya masih naik turun, namun napasnya mulai tertata. Ia mengangkat wajahnya. Tatapan Sheza bertemu dengan Satria. Matanya sendu, merah, lelah, tapi tidak kosong. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang baru saja ia dengar dan belum sepenuhnya ia pahami, tapi tubuhnya mengenalinya lebih dulu. Satria tidak berkata apa-apa. Tangannya naik, merapikan rambut Sheza yang menempel di pipi dan keningnya. Gerakannya lambat dan berhati-hati. “Zee,” panggilnya pelan. Sheza menelan ludah. “Hm?” “Kamu ngerasa apa sekarang?” tanya Satria. Bukan nada interogasi. Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan keadaan orang yang ingin ia jaga. “Di badan kamu.” Sheza diam sejenak, benar-benar mendengarkan tubuhnya sendiri. “Siang tadi cuma agak pusing,” ucapnya pelan. Ia belum siap menyebutkan semuanya dengan kata-kata. “Kamu mual,” kata Satria. Itu bukan per
Last Updated : 2026-02-05 Read more